Berkedok Jasa Laundry, Edarkan Pil Koplo

490
GELAR PERKARA : Wakapolsek AKP Pujo Irianto menunjukkan dua tersangka pengedar pil koplo dan barang bukti dalam gelar perkara di Mapolsek Tembalang, Rabu (3/12) kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 GELAR PERKARA : Wakapolsek AKP Pujo Irianto menunjukkan dua tersangka pengedar pil koplo dan barang bukti dalam gelar perkara di Mapolsek Tembalang, Rabu (3/12) kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

GELAR PERKARA : Wakapolsek AKP Pujo Irianto menunjukkan dua tersangka pengedar pil koplo dan barang bukti dalam gelar perkara di Mapolsek Tembalang, Rabu (3/12) kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TEMBALANG – Berkedok jasa laundry, dua pengedar pil koplo digerebek aparat Polsek Tembalang. Adalah Boedi Ariyanto, 37, warga Jalan Rogojembangan Timur RT 03 RW 05, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, dan kakak iparnya, Supeni, 44, warga Kampung Rogojembangan RT 04 RW 05, Kelurahan Tandang, Tembalang.

Polsek tembalang meringkus tersangka di rumah masing-masing, Sabtu (29/11) lalu. Setelah mendapatkan informasi dari warga, tentang adanya penjualan obat golongan G tanpa izin.

”Sebelumnya, kami melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Ketika sudah ada bukti bahwa mereka mengedarkan obat tanpa izin atau tanpa resep dokter, kami langsung menangkap,” kata Kapolsek Tembalang, AKP Priyo Utomo, melalui Wakapolsek, AKP Pujo Irianto, dalam gelar perkara di Mapolsek Tembalang, Rabu (3/12) kemarin.

Dari tangan tersangka ditemukan sebanyak 1.913 obat jenis eximer atau merci warna kuning, 900 butir obat jenis double L warna putih dalam kemasan plastik, serta uang tunai hasil penjualan senilai Rp 1.164.000, dan tiga paket plastik kecil untuk mengemas. Semuanya disita dijadikan barang bukti.

Pelaku mendapatkan obat golongan G jenis eximer atau merci dan double L dari seseorang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Pil haram yang dibeli dalam partai besar tersebut kemudian diecer menjadi 10 butir per kemasan plastik ziplok. Mencoba bermain aman, kedua tersangka mengedarkannya dengan kedok usaha laundry di tempat Supeni. Dalam sehari, mereka mampu menjual sekitar 20 paket.

”Belinya Rp 600 ribu per 1000 butir. Jualnya langsung ke pembeli. Sebelumnya pesan dulu lewat telepon atau SMS. Rata-rata pembelinya pengamen dan kuli bangunan. Untungnya Rp 7 ribu per kemasan,” ujar Boedi yang sudah enam bulan terakhir menjalankan praktik tersebut bersama Supeni.

Boedi mengaku, usahanya menjual obat golongan G tanpa izin tersebut lantaran tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia juga mengaku pernah menggunakan obat yang dijualnya tersebut. ”Pernah sekali pakai, efeknya ngantuk. Tapi kalau kepada pembeli, saya bilang obat ini untuk dopping kerja,” ungkap ayah dua anak ini.

Atas perbuatannya, kedua tersangka harus mendekam di sel tahanan Mapolsek Tembalang guna menunggu proses hukum selanjutnya. Keduanya dijerat dengan pasal 196 dan pasal 197 UU RI nomor 36 tahun 2009 dengan ancaman sepuluh tahun penjara serta denda satu miliar rupiah. (mg16/ida/ce1)