Harga Rumah Mulai Naik

319

SEMARANG – Harga rumah mulai terkena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Diprediksi, kenaikan harga rumah akan berada di kisaran 8-10 persen dari harga sebelumnya.

“Harga material bangunan terus melonjak seiring dengan tingginya biaya transportasi. Saat ini kenaikan harga bangunan berada di kisaran 5 persen. Hal ini tentu memengaruhi harga rumah,” ujar Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng, MR Priyanto, kemarin.

Dengan kenaikan bahan-bahan bangunan tersebut, menurutnya wajar jika para pengembang properti terus melakukan kalkulasi harga rumah. “BBM subsidi naik, harga bahan bangunan naik. Tentu saja biaya produksi rumah jadi meningkat, dan pastinya harga rumah akan segera naik,” kata Priyanto.

Namun demikian, kenaikan harga hanya akan berlaku di tingkatan pengembang rumah menengah, dan menengah atas. Sedangkan khusus harga rumah asilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sampai sejauh ini masih tetap sama sesuai aturan pemerintah. Untuk rumah FLPP bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) masih tetap sama dan programnya juga masih terus berlanjut di tahun 2015.

Ditambahkan, dari hasil Rakernas REI di Jakarta pekan lalu, pemerintah melalui Kementrian Perumahan Rakyat menjanjikan aturan FLPP di tahun 2015 tetap berlanjut untuk rumah tapak. “Sebelumnya direncanakan per 1 April 2015, subsidi untuk tumah tapak akan dicabut, dan dialihkan khusus ke rumah susun. Oleh menteri yang baru, peraturan ini dicabut alias tidak jadi,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini memberikan angin segar bagi masyarakat serta pengembang. Sebab, menurutnya sejauh ini kebutuhan akan rumah susun baru sebatas di kota-kota besar, sedangkan untuk daerah masih membutuhkan rumah tapak. “Rumah susun yang di tengah kota harganya sekitar Rp 200 juta. Sedangkan rumah tapak di daerah hanya Rp 105 juta. Terpautnya jauh, kalau diterapkan di daerah, jadinya malah tidak tepat sasaran. Beda halnya di kota-kota besar yang sudah kesulitan lahan,” tandasnya. (dna/smu)