Harga Pakan Meroket, Peternak Meradang

683
HARGA STABIL: Salah seorang peternak ayam petelur mengeluhkan tingginya harga pakan, kondisi tersebut tidak sebanding dengan harga telur yang masih stabil. (Munir Abdillah/Radar Semarang)
HARGA STABIL: Salah seorang peternak ayam petelur mengeluhkan tingginya harga pakan, kondisi tersebut tidak sebanding dengan harga telur yang masih stabil. (Munir Abdillah/Radar Semarang)
HARGA STABIL: Salah seorang peternak ayam petelur mengeluhkan tingginya harga pakan, kondisi tersebut tidak sebanding dengan harga telur yang masih stabil. (Munir Abdillah/Radar Semarang)

SALATIGA–Naiknya harga pakan ternak jenis bekatul dari Rp 2.500 menjadi Rp 3.400, membuat peternak ayam petelur meradang. Hal ini disebabkan harga telur stabil pada kisaran Rp 16.000, kemarin (5/12).
Hal ini diungkapkan oleh peternak ayam petelur ghoni, 43, Tingkir Tengah. Menurutnya, dengan harga telur yang masih stabil, sedangkan harga pakan mulai merangkak naik, tentu membebani petani. Apalagi semua barang dari bahan pokok sampai transportasi naik seakan tidak imbang antara pemasukan dan pengeluaran. “Telur itu kalau naik pas mau Lebaran saja, harganya bisa mencapai angka dua puluh ribu rupiah. Selain itu stabil. Saya yang jualan telur di rumah, juga tidak bisa menaikkan semena-mena, takut pelaggan pada lari,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wartini, 36, warga warga RW 03 Isep-Isep, peternak telur rumahan ini, mengatakan masa pakan ternak naik, peternak memang dituntut sabar. Peternak harus pintar juga mencari penghasilan lain, meskipun setiap hari ayamnya sudah menghasilkan. “Memang bagi peternak ini hari-hari yang menyedihkan. Kuncinya kalau masa peralihan harga begini, siapa yang bertahan, kemungkinan besar berhasil,” tutur wanita yang memiliki 200 ayam petelur tersebut.

Dalam pantauan Radar Semarang di Pasar Blauran Salatiga, mendapati harga bekatul di beberapa penjual yang beragam. Harga eceran mencapai kisaran Rp 3.500 sampai Rp 4.000. Alasan dari beberapa pedagang, biaya transportasi dari pengambilan bekatul di penggilingan Karanggede ke Salatiga sudah menyita uang yang lebih besar dari biasanya.

Menurut pengurus paguyuban pedagang pakan ternak, Suwito, 56, jika sebenarnya pihaknya sudah sering bermusyarah dengan pedagang. Tapi karena harga dari tengkulak juga beragam, maka untuk mengontrol harga agak susah. “Memang hampir semua harga pakan ternak dari jagung, ketan, bekatul dan lain-lain naik seribu rupiah. Tapi namanya pasar tidak mungkin bisa mengontrol harga. Ya, karena dari awal pembelian sudah berbeda,” tandasnya. (mg14/zal)