Kunjungi Kastil Osaka dan Minum Teh Jepang

661
BANGGA : Tiga siswa SMK 1 Kendal, Rostya Septiana Putri, Alvian Nurkhalisa dan Oktfia Kusuma Sari berfoto bersama Kepala SMKN 1 Kendal Suroyo. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
 BANGGA : Tiga siswa SMK 1 Kendal, Rostya Septiana Putri, Alvian Nurkhalisa dan Oktfia Kusuma Sari berfoto bersama Kepala SMKN 1 Kendal Suroyo. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

BANGGA : Tiga siswa SMK 1 Kendal, Rostya Septiana Putri, Alvian Nurkhalisa dan Oktfia Kusuma Sari berfoto bersama Kepala SMKN 1 Kendal Suroyo. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

Berawal dari coba-coba membuat film pendek, membawa terbang tiga siswa SMK 1 Kendal berangkat ke Jepang, sesuai mimpi mereka. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Kendal

KETIGA siswa ini tidak menyangka sebelumnya jika hasil karya film pendek berjudul ‘Mimpi ke Jepang’ akan benar-benar membawa mereka ke negeri Sakura. Ketiga siswa yang beruntung itu adalah Rostya Septiana Putri, Alvian Nurkhalisa dan Oktfia Kususma Sari.

Tidak hanya sekedar terbang ke Jepang, ketiganya bahkan diajak berkeliling mengunjungi tempat-tempat bersejarah di negeri Matahari Terbit itu. Salah satunya Kota Osaka. Di kota tersebut ketianya diajak mengunjung Kastil Ozaka. Yakni sebauah istana tua asli yag dibangun pada zaman Azhuchi Momoyama yang didirikan sejak tahun 1609 silam.

Selain itu ketiganya juga diajak bertukar pengalaman pembelajaran di SMA Tsuna milik Prefektur Hyogo. Ketiganya juga mengunjungi kota-kota lain seperti Pulau Awaji, Kota Minmai Awagi, Selat Naruto, tepatnya di ujung timur Pulau Shikoku dan belasan kota lainnya. “Total ada 11 tempat yang kami kunjungi selama tiga hari, mulai 25-28 hari,” ujar Alvian Nurkhalisa, Jumat (5/12).

Ketiganya berangkat bersama Kementerian Komunikasi dan Informasi bersama enam siswa lain dari SMA Gandhi Ancol dan SMA Santo Lucas 1 Jakarta. Yakni para pemenang progam Asian International Children’s Festival 2014 yang digelar oleh Jenesys. Di Indonesia, festival tersebut diselenggarakan kedutaan besar Jepang di Indonesia dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi. “Jadi disana, tidak hanya dari Indoensia saja, tapi dari seluruh siswa perwakilan dari negara-negara se Asia Pasifik. Jadi ini adalah hadiah bagi para pemenang lomba festival film anak dengan mengangkat tema ‘My Dream’ diambil tiga besar dan diberangkatkan ke Jepang,” jelas Alvian.

Pengalaman menarik, selama di negeri Samurai, kata Oktfia Kususma Sari, yakni di Jepang hampir tidak ada polusi. Baik polusi udara, air maupun suara. Jadi udara disana sama sekali tidak tercemar asap, bahkan di saluran-saluran air di kota membentuk taman dan airnya bersih. “Selain itu di Jepang terkenal displin, jadi ketika jam sekian harus kumpul ya kumpul. Jadi tidak ada satupun alasan untuk datang terlambat. Kami juga diajari ritual chato atau tradisi minum teh tradisional khas Jepang,” katanya.

Rostya Septiana Putri, mengungkapkan film tersebut berjudul ‘Mimpi ke Jepang’ yang merupakan film kali kedua yang pernah ia garap. Ia mengaku berlajar tentang membuat film hanya secara otodidak saja. “Kami semua justru siswa akuntansi, bukan broadcasting,” tuturnya.

Meski berhasil menang festival, Rostya mengaku justru tidak ingin jadi artis ataupun sutradara. “Ini hanya sekedar hobi saja, tidak sepenuhnya kami geluti. Makanya saat tahu berangkat ke Jepang itu antara percaya dan tidak percaya,” imbuhnya. (*/ric)