Tekuni Rias Pengantin

935
ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG
ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG
ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG

MERIAS bagi Anggi Pramesthi Kusumarasri tak sekadar hobi. Gadis yang lulus cumlaude di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini bahkan sekarang memilih menekuni dunia rias pengantin secara serius.

Menurut dara 23 tahun ini, merias adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan, sekaligus menghasilkan uang. Tak heran, hingga saat ini ia memilih mengembangkan kemampuannya dalam bidang merias pengantin. ”Saat ini saya masih belajar make up pengantin. Paling sulit adalah make up pengantin adat Jawa,” kata Anggi kepada Radar Semarang.

Menurutnya, make up pengantin adat Jawa memuat berbagai macam unsur pakem yang tidak boleh asal jadi. Ada ketentuan-ketentuan khusus yang mengandung nilai-nilai filosofis. ”Tidak boleh asal-asalan, tapi itu justru menjadi tantangan bagi saya untuk lebih hati-hati dengan terus belajar lebih detail,” papar gadis kelahiran Karanganyar, 9 Januari ini.

Make up pengantin adat Jawa, lanjut Anggi, ada ketentuan-ketentuan pakem. Mulai dari jenis Solo Putri, Solo Basahan, Jogja Putri hingga Paes Ageng.

”Sangat rumit. Belajar rias pengantin Jawa itu harus ada gurunya. Tidak bisa melakukan improvisasi sendiri tanpa mengetahui pakemnya. Berbeda dengan rias pengantin modern, masih bisa otodidak,” katanya.

Dia mengaku, belajar ilmu tata rias sejak Januari 2013 silam di tempat kursus sanggar rias Iwoel, Sompok, Semarang. ”Saya belajar dari nol dari situ. Saya kemudian mengetahui bagaimana merias pengantin adat dengan baik, lengkap sesuai dengan aturan pakem,” ujarnya.

Anggi mengaku kelak ingin menjadi perias profesional. Hingga saat ini, ia terus mengembangkan bakat rias tersebut dengan terlibat merias di berbagai macam job. Seperti baru-baru ini, ia mengaku sangat berkesan saat merias tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Undip mengikuti lomba tingkat nasional.
”Saat itu, dari jumlah personel PSM Undip 20 orang, 12 orang di antaranya saya yang merias. Semuanya cewek,” kata gadis yang juga bekerja sebagai customer service (CS) Bank Bukopin ini. (mg5/aro/ce1)