Pernah Dimarahi Warga hingga Diteriaki Maling

494
PERCANTIK WAJAH KOTA: Komunitas orat-oret tembok, Bring No Clan, saat melukis mural di Jalan Gajah Mada Kota Semarang, kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
 PERCANTIK WAJAH KOTA: Komunitas orat-oret tembok, Bring No Clan, saat melukis mural di Jalan Gajah Mada Kota Semarang, kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

PERCANTIK WAJAH KOTA: Komunitas orat-oret tembok, Bring No Clan, saat melukis mural di Jalan Gajah Mada Kota Semarang, kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

Menyalurkan kreativitas seni, memang mengasyikkan. Namun, bukan berarti tak ada kendala atau pengalaman pahit. Sebagaimana yang dialami komunitas kaum muda Kota Semarang yang tergabung dalam wadah Bring No Clan Semarang. Yakni komunitas, seni orat-oret tembok di jalanan. Seperti apa?

M. HARIYANTO

SENI mural banyak bertebaran di pagar tembok maupun bangunan yang tepat di pinggir jalan di Kota Semarang. Tembok yang biasanya kusam dengan kata-kata kotor, menjadi lebih indah dan enak dipandang dengan pulasan gambar yang banyak ragam dan tema. Itulah bagian dari karya seni para anggota komunitas mural jalanan.

Di Kota Semarang sendiri, ada banyak kumpulan anak muda pelaku seni orat-oret ini. Ada yang namanya Sutirah Crew, TNSC Crew dan Fteeyouth Crew. ”Kalau nama komunitas, sangat banyak. Biasanya kami melakukan kegiatan gabungan. Hari ini ada Sutirah Crew, TNSC Crew dan Fteeyouth Crew. Kalau komunitas yang senior, ada lagi. Namanya 12 PM. Memang kalau kita mengadakan acara seperti ini tidak terbatas, siapa mau ikut, ya OK. Silakan saja,” ungkap pelaku seni dari Sutirah Crew, Laode Ido kepada Radar Semarang, Minggu, (7/12) kemarin.

Satu komunitas lagi adalah Bring No Clan. Komunitas ini terbentuk sejak tahun 2012 lalu, dengan jumlah anggota 40 orang yang meliputi pelajar SMA, mahasiswa dan umum. Komunitas ini terbentuk, berawal dari sebuah tongkrongan di warung nasi kucing Tugu Muda Semarang samping bangunan gedung tua Lawang Sewu.

”Teman-teman suka nongkrong di warung nasi kucing. Tempatnya asyik, murah dan tidak mahal. Memang tadinya hanya segelintir orang saja, namun akhirnya temen-temen dari crew lain saling kumpul dan menamakan Bring No Clan sebagai wadahnya,” ujar Ido, mahasiswa semester tiga Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Sultan Agung (Untag) ini.

Lantaran terbentuk di warung nasi kucing, mereka juga asyik-asyik saja melakukan gathering rapat di tempat yang sama. Dalam gathering tersebut, membahas rencana kegiatan menentukan lokasi atau objek orat-oret serta hari pelaksanaannya.
”Teman-teman memang lebih suka melakukan rapat di warung nasi kucing. Setiap dua minggu sekali kami melakukan rapat. Alasannya ya itu tadi, tempatnya murah, praktis dan terjangkau. Mau nambah makan dan minum tinggal teriak, beres,” canda Ido.

Sebelum melakukan kegiatan orat-oret, tuturnya, selalu dilakukan survei tempat terlebih dahulu. Ini penting dilakukan, lantaran saat pelaksanaan seni mural sangat rawan terjadi masalah baru. Di antaranya, kerap diprotes warga, pemilik bangunan serta aparat pemerintah yang menilai kegiatan orat-oret hanya memperburuk wajah kota. ”Meski demikian, kami tidak akan memaksa jika ada penolakan atau protes warga,” tandasnya.

Dalam melakukan kegiatan seni mural, diakuinya, tidak asal dapat tembok kosong terus dicat. Tapi belajar dari pengalaman masa lalu pada awal tahun 2012, sewaktu di Kauman, pernah diancam dan dilarang warga. ”Jangan gambar di sini, awas kalau gambar di sini lagi. Selain itu, pernah dikejar-kejar warga sambil diteriaki maling, waktu di Jangli. Beruntung kami bertiga tidak tertangkap. Kalau ketangkap bisa dihajar massa,” kenangnya.

Kendati begitu, tak membuat kaum muda ini menghentikan aktivitasnya. Tapi semakin tertantang. Bahkan tidak hanya dalam Kota Semarang yang dipedulikan. Di wilayah Jateng lainnya juga tak luput dari perhatiannya. Di antaranya, Kota Solo, Jogjakarta, Ambarawa, Salatiga hingga Kudus. Sedangkan hasil karya mural di dalam Kota Semarang, di antaranya di TBRS, tembok samping bangunan tua Lawang Sewu dan tempat lainnya. Tujuan orat-oret ini untuk memperindah pamandangan kota. ”Kini kami melakukan di Jalan Gajah Mada Kota Semarang. Kegiatan awal, membersihkan tembok yang terbengkalai dan kotor dulu baru digambar,” katanya.

Selain belajar, para pelaku seni juga harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli peralatan melukis seperti kuas, cat, ember, pilox. Bahkan, setiap orang bisa mengeluarkan uang ratusan ribu demi kepuasan menyalurkan seni mural ini.
”Setiap orang bisa habis Rp 100-200 ribu untuk membeli perlengkapan. Bayangkan saja, kalau setiap orang membeli cat dan pilox, sudah puluhan ribu rupiah. Itu pun tidak hanya satu warna, tapi kadang tiga warna yang cerah. Meski begitu, para seniman memiliki kepuasan tersendiri, karena hasilnya bisa dilihat orang banyak,” tuturnya.

Sedangkan kegiatan lain komunitas ini, imbuhnya, melakukan bakti sosial kepada anak yatim piatu. ”Kegiatan kami tidak hanya orat-oret tembok saja, tapi dalam waktu dekat akan menyumbangkan makanan dan buku kepada anak panti asuhan. Selain kami berkarya lewat seni, kami juga akan melakukan kegiatan positif lainnya,” pungkas anak asli Pucanggading Kota Semarang ini. (*/ida/ce1)