Tanah Terus Menurun, Guru Buat Pompa Air Sendiri

309
KERJA BAKTI: Sejumlah siswa dan guru melakukan kerja bakti membersihkan ruangan kelas dari genangan air. (FOTO: DOK PRIBADI)
 KERJA BAKTI: Sejumlah siswa dan guru melakukan kerja bakti membersihkan ruangan kelas dari genangan air. (FOTO: DOK PRIBADI)

KERJA BAKTI: Sejumlah siswa dan guru melakukan kerja bakti membersihkan ruangan kelas dari genangan air. (FOTO: DOK PRIBADI)

Musim penghujan sudah tiba. Bencana banjir kembali mengancam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir mengancam gedung-gedung sekolah. Lantas bagaimana persiapan sekolah-sekolah langganan banjir menghadapi musim penghujan?

MEMASUKI musim penghujan, berbagai upaya telah dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Tidak hanya oleh warga masyarakat, tetapi sekolah-sekolah yang sebelumnya menjadi langganan banjir. Salah satunya adalah SDN Bandarharjo 2 yang berlokasi di Jalan Lodan Raya Nomor 1 Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang.

Untuk menuju sekolah tersebut, tidak dapat ditempuh dengan mudah. Harus menyusuri bantaran sungai terlebih dahulu dan rajin bertanya kepada warga sekitar. Beruntung cuaca saat itu sedang cerah meski masih ada genangan-genangan air kecil di kanan dan kiri jalan.

Setiba di lokasi, tampak sebagian anak melakukan kegiatan olahraga di halaman sekolah. Sementara sebagian lain melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing. Sekilas memang terlihat seperti hal yang wajar, tetapi jika diperhatikan lebih lanjut ternyata banyak kejanggalan. Ruang kelas yang hanya terbatas beberapa lokal, dan lantai yang lebih rendah dari halaman sekolah.

”Inilah sekolah kami. Dari tahun ke tahun tanahnya selalu mengalami penurunan. Tercatat saat ini lebih rendah 7 cm dari permukaan. Maklum saja dulunya di sini memang laut,” ungkap Karyono, Kepala Sekolah setempat menyambut Radar Semarang.

Diceritakan dia, dulu gedung kelas dan jalan masih sama tingginya. Lantaran sering terjadi banjir, tanahnya mengalami penurunan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi. Termasuk meninggikan jalan dan melakukan pengerukan sungai. Namun upaya tersebut tidak dibarengi dengan meninggikan gedung sekolah. ”Makanya terlihat aneh. Biasanya sekolah-sekolah lain lebih tinggi dari jalan, di sini justru sebaliknya,” ungkapnya.

Meski begitu, lanjut Karyono, mereka tidak patah semangat. Meski tidak diperkenankan menggunakan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk perbaikan, namun para pengajar mempunyai terobosan dengan membuat pompa akuarium sendiri yang digunakan untuk menyedot air ketika terjadi banjir. ”Selain itu, kami sengaja membuat tatakan sendiri untuk meletakkan berkas-berkas agar tidak basah. Saya kira tatakan itu hanya ada di sini,” klaimnya.

Karyono menilai, salah satu penyebab terjadinya banjir di kawasan tersebut adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk tertib membuang sampah. Sehingga pemerintah melalui dinas ESDM harus berkali-kali melakukan pengerukan. Hanya saja, ia sedikit mengeluhkan pengerukan itu kemudian dibuang di samping sekolah. Ini membahayakan bangunan sekolah. ”Beruntung saat ini ada pihak PGN yang mau membantu membuatkan ruang kelas dua lantai secara permanen. Dalam waktu dekat akan segera selesai,” imbuhnya.

Karyono mengaku selama menjabat sebagai kepala sekolah sejak 2012, kejadian terparah yang pernah dialami adalah pada tahun 2013. Saat itu, genangan air telah masuk ruang kelas dan ruang guru. Akibatnya banyak buku-buku yang terendam. ”Waktu itu, dari Dinas Pendidikan menganjurkan untuk meliburkan siswa, namun tidak kami lakukan karena eman ketika harus tertinggal pelajaran. Meski begitu, biasanya kami pulangkan pukul 10.00,” terangnya.

Ditambahkan, setelah itu kejadian yang sama tidak pernah terulang lagi. Meski sebelum ia menjadi kepala sekolah, lokasi tersebut merupakan langganan banjir. Hal ini dibuktikan dengan adanya dokumentasi dan saksi nyata dari anak-anak dan para guru. ”Berbagai upaya telah kami lakukan di antaranya memberikan pelatihan menghadapi bencana bekerja sama dengan salah satu media televisi swasta nasional,” imbuhnya.

Karyono mengklaim, meski kerap menjadi langganan banjir, tidak mengurangi minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Bahkan ketika gedung baru yang sedang dibangun itu telah jadi, ia berniat menambah dua kelas dari kuota siswa yang ada. ”Saat ini, jumlah siswa mencapai 285 dengan 9 rombongan belajar. Adapun gurunya sebanyak 16 orang,” jelas pria yang sebelumnya menjadi guru di SD Pekunden ini.

Karyono berharap pemerintah menunjukkan kepedulian dengan terus melakukan perbaikan secara bertahap dan berkelanjutan. Menurutnya, akses pendidikan merupakan kebutuhan. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan sosialisasi dan mengantipasi terjadinya banjir. ”Nantinya akan tercipta lingkungan yang bersih dan ramah lingkungan,” pungkasnya.

Beni Murdani, salah satu siswa kelas VI mengaku merasa terganggu akibat sering terjadi banjir. Selain banyak nyamuk, terkadang akses untuk berangkat ke sekolah juga susah. ”Waktu kelas III, saya pernah digendong orang tua untuk berangkat sekolah,” terangnya.

Hal yang tak jauh beda diungkapkan Aurel Dea Tata. Ia bahkan pernah terpeleset saat berangkat les ke sekolah. Sehingga pakaian dan buku-bukunya basah semua. ”Waktu air mulai masuk kelas, biasanya kami ngepel bareng-bareng. Hal yang sama juga dilakukan ketika waktu istirahat,” ungkapnya polos.

Sementara itu, Tutik Wahyuni, salah satu guru setempat mengaku sangat kesulitan mengajar ketika terjadi banjir. Sebab proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal. Padahal kelas yang ia ajar adalah kelas VI yang dituntut mendapat hasil yang bagus. ”Tidak hanya itu, ketika terjadi banjir akses menuju sekolah juga susah. Jika sebelumnya dapat ditempuh dalam 20 menit menjadi satu jam karena harus putar arah. Semoga ke depan, hal itu tidak pernah terjadi lagi,” harapnya. (fai/ida/ce1)