Tiga Kali Ditinggikan, Tetap Kebanjiran

320

BANGUNAN halaman dan gedung sekolahan di SD Muktiharjo Lor memang terlihat megah dan kokoh. Namun bangunan yang sudah berumur puluhan tahun itu, kerap tergenang banjir setiap tahunnya. Bahkan, sekolah tua itu sudah dilakukan peninggian tiga kali, baik pada halaman, lantai serta tembok bangunan. Namun, para guru dan murid masih tetap mengkhawatirkan terjadi banjir lagi.

SD Inpres ini didirikan tahun 1962. Pada tahun 2014 ini, memiliki murid dengan jumlah total 518 siswa, guru dan karyawan 29 orang. Bangunan SD tua ini memiliki tiga blok bangunan terpisah. Satu blok untuk kelas 1-3 dengan 5 ruang. Sedangkan satu blok lagi kelas 4-6, dan blok lainnya kelas kantor dan ruang guru.

Meskipun, kerap tergenang banjir pada saat musim penghujan dengan intensitas yang tinggi, pihak sekolah telah meninggikan halaman dan lantai ruangan pembelajaran. Peninggian bangunan ini dilakukan sudah tiga kali sejak berdiri pada tahun 1962. Peninggian halaman ini dilakukan pada tahun 1989, sedangkan pada terakhir peninggian halaman sekolah, ruang kelas dan tembok yang mencapai 1 meter pada tahun 2012.

”Memang dari dulu setiap tahunnya sering kebanjiran di saat musim penghujan. Namun sejak tahun 1989 sudah mulai ditinggikan 60 sentimeter mulai dari halaman sampai ke dalam ruangan. Ini karena airnya tidak hanya di halaman, sudah masuk ke dalam ruang pembelajaran siswa setinggi mencapai 60 sentimeter,” ungkap Kepala Sekolah, Eni Dwi Astuti melalui Bendahara Keuangan, Eni Setyowati kepada Radar Semarang, kemarin.

Meski halaman sekolah, ruang kelas dan kantor telah ditinggikan berkali-kali, belum juga bisa menghilangkan kekhawatiran terjadinya banjir lagi. Pasalnya, peninggian terakhir pada tahun 2012, justru memperparah bencana banjir menggenangi sekolah. Lantaran adanya pembangunan rel ganda yang dibangun pada tahun 2012.

”Dulunya ini rowo dan kolam retensi. Terus dibangun rel ganda pada tahun 2012. Padahal tahun 2010-2012 sudah ditinggikan dan tidak ada banjir. Namun setelah ada rel ganda, pembuangan tidak lancar. Air dari daerah Telogosari menuju ke Kaligawe, hanya putar dari jalan raya kesini. Diperparah aliran Kali Tenggang yang tidak lancar. Sehingga kalau musim penghujan antara Januari-Maret pasti terjadi banjir sepanjang Jalan Raya Muktiharjo,” katanya.

Meski demikian, katanya, untuk mengantisipasi kebanjiran pada saat musim hujan, pihak sekolah kini meninggikan bangunan yang saling terpisah. Hanya saja dari tiga bangunan itu, hanya dua blok bangunan yang sudah ditinggikan yakni kelas 4, 5 dan 6 sama kantor guru. Sedangkan satu blok bangunan yakni ruang kelas 1a dan 1b, kelas 2a dan 2b, dan kelas 3 belum ditinggikan, lantaran keterbatasan anggaran.

”Bagaimanapun juga, untuk meninggikan sekolah, kalau tidak ada bantuan dari pemerintah, ya tidak bisa membangun. Selama pemerintah tidak memberi, kami tidak bisa membangun apa-apa. Apalagi wali murid di sekolah ini, ekonominya terbilang menengah ke bawah. Sebagian besar hanya kaum buruh,” katanya.

Menurutnya, hal yang paling merepotkan untuk mengantisipasi saat musim banjir, adalah memindahkan berkas dan arsip ke dalam lemari yang lebih tinggi agar tidak rusak. Apalagi pihaknya tidak memiliki pompa air penyedot untuk menguras genangan air. ”Kalaupun beli mesim pompa penyedot juga percuma, sebab lingkungan sekitar juga tergenang air. Kalau air dibuang keluar, tentunya balik lagi,” paparnya.

Banjir yang kerap menggenangi tempat pembelajaran siswa di Muktiharjo kerap mencapai 50 sentimeter. Kalau banjir sudah sampai masuk ke dalam ruang kelas, pembelajaran siswa bisa tetap dilaksanakan, tapi tidak nyaman. ”Kalau kami melihat kondisi siswa sudah basah kuyup, biasanya kami pulangkan lebih cepat juga. Khawatirnya malah siswa jadi sakit,” paparnya.

Karena banjir selalu menjadi kendala dalam pembelajaran siswa saat musim penghujan, pihaknya berharap kepada Pemkot Semarang untuk memberikan bantuan peninggian bangunan lantai pada ruang kelas. Selain itu, masih ada atap ruang kelas yang lapuk termakan usia.

”Masih ada 5 ruang kelas yang perlu ditinggikan. Selain itu, atap yang lapuk di sebagian besar ruangan belum diganti. Dulunya kami rehab tambal sulam saja. Hanya fokus meninggikan bangunan, tidak mengecek atap bangunan dan genting,” keluhnya.

Sementara itu, salah seorang guru olahraga yang juga seksi pembangunan, Zuhri mengakui tiap kali musim hujan datang, kerap merepotkan. ”Kami harus bekerja bakti membersihkan lingkungan dalam kelas, ngepel, nguras dan membersihkan lainnya. Jadi berangkat sekolah lepas sepatu dan jalan kaki. Sebab motor tidak mungkin bisa jalan,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)