Tugu Sidandang Jadi Tempat Mesum

955
TAK TERURUS Kondisi Tugu Sidandang yang tidak terurus kerap digunakan untuk aktivitas negatif. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
 TAK TERURUS  Kondisi Tugu Sidandang yang tidak terurus kerap digunakan untuk aktivitas negatif. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

TAK TERURUS Kondisi Tugu Sidandang yang tidak terurus kerap digunakan untuk aktivitas negatif. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

MIJEN – Kondisi Tugu Sidandang memprihatinkan, banyak ditumbuhi semak belukar. Menurut penuturan beberapa warga, tempat itu kerap digunakan sebagai lahan mesum bagi para pemuda-pemudi dan aksi-aksi vandalisme dengan mencorat-coret yang merusak keindahan tugu.

Andri Maryanto, salah satu warga kelurahan tersebut mengatakan selain digunakan sebagai tempat mesum, tugu yang dibangun oleh Wali Kota Semarang Sutrisno Suharto pada tahun 1996 tersebut kerap digunakan sebagai tempat pesta miras (minuman keras). ”Kalu siang seringkali digunakan lokasi membolos anak sekolah,” ujar Andri, Minggu (7/12). Meski warga sekitar kerap memergoki dan menegur adanya aktivitas tersebut, namun hal tidak dihiraukan oleh pelaku mesum.

Selain Tugu, di area tersebut juga terdapat arena panggung terbuka. Tugu yang memiliki bentuk seperti dandang atau tempat memasak nasi zaman dahulu, namanya diambil dari nama mata air Sidandang yang mengalir tak jauh dari lokasi tugu. Mata air itu selalu mengaliri sawah-sawah milik warga Purwosari.

Pantauan Radar Semarang pada Minggu (7/12), terdapat beberapa pasang muda-mudi tengah asik memadu kasih. Meski banyak kendaraan yang lalu-lalang, hal tersebut tidak mereka hiraukan.

Salah satu remaja ketika ditanya kenapa memilih tempat tersebut sebagai tempat pacaran, karena lokasinya jauh dari permukiman warga dan banyaknya semak belukar yang mengelilinginya sehingga sangat potensial untuk memadu kasih.
Selain itu, ia mengaku baru kali pertama datang ke Tugu Sidandang. ”Baru kali ini datang ke sini Mas. Itu pun tahu dari teman-teman,” ujar salah satu remaja yang asyik bercengkerama dengan teman lawan jenisnya di tugu yang memiliki tinggi sekitar 15 meter itu.

Fahrudin, warga sekitar, kerap memergoki siswa sekolah tengah asyik minum miras di tempat itu. ”Setiap pagi, saya selalu mencari rumput buat pakan ternak di rumah. Tidak sengaja melihat beberapa siswa sekolah yang mabuk-mabukan. Dulu pernah ditegur warga lain, namun tidak dihiraukan,” kata Fahrudin.

Tugu Sidandang yang bergaya khas mirip Candi Hindu Jawa tersebut jika terurus, memiliki potensi wisata dan bisa mengangkat budaya khas Mijen, Jawa Tengah.

Tapi kompleks area Tugu Sidandang kini sepi dan dipenuhi semak belukar. Kalau malam tiba, hanya ada kesan angker dan gelap. (ewb/ida/ce1)