Transaksi Non Tunai Meningkat

326

SEMARANG–Transaksi non tunai di Jawa Tengah meningkat 3 persen di tahun ini. Edukasi ke masyarakat pun terus dilakukan Bank Indonesia guna mendorong program tersebut.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Marlison Hakim mengatakan bahwa warkat kliring di Jawa Tengah hingga Oktober lalu menunjukkan penurunan sebanyak 3 persen. Tahun sebelumnya, untuk kliring per hari ada sekitar 11.800 lembar, tahun ini menurun 3 persen.

Penurunan tersebut terjadi bukan karena aktivitasnya yang menurun, namun karena terjadi pergeseran dari penggunaan kliring ke sistem elektronik. “Hal ini mengindikasikan penggunaan non tunai di Jawa Tengah meningkat sebanyak 3 persen,” ujarnya, kemarin (8/12).

Pihaknya juga terus mendorong tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk menerapkan sistem ini. Mulai dari pusat perbelanjaan, jalan tol, perguruan tinggi, pom bensin dan sektor public lainnya.

“Saat ini sejumlah outlet di Semarang dan beberapa kota besar di Jawa Tengah lainnya sudah mulai menerapkan sistem ini, kemudian pembayaran jalan tol, dan diharapkan lainnya akan menyusul,”ujarnya.

Beberapa sekolah, ucapnya, juga sudah menerapkan program non tunai. Yaitu dengan mengeluarkan kartu siswa yang bisa digunakan untuk berbelanja di sejumlah toko buku. Kemudian tiga kartu pintar yang dikeluarkan oleh pemerintah menurutnya juga sangat mendukung perkembangan program non tunai. “Untuk Jawa Tengah, dukungan dari pemerintah provinsi juga terasa dengan akan diberlakukannya e-budgeting,” ujarnya.

Dengan dukungan dari berbagai pihak ini, diharapkan program non tunai akan terus berkembang, sehingga dapat menekan biaya pembuatan uang karena sebagian besar transaksi dilakukan secara non tunai.

“Untuk target pertumbuhannya sendiri kita belum ada, nanti kita mengadakan perluasan ke daerah-daerah. Dengan demikian masyarakat akan mengenal, paham dan menggunakan sistem ini,” tandasnya. (dna/ida)