Rampok Jalanan Semakin Merajalela

400

BARUSARI – Perampok jalananan atau street crime masih menjadi persoalan serius di jalanan Kota Semarang. Meski pihak kepolisian tak segan menembak kaki pelaku, tak membuat para begal jalanan kapok.

Tragisnya, Kamis (4/12) sekitar pukul 17.00, empat pelaku nekat beraksi di saat lalu lintas ramai di dekat terowongan tol di Jalan Majapahit, Semarang. Korbannya Sarno, 36, warga Jalan Desa Muncar RT 1 RW 11 Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Motor Suzuki Satria FU 150 SCD tahun 2001 Nopol AD 6306 US warna biru putih berhasil dirampas.

”Pelaku berjumlah empat pria tak dikenal, mengendarai dua sepeda motor. Saya tiba-tiba dipepet oleh pelaku. Saat sudah menepi di pinggir jalan, saya diancam dan motor saya dirampas,” kata Sarno saat melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang,
Sarno yang ketakutan dan gemetaran, akhirnya menyerahkan motor miliknya yang semula dikendarai. ”Motor saya langsung dibawa kabur,” katanya.

Di tempat terpisah, 10 berandal jalanan beraksi brutal di Jalan Kompol Maksum Semarang, Minggu (7/12) lalu, pukul 03.00 dini hari. Mereka mengeroyok dan membacok korban, Kirun, 17, warga Jalan Condrorejo RT 3 RW 11 Muktiharjo Genuk Semarang. Begitu

korban tak berdaya, motor Yamaha Jupiter Z warna biru tahun 2006, Nopol K 2101 PF, 1 unit handphone merek Cross serta dompet berisi uang Rp 120 ribu, dibawa kabur. Beruntung, nyawa Kirun masih selamat setelah sempat mendapat perawatan medis.

”Pelaku kurang lebih 10 orang, mengendarai lima motor, masing-masing berboncengan. Rata-rata masih remaja,” kata Kirun saat melapor di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang.
Awalnya Kirun bersama Darwoto, 21, warga Desa Jambon RT 6 RW 5 Toroh Purwodadi Grobogan sedang asyik menikmati malam di Kota Semarang. ”Kami sedang nongkrong di warung kucingan di depan masjid Baiturrahman Simpang Lima, Semarang,” ujarnya.

Tak lama setelah berbincang, Kirun diminta oleh Darwoto membeli minuman keras (miras) jenis ciu di kawasan Tanggul Indah. ”Saya berangkat membeli miras dengan mengendarai motor milik Darwoto,” terang Kirun kepada petugas polisi.
Setelah membeli miras, lanjutnya, ia melanjutkan perjalanan kembali ke kawasan Simpang Lima atau ke warung kucingan di depan masjid Baiturrahman. ”Namun sesampai di Jalan Halmahera, saya dihadang kawanan remaja bermotor berjumlah sekira 10 orang,” ungkap Kirun.

Tiba-tiba Kirun langsung ditendang oleh kawanan pelaku, tanpa alasan jelas. Karena jumlahnya tak berimbang, Kirun berusaha menyelamatkan diri. Ia tancap gas menghindari sergapan para pelaku. Terjadilah aksi menegangkan, komplotan geng motor itu terus mengejarnya. Sesampai di Jalan Kompol Maksum, Kirun berhasil dihentikan pelaku.

”Saya dibacok menggunakan senjata tajam oleh salah satu pelaku. Sedangkan pelaku lain mengeroyok membabi buta. Saya dipukuli beramai-ramai. Mereka kemudian merampas motor, handphone dan dompet,” ujarnya.

Mengetahui nyawanya berada di ujung tanduk, Kirun hanya bisa pasrah dan menyerahkan barang-barang berharga kepada kawanan pelaku. ”Saya tidak mengenal mereka dan tidak ada masalah apa-apa,” katanya.

Menanggapi maraknya street crime, Wakil Koordinator Indonesia Police Watch (IPW) Jateng, Agus Hermanto prihatin. ”Perlu quick response dalam penanganan, dimulai dari kemudahan akses korban melapor dengan cepat. Sudah selayaknya perlu nomor hotline aduan atau laporan korban masyarakat yang dijaga operator 24 jam,” cetus Agus.

IPW mengaku kecewa karena beberapa nomor telepon kantor polisi, baik Polrestabes maupun Polsek yang disebarluaskan ternyata sulit dihubungi atau panggilan tidak diangkat. ”Misal panggilan direspons, polisi biasanya meminta korban datang membuat LP, ini terlalu lama,” tandasnya.

Mestinya, begitu aduan masuk, terlebih dulu data korban segera disebarluaskan kepada anggota di lapangan. Hal itu agar kejadian tersebut cepat ditangani oleh anggota di lapangan untuk segera bertindak melakukan pengejaran terhadap pelaku.

”Selain itu, apakah setiap ada kasus kejahatan jalanan, selalu ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi untuk dilakukan olah tempat kejadian dan meminta keterangan saksi-saksi. Jika memang polisi datang, berapa lama waktu petugas tiba di lokasi kejadian, setelah korban melapor. Itu harus dievaluasi,” katanya. (mg5/ida/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.