Sekolah Menyambut Baik Penghentian Kurikulum 2013

331

KENDAL—Rencana penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dasar dan Menengah (Mendikbud Dasmen) Anis Baswedan disambud positif oleh sekolah-sekolah di Kendal. Sebab kurikulum tersebut dinilai sangat memberatkan guru dan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono mengatakan sesuai dari instruksi Mendikbud Dasmen, semua sekolah dari SMP dan SMA/SMK diminta menghentikan penerapan Kurikulum 2013. SMP dan SMA/SMK kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. “Kecuali SMP dan SMA/SMK yang sejak awal ditunjuk sebagai pilot project Kurikulum 2013. Sedangkan sekolah-sekolah lainnya kami instruksikan agar segera dihentikan dan menggunakan KTSP 2006,” ujar Muryono, Senin (8/9).

Dipaparkannya di Kendal ada 16 sekolah pilot project. Rinciannya lima SMA, lima SMK dan enam SMP. Yakni SMA 1 Kendal, SMA 1 Boja, SMA 1 Weleri, SMA 1 Kaliwungu dan SMA Pondok Modern Selamat.

Untuk SMK yaitu SMK 1, 2 dan 4 Kendal, SMK Muhammadiyah 3 Kendal dan SMK Bina Utama. Sedangkan enam SMP, yakni SMP 1 Weleri, SMP 1 dan 2 Kendal, SMP 1 Brangsong, SMP 1 Sukorejo dan SMP 3 Patean.

Ia mengakui jika sebagian besar buku-buku kurikulum 2013 sebenarnya sudah diterima oleh hampir sebagian besar sekolah di Kendal. Namun meski ada instruksi untuk dihentikan, buku tetap akan menjadi panduan para guru dalam mengajar siswa di kelas.

Terpisah, Kepala Sekolah SMK 1 Kendal, Suroyo mengapresiasi instruksi Mendikbud Dasmen. Sebab diakuinya sekolahnya yang sudah tiga semeseter menjalankan Kurikulum 2013 masih kesulitan. Sebab butuh kesiapan tidak hanya sarana dan prasarana sekolah, tapi juga para guru dan siswa.

Meski demikian, karena SMK 1 Kendal ditunjuk sebagai pilot project Kurikulum 2014, maka pihaknya tetap akan menjalankannya. “Tetap kami laksanakan, sambil menunggu keputusan dari dinas pendidikan setempat, apakah tetap dilaksanakan atau kembali KTSP 2006,” tuturnya.

Kesulitan dalam penerapan kurikulum 2013 dipaparkannya dalam hal penilaian guru terhadap karakteristik siswa. Yakni guru wajib menghafal karakter setiap anak dalam kelas. “Kesulitannya, kebanyakan guru mengajar dengan jam standar pengajaran yang ada, guru mengajar 12 kelas. 12 kelas dikalikan jumlah siswa yang ada, tentu jadi masalah bagi guru untuk menilai karakter siswa. Mulai dari perubahan sikap sampai perkembangan dan antusiasme siswa dalam belajar,” tuturnya.

Hal itu menurutnya, harus menjadi catatan bagi pemerintah pusat agar kurikulum 2013 disederhanakan. Dengan kondisi yang ada sekarang ini, dimana guru wajib mengajar 12 kelas, maka sekolah-sekolah pasti belum siap untuk menerapkan kurikulum yang terhitung baru tersebut.

Dengan mekanisme yang demikian rumit, menuurutnya guru justru akan terfokus pada hal teknis bukan pada penyampaian materi kepada siswa. Padahal materi menjadi hal penting dalam pendidikan di sekolah agar siswa siap menghadapi ujian.
Selain itu, sarana dan prasarana sekolah juga menjadi kendala. Dimana kurikulum 2013 Menggunakan sekolah mewajibkan menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. “Padahal sekolah juga memiliki keterbatasan komputer dan teknologi yang ada. Selain itu tidak semua siswa memiliki laptop,” tandasnya.

Selain itu, mata pelajaran yang juga tumpang tindih dengan pelajaran lainnya. Jumlah mata pelajaran juga terlalu banyak, jadi siswa keberatan jika harus menguasai 13 mata pelajaran. “Kalau tujuan dari kurikulum 2013 ini sangat bagus, karena siswa diajak berpikir luas, dengan melihat materi pelajaran dari dengan bertanya apa, kenapa dan bagaimana. Dialog yang tidak searah yang lebih baik,” tandasnya. (bud/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.