Kurikulum 2013 Dinilai Lebih baik

418

MAGELANG – Keputusan Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan Anies Baswedan yang menghapus Kurikulum 2013 (K-13) masih menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mendukung keputusan tersebut, tapi ada pula yang menyayangkan.

Kepala SMA Negeri 5 Kota Magelang Agung Mahmudi mengatakan, selama satu semester pelaksanaan K-13, siswa terlihat lebih aktif dan semangat mengikuti pembelajaran. Sebab, siswa tidak hanya sebagai objek pembelajaran saja, namun juga sebagai subjek. Karena itulah pembelajaran menjadi menarik dan bermakna untuk siswa.

“Jujur, semenjak K-13 siswa jadi lebih aktif. Guru juga jadi lebih semangat dalam merancang pembelajaran karena di tuntut harus kreatif dan inovatif,” katanya, Selasa (9/12).

Kendati demikian, pihaknya belum mengambil sikap apapun dan masih menunggu keputusan dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Magelang. Dia mengaku sanggup jika harus tetap melanjutkan K-13 atau kembali pada kurikulum tingkat satuan pendidik (KTSP) 2006. Meskipun diakuinya akan banyak kerepotan.

“Dampaknya sangat banyak kalau kami harus kembali ke kurikulum yang dulu. Yaitu dampak pembagian pengajar (Guru, Red), nasib guru sertifikasi, perubahan jadwal mata pelajaran, belum lagi soal pengadaan buku KTSP lalu penjurusan yang sudah dilakukan sejak awal siswa masuk sekolah,” sebutnya.

Menurutnya, pemberhentian K-13 di tengah semester seperti ini bukanlah waktu yang tepat. Seharusnya K-13 yang sudah bagus namun memiliki beberapa kekurangan, bisa disempurnakan.
“Semua kurikulum itu ada kelebihan dan kekurangannya. Harusnya menteri yang baru menyempurnakan K-13. Kemudian semua komponen yang mendukung K-13 lebih disiapkan lagi. Kami kira kalau K-13 ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka akan sempurna,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen), Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Magelang, Sahid, mengaku sudah terlanjur menyiapkan dan memesan buku K-13 semester genap (2015) untuk kelas 10 dan 11 SMA serta SMK se-Kota Magelang dengan menggunakan dana alokasi khusus (DAK). Dinas memesan 6.165 buku untuk SMA sebanyak dan 5.118 buku SMK.
“Kami memesan 100 persen untuk siswa, namun pihak rekanan hanya mampu memenuhi 50 persen. Nanti teknis penggunaan buku yang kami ubah. Tapi untuk semester ini, tesnya tetap pakai K-13. Kalau sekolah yang ikut pilot project K-13 hanya SMA Negeri 1 dan 2, serta SMK Negeri 1, 2, 3 dan Yudakarya,” jelasnya.

Dinas mengaku repot jika harus kembali lagi ke KTSP. Sebab akan membutuhkan adaptasi ulang dan butuh persiapan pengadaan buku KTSP yang menurutnya sudah langka. “Belum lagi soal penjurusan yang sudah dilakukan sejak kelas 10, yakni jurusan IPA, IPS dan Bahasa yang termuat di K-13 dilakukan sejak kelas 10 semester satu. Masak harus mengulang lagi penjurusannya di kelas 11 sesuai KTSP. Nanti kasihan anak-anak jadi bingung,” jelasnya.

Kasi SMK, Dikmen, Disdik Kota Magelang, Danang Susilandono, mengungkapkan, fenomena pendidikan di Indonesia yang kerap gonta-ganti kurikulum. Padahal kurikulum yang dimiliki (K-13) diakui baik oleh negara tetangga, Malaysia.
“Malaysia adalah negara tetangga yang aktif melebihi program pendidikan yang kita (Indonesia, red) punya. Nah, K-13 ini saja diakui bagus oleh sana, kita malah menghapusnya,” bebernya.

Danang mengaku lebih suka dengan K-13 karena penilaian rapor dilakukan secara deskripsi. Sehingga kelebihan dan kekurangan siswa bisa disampaikan. “Contohnya dua siswa nilainya matematikanya sama-sama B. Tapi kalau dideskripsikan mungkin anak yang satu lebih unggul di aljabarnya sedangkan yang satu lebih unggul di aritmatikanya. Nah itulah yang ada di rapor K-13 seperti itu, lebih jelas,” sebutnya.

Pengawas SMK Kota Magelang Mahmud menambahkan, pemberhentian K-13 memungkinkan terjadinya copot-ambil guru bersertifikasi. Mereka akan kerepotan memenuhi jumlah jam pembelajaran. “Guru sertifikasi akan mencari jam tambahan disekolah lain. Lalu sekolahan yang ditinggalkan jadi kurang guru dan harus mencari guru tambahan. Nah ini kan jadi membingungkan,” jelasnya. (put/ton)