Pedagang Batu Akik Minta Payung Hukum

531
JADIKAN SENTRA AKIK : Para pedagang batu akik eks PKL Kartini di Pasar Dargo menjajakan beragam batu akik yang memiliki nilai jual tinggi. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 JADIKAN SENTRA AKIK : Para pedagang batu akik eks PKL Kartini di Pasar Dargo menjajakan beragam batu akik yang memiliki nilai jual tinggi. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

JADIKAN SENTRA AKIK : Para pedagang batu akik eks PKL Kartini di Pasar Dargo menjajakan beragam batu akik yang memiliki nilai jual tinggi. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BONGSARI-Komisi B DPRD Kota Semarang meminta pemerintah tidak terburu-buru menjadikan Pasar Dargo sebagai pusat batu permata atau akik. Usulan pedagang harus dikaji lebih dalam oleh Pemkot Semarang.

“Besok para pedagang baru mau ketemu saya. Dan saya ingin tahu konsep yang ditawarkan itu seperti apa. Pasar Dargonya sendiri ke depan mau bagaimana (kerjasama dengan pihak ketiga). Jadi menurut saya tidak bisa langsung begitu saja. Apalagi di Johar sebenarnya sudah ada (sentra penjual batu akik),” kata anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Danur Rispriyanto.

Selain konsep, katanya, penempatan sentra batu permata harus jelas. Sebab, posisi gedung Pasar Dargo saat ini masih dikerjasamakan dengan pihak ketiga hingga tahun 2022 mendatang. Tapi kalau memang pusat batu permata diperlukan dan para pedagang antusias, kenapa tidak direalsiasikan saja?

“Ide (pedagang, red) ditampung dulu sambil mencari konsep yang diinginkan. Dan kita harus bagaimana, mungkin dari batu itu menawarkan apa. Jangan sampai kita mengalahkan salah satu pihak,” tandas legislator dari Partai Demokrat itu.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Kartini Semarang (PPKS) Sugiyantara berharap pemerintah membuat payung hukum untuk para pedagang batu permata di Semarang. Dalam pertemuan dengan Pemkot kemarin, pihaknya telah menyerahkan konsep sentra batu permata di Pasar Dargo.

“Konsepnya ingin seperti di Rawa Bening Jakarta. Karena melihat peluang batu sekarang sudah menjadi tren, bukan lagi bernilai rendah. Bahkan sudah menjadi gaya hidup,” katanya.

Disinggung potensi di Kota Semarang, menurutnya, tergantung sistem pengelolaannya. Meski begitu, pihaknya menawarkan konsep kepada pemerintah, Pasar Dargo tidak hanya diisi pedagang batu permata, tapi juga pedagang pendukung lainnya. Seperti pedagang cincin, penyepuh, dan perkakas lainnya yang berhubungan dengan batu.

“Yang namanya sentra batu, berbagai macam dagangan yang digelar mengenai batu. Mulai dari tukang pembuat cincin, gerenda, penyepuh, gergaji batu, dan lainnya. Selama ini, di kelompok kami penyepuh itu tidak ada. Tanpa pendukung itu, tidak bisa hidup,” ujarnya.

Bahkan pihaknya telah memiliki program tahunan untuk meramaikan sentra batu, seperti mengadakan pameran batu permata, pelatihan pembuatan cincin dan sebagainya. “Kami sudah memiliki program meramaikan pasar, seperti pameran atau pelatihan pembuatan cincin. Nanti konsepnya di tengah ada hall untuk pameran,” katanya.

Dia menambahkan, kalau dijadikan pusat sentra batu maka masih perlu penambahan sarana dan fasilitas. “Butuh tempat parkir, sementara parkir kurang memadahi, butuh keamanan,” katanya.

“Untuk koordinasi dengan pihak ketiga, kami serahkan ke pemerintah. Kalau melakukan renovasi, belum bisa karena belum tahu batas-batasnya. Kami cuma minta payung hukum ke pemerintah, supaya ke depan tidak ada masalah lagi seperti penggusuran,” imbuhnya. (zal/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.