Polisi Dinilai Beri Harapan Palsu

346
Ahmad Zaid. (DOK/RADAR SEMARANG)
Ahmad Zaid. (DOK/RADAR SEMARANG)
Ahmad Zaid. (DOK/RADAR SEMARANG)

PLEBURAN – Kepala Ombudsman Perwakilan Jateng Ahmad Zaid menilai, penyidik kepolisian baik Polda Jateng maupun Polrestabes Semarang dalam menangani kasus dugaan pembobolan rekening nasabah Bank Mandiri senilai Rp 8 miliar ini tidak jelas.

Ahmad Zaid mengatakan, kasus dugaan pembobolan bank itu kasus luar biasa. Jika kepolisian tidak ada niatan untuk mempersulit kasus ini, maka seharusnya bisa mengambil tindakan yang jelas.

“Polisi seharusnya menyelidiki dan mengambil keputusan secara jelas. Jika memang tidak ditemukan unsur pidana, silakan terbitkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan, Red),” kata Zaid saat dihubungi Radar Semarang, Selasa (9/12).

Dikatakannya, jika dalam ranah pidananya tidak bisa terbukti, hal itu agar korban bisa melanjutkan proses dalam ranah perdatanya. “Polisi jangan jadi pemberi harapan palsu (PHP) kepada pelapor selaku korban,” ujarnya.

Dikatakan Zaid, ombudsman bisa masuk dalam kasus ini apabila proses hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian jalan di tempat, tanpa ada alasan jelas. “Polisi harus jelaskan itu,” katanya.

Seperti diketahui, kasus dugaan pembobolan rekening nasabah Bank Mandiri ini mangkrak sejak 9 tahun silam. Kasus ini dilaporkan ke Ditreskrimum Polda Jateng pada 16 Mei 2005, dengan nomor LP/137/VII/2005/Reskrim. Sejak dilaporkan, kasus ini terkesan ‘digantung’ dan mangkrak di Polda Jateng.

Sedikitnya ada tiga terlapor, yakni Sri Hartoko, Suyadi dan Ivan Hartawan. Ivan Hartawan sendiri telah ditetapkan tersangka. Namun tindaklanjut proses hukum kasus ini tidak jelas. Ivan dalam kasus ini selaku orang yang diberi mandat atau surat kuasa dalam pembagian warisan bernilai ratusan miliar, yang hingga sekarang raib misterius tersebut.

Begitupun saat kasus ini dilaporkan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang pada Selasa, 16 September 2014, dengan nomor LP/B/1489/IX/2014/jtg/Res Tbs Smg. Berdasarkan barang bukti print out transaksi di rekening Bank Mandiri yang dipegang pelapor merugikan Rp 8 miliar.

Rekening milik nasabah Sri Rahayu, dalam kurun waktu 2000-2004 diduga dibobol. Pihak pelapor menuding adanya dugaan keterlibatan “orang dalam” dalam proses penarikan uang nasabah tersebut. Pihak terlapor dalam laporan tersebut adalah TS, 44, Tinjomoyo, Banyumanik, Kota Semarang, yang tak lain merupakan adik kandung pelapor, Widiyanto Agung Widodo, 49, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik Semarang.

Pelaporan ini pun bernasib sama alias jalan di tempat. Penyidik Polrestabes Semarang mengaku terganjal izin dari Bank Indonesia.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat dimintai konfirmasi mengatakan, kasus ini masih jalan terus. Namun pihaknya belum mengetahui secara detail. “Saya cek dulu ke penyidik,” katanya.

Ditanya mengenai apakah penyidik Reserse Mobil Polrestabes Semarang sudah melayangkan izin kepada Bank Indonesia (BI), Djihartono mengatakan, belum ada. “Nanti saja, kalau sudah jelas kami sampaikan,” katanya.

Senada, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol Purwadi Arianto saat dikonfirmasi mengatakan, akan menindaklanjuti kasus yang sudah lama ini.(mg5/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.