Utamakan Kopi Lokal, Tawarkan 10 Cara Menyeduh

442
HARUS MENJIWAI: Hardjono Tjandra saat meracik kopi di Coffee House miliknya. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
 HARUS MENJIWAI: Hardjono Tjandra saat meracik kopi di Coffee House miliknya. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

HARUS MENJIWAI: Hardjono Tjandra saat meracik kopi di Coffee House miliknya. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

Hardjono Tjandra adalah lulusan teknik arsitektur. Namun dia justru menekuni dunia perkopian. Ia membuka kafe The Blue Lotus Coffee House di bilangan Jalan Ahmad Yani Semarang.

NURUL PRATIDINA

SUASANA nyaman terasa saat memasuki The Blue Lotus Coffee House. Tatanan interior serta sejumlah sofa di beberapa sudut ruangan membuat serasa berada di rumah ketimbang di kafé. Ditambah lagi aroma khas racikan kopi, menambah betah berlama-lama di tempat tersebut.

“Coffee House ini memang sengaja didesain layaknya rumah yang nyaman, karena selain menyajikan kopi, serta menu lainnya, kami juga fokus pada kenyamanan pelanggan,” kata pemilik The Blue Lotus Coffee House, Hardjono Tjandra kepada Radar Semarang.

Sebetulnya tak perlu heran dengan desain nyaman ini, bila mengetahui si pemilik kafe yang juga berlatar belakang pendidikan arsitektur. Ya, pria kelahiran Semarang ini sebelumnya cukup lama tinggal di luar negeri. Dia juga sempat kuliah jurusan arsitektur saat tinggal di New York, Amerika Serikat. “Beberapa tahun lalu saya diminta oleh ayah saya untuk pulang ke Indonesia,”ujarnya.

Alih-alih berkarir sesuai dengan latar belakang pendidikannya, Tjandra justru terjun ke dunia perkopian. Alasannya pun simpel, namun menarik.

“Dulu di Jakarta sering nongkrong, ngopi-ngopi dengan teman-teman. Saya terkesan dengan sejumlah barista yang saya temui. Menurut saya mereka keren, friendly, bisa membuat kita seperti bertemu teman baik yang sudah lama tidak bertemu,”katanya.

Ia penasaran, apa rahasianya. Ternyata, sebagai barista tidak bisa hanya asal meracik, tapi juga harus menjiwai, harus pandai-pandai tulus bercengkerama dengan para pelanggannya, membuat suasana nyaman. “Standar ini yang saya pegang,”ujarnya.

Dari situ, Tjandra mulai belajar tentang kopi. Mulai dari jenis hingga cara meracik. Ia juga memasukkan lamaran sebagai barista di salah satu kedai kopi ternama. Sayangnya, lama ditunggu, panggilan kerja baru datang setahun kemudian.

“Saya dipanggil, tapi dimintanya menjadi retail manager, bukan sebagai barista (peracik kopi, Red), karena umur saya sudah lebih dari 25 tahun, dan sudah menikah. Padahal saya inginnya menjadi barista,”katanya.

Selama setahun menunggu, Tjandra ternyata sudah banyak mendatangi berbagai pameran yang membahas tentang kopi. Ia juga sudah bersiap untuk membuka kedainya sendiri. Semarang dipilih sebagai awalan.

Dua tahun pertama, ia turun langsung, melayani para pelanggan bersama 4 karyawannya. Lelah, pasti. Tapi Tjandra paham betul, bahwa saat ia memutuskan untuk menekuni bisnis yang mengedepankan pelayanan, maka ia harus benar-benar tahu kondisi di lapangan.

“Di awal-awal jelas pegel, apalagi kaki. Tapi karena saya merasakan langsung, maka saya juga tahu mana yang efektif untuk karyawan dan mana yang tidak. Pembagian shift misalnya, masuk pagi, siang sampai sore istirahat, kemudian malam masuk lagi, itu tidak efektif. Yang ada mereka capek di fisik juga mental,”ujarnya.

Selain dari segi pelayanan, Tjandra tentu tak ketinggalan dengan sajian utamanya, kopi. Ia menyediakan setidaknya 13 jenis kopi dengan 10 cara menyeduh. Dari yang simpel hingga membutuhkan waktu lima jam untuk proses pembuatan. “Kalau untuk jenis, impor ada, tapi saya lebih mengutamakan yang lokal,”ucapnya.

Menurutnya, kenikmatan rasa kopi memang tergantung dari selera masing-masing penikmat. Namun demikian, ia yakin kopi-kopi lokal memiliki kualitas yang tidak kalah dibanding kopi-kopi produksi luar negeri. Selain itu, kata dia, selama ini kebanyakan yang diekspor adalah biji kopi. Padahal, menurutnya, dengan mengekspor kopi yang telah diolah akan memberikan nilai lebih. “Karena itu, saya suka menyediakan kopi lokal,”ujarnya.

Ke depan, pria yang juga hobi mengutak-atik komputer ini berharap akan lebih banyak barista maupun coffee house lain di Kota Semarang yang menyajikan jenis-jenis kopi lokal dengan cara peracikan yang baik pula. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.