Vonis Bebas Supardjiono Dipertanyakan

355
RADAR SEMARANG
RADAR SEMARANG
RADAR SEMARANG

“Tidak masuk akal bila seorang manajer tidak tahu menahu apa yang terjadi pada timnya saat pertandingan berlangsung” Manajer PSIS terhukum, Wahyu ”Liluk” Winarto

SEMARANG – Kubu PSIS Semarang mempertanyakan keputusan Komdis PSSI kepada Manajer Tim PSS Sleman Supardjiono yang sama sekali tidak terkena sanksi buntut dari sepakbola gajah yang terjadi beberapa waktu lalu.

Ketua Tim Advokat PSIS Kairul Anwar menyebut Komdis PSSI sedang main-main menangani kasus ini. Pria yang juga General Manager Tim PSIS itu mengatakan, Komdis PSSI yang dipimpin Hinca Pandjaitan tidak serius menyelesaikan kasus lima gol bunuh diri pada pertandingan PSS melawan PSIS di Sasana Krida, Lapangan AAU, Yogyakarta, Minggu, 26 Oktober lalu. ”Saya acungi dua jempol kepada Komdis PSSI yang tidak memberi sanksi kepada manajer PSS. Saya tidak menyalahkan Supardjiono, yang patut
dipertanyakan justru kredibilitas komdis,” kata Kairul.

Menurutnya, alibi yang disampaikan sebagai dasar pemberian vonis dari Hinca tidak masuk akal. Yakni, Supradjiono hadir di stadion, namun sebelum babak pertama usai, ia pergi karena urusan keluarga di rumah. Kembali lagi ke lapangan menjelang babak kedua usai dan sudah terjadu gol-gol bunuh diri.

Sementara itu, kitman PSIS Suyatno yang benar-benar berada di ruang ganti pemain justru mendapatkan sanksi larangan beraktivitas selama setahun masa percobaan lima tahun dan denda Rp 50 juta. Dia berada di sana untuk menjaga peralatan karena ruang ganti tidak ada kuncinya. ”Hinca suruh ke lapangan tempat pertandingan berlangsung. Ada kuncinya atau tidak, jangan asal tuduh dan membuat keputusan,” tegas Suyatno.

Selain Kairul, manajer PSIS terhukum, Wahyu ”Liluk” Winarto juga bereaksi keras. Dia mempertanyakan proses investigasi yang dilakukan Komdis PSSI. Menurutnya, tidak masuk akal bila seorang manajer tidak
tahu menahu apa yang terjadi pada timnya saat pertandingan berlangsung.

Supardjiono masuk dalam daftar susunan pemain PSS saat bertanding. Liluk pun melihatnya berada di bench pemain mendampingi tim. Karena itu, alasan meninggalkan stadion tidak masuk akal. Tetapi tetap saja menjadi patokan Hinca dalam memberi keputusan. ”Sangat memalukan sekali, hanya menanyai dan memberikan keputusan. Apakah ini hasil investigasi yang dilakukan komdis?. Kami yang bertindak kooperatif dengan datang pada sidang justru mendapatkan sanksi lebih berat,” tandas Liluk.

Laskar Mahesa Jenar tidak akan berdiam diri. Mereka akan meminta hak preogratif dari Ketua Umum PSSI Djohar Arifin. Bila masih belum membuahkan hasil, akan melakukan permohonan kepada kepada Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (Baori) dan Court of Arbitration for Sport (CAS) atau Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional. (bas/zal)