30 Desember, Pasar Bulu Ditempati

371
SIAP DIPINDAH: Sosialisasi pemindahan pedagang ke bangunan baru Pasar Bulu yang digelar di kantor Dinas Pasar Kota Semarang, Rabu (10/12). (kiri) Para pedagang saat mengecek bagian dalam Pasar Bulu baru. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
SIAP DIPINDAH: Sosialisasi pemindahan pedagang ke bangunan baru Pasar Bulu yang digelar di kantor Dinas Pasar Kota Semarang, Rabu (10/12). (kiri) Para pedagang saat mengecek bagian dalam Pasar Bulu baru. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
SIAP DIPINDAH: Sosialisasi pemindahan pedagang ke bangunan baru Pasar Bulu yang digelar di kantor Dinas Pasar Kota Semarang, Rabu (10/12). (kiri) Para pedagang saat mengecek bagian dalam Pasar Bulu baru. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SOSIALISASI PASAR BULU-ADIT (4)web

REJOSARI – Para pedagang yang akan menempati bangunan baru Pasar Bulu setuju pembagian lapak/los dilakukan dengan cara pengundian. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya rebutan tempat. Sejauh ini, progress pembangunan Pasar Bulu telah mencapai 95 persen. Rencananya, Dinas Pasar Kota Semarang akan melakukan pemindahan pedagang ke bangunan baru pada 30 Desember 2014.

Pedagang yang diprioritaskan masuk ke bangunan baru mencapai 800 pedagang. Dinas Pasar akan membagi dalam beberapa zonasi tempat atau lapak. Di lantai 1 akan dihuni antara 250-300 pedagang, di antaranya pedagang sembako, kelontong, konveksi, aksesoris, jasa jahit, dan sol sepatu.

Lantai 2 akan diisi 250-300 pedagang, meliputi pedagang daging, tahu tempe, hasil bumi, buah, bumbon atau sayur, roti dan makanan. Sedangkan sisanya, 200-300 pedagang, menempati lantai 3 yang terdiri atas barang pecah belah, grabag dan kuliner.

Kepala Bidang Pengaturan dan Ketertiban Pasar Dinas Pasar Kota Semarang, Bachtiar Effendi, mengatakan, jumlah pedagang Pasar Bulu yang diprioritaskan mencapai 800 pedagang. Untuk penempatannya dilakukan dengan cara pengundian.

“Kami prioritaskan dulu pedagang lama yang sebelumnya menempati Pasar Bulu. Namun pembagian tempat nanti kita undi, supaya tidak semrawut atau rebutan tempat,” ungkapnya di sela acara sosialisasi pemindahan pedagang ke bangunan baru Pasar Bulu yang digelar di kantor Dinas Pasar Kota Semarang, Rabu (10/12).

Dia mengatakan, jumlah lapak/los di bangunan Pasar Bulu mencapai 1.700 titik dengan ukuran bervariasi, mulai 1×1,5 meter, 2×2 meter, dan 2×3 meter. Sehingga jumlah yang mencapai ribuan lapak itu nantinya bisa menampung semua para pedagang baik pedagang lama, PKL depan Pasar Bulu, dan PKL Pandanaran.

“Nantinya kami juga memberlakukan aturan main atau jam tayang kepada para pedagang pancakan atau pedagang sayuran yang menempati halaman belakang bangunan pasar. Mereka hanya diperbolehkan berjualan pada jam 03.00 pagi sampai jam 07.00 pagi, dan tidak diperbolehkan menggunakan meja dan kursi. Sebab, nantinya setelah jam itu, halaman itu harus bersih dan tidak dipakai untuk berjualan lagi,” katanya.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoto Sardjoko, mengakui, pembagian tempat nantinya diprioritaskan bagi pedagang lama Pasar Bulu dengan cara pengundian. Hal 6ini supaya tertib, dan tidak ada rebutan tempat.

“Pengundian tempat akan dilakukan pada Selasa depan untuk pedagang yang menempati lantai 1 dulu. Sedangkan untuk pedagang lantai 2 dan 3 nantinya dilakukan secara bertahap. Sehingga pada 30 Desember, para pedagang sudah bisa menempati bangunan baru,” harapnya.

Dikatakan, di setiap zonasi nantinya akan diberi satu orang petugas untuk melakukan pengawasan. Hal ini dilakukan supaya tetap tertib, dan tetap terjaga.

“Setiap lantai nantinya ada beberapa zonasi yang terdiri atas sejumlah pedagang. Jadi, di setiap zonasi itu nantinya akan ada seorang petugas supaya tertib,” paparnya.

Ketua Persatuan Pedagang Jasa Pasar (PPJP) Pasar Bulu, Imron Basori, berharap, pembagian zonasi dilakukan secara adil dan fair, supaya pedagang tidak kecewa di kemudian harinya. Selain itu, pihaknya juga mendukung pembagian tempat dilakukan secara pengundian. “Kalau saya setuju dan mengalir saja. Terpenting pembagian dilakukan secara adil. Intinya kami harus bersyukur sudah ada yang mengatur rezeki, kami hanya menjalankan, dan bersemangat,” tandasnya.

Dikelola Profesional
Terpisah, anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang Ir Djoko Setijowarno meminta agar Pasar Bulu dikelola dengan manajemen pasar yang profesional. Yakni, dengan menyerahkan pengelolaan pasar kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). “Jika dilkelola dengan manajemen profesional, pedagang yang nekat berjualan ke jalan tidak akan ada. Selain itu, bangunan pasar akan terpelihara dengan baik, dan pedagang juga akan tertata dengan baik,” katanya kepada Radar Semarang.

Dengan sistem kelola yang profesional, menurut dia, kesan pasar yang kumuh tidak akan terjadi. Dibandingkan dikelola oleh salah satu dinas saja yang membuat pasar jauh dari kesan nyaman, sehingga masyarkat jadi enggan datang untuk berbelanja. “Pasar tradisional bisa bersaing dengan mal atau swalayan kalau manajemen pengelolaannya benar,” ucapnya.

Namun Djoko menyayangkan desain fisik Pasar Bulu yang dinilai sangat tidak pas dengan sosiologi pasar. Padahal bentuk pasar yang bertingkat tanpa ada ruang kosong di tengah (void) akan menimbulkan suatu permasalahan baru bagi para pedagang.

“Pemerintah seperti tidak belajar dari pengalaman, walaupun penempatan kios saat ini dilakukan dengan undian. Pasti nanti akan terjadi masalah, kerena hanya lantai 1 saja yang akan ramai dikunjungi pembeli. Walaupun dipasang eksalator, tapi jarang ada pembeli yang mau bersusah payah naik ke lantai atas. Bahkan saya yakin jika eskalator akan cepat rusak,” tandasnya.

Pihaknya berharap, sebelum Pasar Bulu benar-benar ditempati, pemkot harus merubah sistem pengelolaan pasar tradisional. Menurut dia, jika hal itu tidak diubah, nasib Pasar Bulu yang megah akan sama dengan pasar tradisional lainnya, di mana lantai 2 dan lantai di atasnya bakal sepi pengunjung.

“Saya kira Pasar Bulu akan sama nasibnya dengan Pasar Sampangan yang lantai atasnya tidak laku. Jadi, menurut saya, kembali lagi manajemen pengelolaannya harus diubah,” tegasnya.(mg9/den/aro)