Galian C di Mranggen Makin Parah

410

DEMAK – Galian C di wilayah Kecamatan Mranggen makin memprihatinkan. Di antaranya, yang terjadi di wilayah Desa Batursari dan Kebonbatur. Jika tidak diatur dengan tegas, galian C tersebut bisa merusak lingkungan, termasuk merusak sumber mata air warga sekitar.

Wakil Ketua DPRD Demak, Fahrudin Bisri Slamet mengungkapkan, akibat kegiatan galian C ini, gunung Watu Lumbung yang dulu sangat dikenal warga Mranggen kini sudah tidak ada lagi. Gunung yang ada di Desa Batursari tersebut telah berubah menjadi hamparan tanah padas yang rawan menyebabkan persoalan lingkungan dikemudian hari. “Jika tidak diatur, maka anak cucu kita tidak akan tahu bila di Mranggen ada gunungnya. Sebab, galian C ini sudah berlangsung lama. Sejak 1984 sudah ada yang menambang secara manual. Sekarang, gunung dikeruk dengan alat berat sehingga tingkat kerusakan alamnya makin tinggi,” ujar Slamet, kemarin.

Dia berharap, Pemkab bisa menangani masalah galian C itu secepatnya. Selain ditertibkan juga dicarikan solusinya. Menurutnya, galian C sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan lingkungan warga sekitar. Apalagi, bekas galian juga menimbulkan lubang-lubang menganga hingga perbatasan Rowosari, Semarang. “Sudah banyak pengaduan dari masyarakat terkait aktivitas galian C ini. Kita tunggu respon dari eksekutif,” katanya.

Sekarang ini, kata dia, penggalian gunung yang diambil tanah padasnya terus berlangsung. Antara lain untuk menyuplai kebutuhan tanah padas pendirian pabrik-pabrik serta reklamasi pantai. Jika itu dilakukan terus menerus, maka banyak gunung tanah padas bisa habis dikemudian hari. Di Demak sendiri, jika rencana pendirian kawasan industri diareal 400 hektare di wilayah Kecamatan Sayung terealisasi, maka tidak menutup kemungkinan akan membutuhkan banyak tanah padas sebagai bahan dasar pengurukan lahan tersebut. “Ini perlu diantisipasi Pemkab. Harus diatur secara jelas. Jangan sampai merusak lingkungan, utamanya gunung yang dikepras,”katanya. (hib/smu)