Awalnya Digaji Rp 150 Ribu Per Bulan

312
SUDAH LEGA: Slamet menunjukkan SK pengangkatan CPNS yang baru diterimanya, Kamis (11/12). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
 SUDAH LEGA: Slamet menunjukkan SK pengangkatan CPNS yang baru diterimanya, Kamis (11/12). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

SUDAH LEGA: Slamet menunjukkan SK pengangkatan CPNS yang baru diterimanya, Kamis (11/12). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Setelah menanti 10 tahun, Slamet, tukang kebun honorer di sebuah sekolah akhirnya bisa bernafas lega. Kemarin secara resmi ia menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemkot Magelang. Seperti apa kisahnya?

PUPUT PUSPITASARI, MAGELANG

Slamet masih tak percaya ketika namanya dipanggil oleh Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito untuk menerima surat keputusan (SK) CPNS di halaman belakang kantor wali kota, Kamis (11/12) pagi. Tubuhnya gemetar. Matanya berkaca-kaca menahan air mata di depan orang nomor satu di Kota Sejuta Bunga itu.

Rasa bahagia dan haru terlihat dari raut wajahnya. Bibir Slamet seakan tak berhenti mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Dia tak pernah terpikir akan diganjar dengan hadiah seperti ini di masa tuanya.

Slamet adalah tenaga honorer kategori-1 (K-1) yang telah lama mengabdi menjadi tukan kebun di SMK Negeri 10 Kota Magelang sejak 2004. Awal masuk membantu di sekolah tersebut, Slamet hanya di gaji Rp 150 ribu per bulan dan tiap tahunnya bertambah. “Tidak masalah buat saya, asalkan saya dapat kerjaan,” kenang Slamet.

Pria berusia 45 tahun ini berkisah, gaji yang kecil tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama keluarga. Untuk makan dan keperluan sehari-hari. Walau sedikit, dia merasa terbantu. Baginya hidup mewah bukan menjadi prioritas. Selagi masih bisa beli beras untuk makan, itu sudah lebih dari untung. “Memang tidak cukup, tapi dicukup-cukupin,” jelasnya.

Perjalanan warga Tegalrejo Kabupaten Magelang mendapatkan predikat CPNS tidak mudah. Ia harus bersaing dengan 50 orang yang mengikuti tes seleksi CPNS. Tapi dia tetap optimistis lolos.
“Dukungan dari keluarga yang membuat saya semangat,” akunya.

Modal hanya lulusan SMP, Slamet menyadari betul jika pengatahuannya pas-pasan. Dia harus bangun pagi dan banyak belajar agar bisa mengerjakan soal tes dengan lancar. “Saya sering belajar bersama teman-teman yang lainnya. Kami beli kumpulan soal tes CPNS dan dikerjakan bareng-bareng,” ungkapnya.

Kendati sudah diangkat CPNS golongan I, dia tak lantas besar kepala. Dia akan selalu mengingat perjuangan beratnya untuk mengendalikan diri agar tetap mengabdi sepenuh hati dan sekuat tenaga. “Sebagai bentuk rasa syukur, saya berkomitmen setelah diangkat jadi PNS akan tetap kerja dengan sebaik-baiknya,” tandasnya dengan nada tegas.

Sementara itu, Wali Kota Magelang Sigit Widyoindito berpesan, agar para CPNS lebih giat lagi dalam bekerja. Tak boleh terlena dengan gaji dan pangkat. Sebab, kesempatan ini belum tentu didapatkan oleh orang lain.
“Banyak pegawai honorer yang belum bisa diangkat, bahkan ada juga yang tidak bisa diangkat sebagai CPNS karena terbentur aturan. Jadi, jangan minta pindah tugas keluar daerah sebelum waktunya, sesuai pernyataan yang telah dibuat,” pesan Sigit.

Terpisah, Kabid Mutasi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Magelang, Syarifudin Hidayat menerangkan, pegawai honorer yang diangkat menjadi CPNS terhitung mulai Juni 2014 ini sebanyak 30 orang. Terdiri dari 16 tenaga guru, 2 tenaga kesehatan dan 12 tenaga teknis. Rinciannya, untuk golongan I ada 2 orang, golongan II ada 14 orang, dan golongan III ada 14 orang. (*/ton)