Pakai Alat Tangkap Ramah Lingkungan

423
POTENSI KELAUTAN : Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Susilo (kanan) dan Kepala Dinas Kesehatan dr Iko Umiyati saat meninjau kapal nelayan di sela kegiatan kesehatan di Pelabuhan Morodemak, Kecamatan Bonang. (Wahib pribadi/radar semarang)
 POTENSI KELAUTAN : Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Susilo (kanan) dan Kepala Dinas Kesehatan dr Iko Umiyati saat meninjau kapal nelayan di sela kegiatan kesehatan di Pelabuhan Morodemak, Kecamatan Bonang. (Wahib pribadi/radar semarang)

POTENSI KELAUTAN : Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Susilo (kanan) dan Kepala Dinas Kesehatan dr Iko Umiyati saat meninjau kapal nelayan di sela kegiatan kesehatan di Pelabuhan Morodemak, Kecamatan Bonang. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Potensi ikan tangkap di pesisir pantai laut Bonang dan Wedung cukup menjanjikan. Diantaranya, rajungan, ikan dorang dan teri. Karena itu, nelayan dilarang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Seperti arad maupun cotok. Kedua alat tersebut dinilai bisa membahayakan ikan-ikan kecil yang mestinya bisa menjadi potensi besar untuk di tangkap di kemudian hari.

Ketua Kelompok Pengawas Pesisir Pantai Bonang, Khoeron Imron mengungkapkan, hingga kini masih ada saja nelayan yang memakai alat tangkap tersebut. Karena itu, ia berharap, nelayan bisa menggunakan alat tangkap ramah lingkungan seperti bobo yang kini sudah banyak dimanfaatkan nelayan. “Sebanyak 75 persen nelayan di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang pakai Bobo. Kami berharap, nelayan Bonang lainnya bisa memakai Bobo tersebut. Untuk nelayan yang ketahuan pakai arad dan cotok kita berikan pembinaan,” terang Khoeron.

Saat ini kata dia, nelayan di daerah pesisir Demak tersebut banyak menghasilkan tangkapan rajungan, ikan teri dan dorang. Semua untuk pasar ekspor keluar negeri, termasuk ke Amerika Serikat (AS). Namun, mereka juga dilarang menangkap rajungan yang sedang bertelur atau masih kecil seukuran korek api. Untuk ikan rajungan saat ini harganya turun dari Rp 75 ribu per kilogram menjadi Rp 68 ribu per kilogram dengan isi 8 rajungan.

Sedangkan, ikan dorang harganya mencapai Rp 180 ribu per kilogram. Menurutnya, meski cuaca laut Jawa sedang kurang baik atau buruk, nelayan tetap melaut dan melawan arus air laut. “Cuaca yang kurang menguntungkan ini tetap menjadi berkah bagi nelayan. Sebab, mereka bisa menangkap rajungan,” katanya. Rajungan itu bisa didapatkan di perairan dengan kedalaman 5 mil hingga 20 mil dari pantai. Meski tangkapan ikan oleh nelayan cukup baik, namun hasilnya jika diuangkan kurang memadai. Ini karena harga BBM naik. “Penghasilan nelayan bisa Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu per hari,” katanya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak, Hari Adi Susilo mengatakan, potensi perikanan tangkap di pesisir Demak sangat besar. Karena itu, dia berharap nelayan bisa memaksimalkan potensi tersebut dengan sebaik-baiknya. “Laut ini menjadi salah satu sumber kemakmuran warga nelayan kita,” kata dia. Karena itu, nelayan agar tetap menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Dengan begitu, ikan yang ada di perairan Bonang tidak akan ada habisnya. “Kelestarian lingkungan pesisir harus dijaga agar ikan tetap ada,” jelas dia. (hib/ric)