Sopir Wawalkot Jadi Penadah Motor

323
BERKOMPLOT : Para penadah barang rampokan yang diambil dari korban yang dibunuh ikut diringkus polisi. (Hanafi/radar semarang)
 BERKOMPLOT : Para penadah barang rampokan yang diambil dari korban yang dibunuh ikut diringkus polisi. (Hanafi/radar semarang)

BERKOMPLOT : Para penadah barang rampokan yang diambil dari korban yang dibunuh ikut diringkus polisi. (Hanafi/radar semarang)

PEKALONGAN – Selain menangkap pembunuh dan perampok Istanti, 26, guru SDN Kraton, Kota Pekalongan, polisi juga mengamankan penadah barang rampokan. Diantaranya Ikhwannudin, 29 warga Slamaran gang Udang, Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara yang merupakan sopir Wakil Wali Kota Pekalongan.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan melalui Kasatreskrim Bambang, mengatakan pihaknya sudah mengamankan empat orang penadah barang rampokan. “Tiga orang terkait penadah motor dan satu pembeli laptop sudah kami amankan. Tinggal barang bukti lain, cincin yang belum ditemukan. Karena di jual di penjual emas pinggiran. Tersangka lupa letak dan wajah pembeli cincinnya,” ucap Bambang.

Pelaku akan dikenakan pasal 480 KUHP terkait penadahan dengan ancaman 4 tahun kurungan penjara. Dari pengakuan tersangka, motor didapat dari dua perantara, yaitu Yusuf dan Heri. “Motor hanya digadaikan kepada saya senilai Rp 1,5 juta tidak dibeli. Kata Yusuf dan Heri, surat motor lengkap ada di pacar Robin (tersangka),” jelasnya.

“Saya tidak tahu hasil kejahatan, kata mereka STNK ada di Indah pacar Robin. Bahkan saya disuruh ganti plat sementara pada, Rabu (10/12) sore agar tidak ketahuan orang tua Indah,” terangnya.

Hal tersebut dibenarkan Yusuf Aristriyanto, 20 warga Poncol gang Melati. Dirinya diminta Robin mengadaikan motor hasil perampokan. “Robin minta saya menggadaikan motor, kata dia milik Indah. Dia bilang surat-surat komplit tapi ada di Indah,” jelas karyawan percetakan di Klego tersebut.

Awalnya Yusuf menawarkan motor ke Hermanto alias Heri, 44 tetangga sebelah rumah Yusuf.
Namun Heri tidak mau karena tidak punya uang. “Yang kenal Robin, Yusuf. Saya yang kenal Iwan. Kami berdua yang menawarkan ke Iwan, dan dia setuju kasih uang Rp 1,5 juta. Disetorkan ke Robin Rp 1,1 juta. Kami berdua dapat masing-masing Rp 200 ribu,” terang Heri.

Sementara itu Toha, 18 warga Tirto gang 14 pembeli laptop mengaku ditawari pelaku malam hari setelah kejadian, Sabtu (6/12) dengan harga Rp 2 juta. “Saya tawar deal Rp 1,2 juta. Tapi dicoba agak rusak, saya tawar lagi Rp 900 ribu. Saat itu juga saya bayar Rp 250 ribu karena hanya punya segitu. Minggunya saya kasih Rp 350 ribu, jadi bayar baru Rp 600 ribu,” jelas dia.

Senin (8/12) saat dirinya baca koran ada korban pembunuhan ternyata foto korban ada di dalam laptop. “Saya panik, mau lapor bingung, saya sempat menghapus foto di laptop,” sesalnya.

Sementara itu Robby, 28 suami korban berharap pelaku dihukum maksimal. Bahkan dia sempat kesal saat diberitahu pelaku hanya akan dijerat dengan hukuman 20 tahun penjara saja. “Dia sudah membunuh dua orang, istri dan anak saya. Saya tidak rela jika hanya segitu,” ucapnya sambil menahan tangis.

Bahkan Robby sempat histeris dan memaki-maki pelaku saat di depan sel Kasat Reskrim. Sampai akan melempar pelaku dengan pecahan keramik. Namun bisa dicegah oleh anggota. Ibu korban, beberapa kali hampir pingsan saat mendekat ke penjara. (han/mg8/ric)