Peralatan Canggih Lengkap, Butuh Gedung Representatif

484
Inovasi - Direktur RSUD Dr Agus Sunaryo di ruang kerja yang terus membuat inovasi untuk meningkatkan pelayanan. (Dhinar Sasongko/RADAR SEMARANG)
 Inovasi - Direktur RSUD Dr Agus Sunaryo di ruang kerja yang terus membuat inovasi untuk meningkatkan pelayanan. (Dhinar Sasongko/RADAR SEMARANG)

Inovasi – Direktur RSUD Dr Agus Sunaryo di ruang kerja yang terus membuat inovasi untuk meningkatkan pelayanan. (Dhinar Sasongko/RADAR SEMARANG)

SALATIGA – Memasukki tahun 2015, RSUD Kota Salatiga merupakan layanan medis yang diklaim paling lengkap yang ada di Salatiga. Berbagai peralatan canggih dimiliki RSUD yang berstatus Badan Layanan Unit Daerah (BLUD) Kelas B.
Sejumlah peralatan antara lain alat ‘pemecah’ batu ginjal (ESWL), alat untuk membuat syaraf baru untuk gangguan ereksi penderita diabetes mellitus (ESWT), alat pemantau kinerja paru paru, alat melihat kondisi paru – paru (bronkoskopi) dan berbagai alat lainnya. Meski telah modern, namun gedung untuk peralatan mahal itu belum memadai.”Kami memang berharap bisa membangun gedung yang representatif untuk lebih memaksimalkan pelayanan masyarakat agar lebih nyaman berobat di sini,” terang direktur RSUD dr Agus Sunaryo saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin siang.

RSUD ini disebutkan berupaya meminimalkan waktu rawat inap pasien. Langkah itu dilakukan dengan membuat diagnosa tepat kepada semua pasien yang dirawat. “Kami mengupayakan diagnosa cepat dan tepat kepada pasien,” jelas Agus. Selain itu, juga untuk menghindari imbuhan penyakit infeksi yang dikhawatirkan muncul saat rawat inap di RS.

Disinggung mengenai sumber daya di RSUD tersebut, Agus memaparkan jika kedepan akan menjadi badan yang mandiri. Saat ini, lanjut dia, sudah sepertiga pegawai yang ada di biayai mandiri oleh manajemen dan bukan pegawai negeri. “Diantaranya adalah dokter mitra yang biasanya spesialis, kemudian perawat, dan berbagai staf medis lainnya,” terang dia didampingi Sudaryono, sekretaris RSUD.

Jumlah tenaga medis yang ada memang belum maksimal untuk melayani pasien yang terus meningkat dari hari ke hari. Bahkan, berdasarkan standar pelayanan, tempat tidur pasien rawat inap yang tersedia adalah 1 tempat tidur untuk 10 ribu penduduk. “Sementara itu kita memiliki 300 tempat tidur atau 100 lebih banyak daripada seharusnya,” imbuh pria yang akrab dengan wartawan tersebut.

Dengan adanya program BPJS, lanjut dia, RSUD telah siap dengan menyediakan 50 persen atau 120 tempat tidur kelas III untuk peserta program baru milik pemerintah tersebut. Padahal syarat minimal hanya 30 persen. “Selain itu untuk pribadi juga disediakan poli eksekutif di setiap sore mulai 3 November lalu,” terangnya.

Lebih jauh dipaparkan dia, dengan biaya operasional tinggi, maka pihaknya melakukan efisiensi semaksimal mungkin. Mulai dari obat yang mengikuti formularium nasional, hingga efisiensi listrik dan air. “Saat ini hasil survey kepuasan pelanggan mencapai 75 persen, jumlah yang sangat bagus untuk sebuah RSUD dan akan terus kita tingkatkan. Mohon dukungannya”.(sas/adv)