2.024 Desa di Jateng Rawan Longsor

507
Teguh Dwi Paryono. (DOK/RADAR SEMARANG)
 Teguh Dwi Paryono. (DOK/RADAR SEMARANG)

Teguh Dwi Paryono. (DOK/RADAR SEMARANG)

GUBERNURAN – Sebanyak 2.024 desa yang tersebar di 200 kecamatan lebih se-Jawa Tengah, terancam bencana longsor. Bahkan data Dinas ESDM Jateng, dari 35 kabupaten/kota di Jateng, 27 daerah di antaranya masuk kategori rawan lantaran sebelumnya sudah pernah mengalami bencana serupa.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono mengatakan, lokasi yang rawan longsor menyebar hampir di seluruh daerah. Di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara misalnya, sebenarnya sudah pernah terjadi longsor. ”Tapi dulu saat longsor masih belum padat penduduknya, jadi tidak ada korban. Sekarang sudah padat,” katanya.

Teguh Dwi Paryono menambahkan, khusus untuk Banjarnegara, dari 20 kecamatan 18 di antaranya rawan longsor. Lokasinya rata-rata di daerah tebing atau pegunungan yang kerap digunakan untuk permukiman warga. Ia juga menyayangkan warga yang tidak sadar bahaya longsor di lingkungan masing-masing. ”Yang bikin longsor, karena di atas permukiman warga, lahannya masih digunakan kolam serta lokasi pertanian. Kestabilan lahan sudah diusik,” imbuhnya.

Ia mengaku banyak warga yang kurang sadar sehingga tinggal di kawasan gawir sesar. Di lokasi inilah, merupakan sumber mata air yang banyak. Sehingga banyak warga yang berminat untuk tinggal dan bermukim di lokasi tersebut. ”Padahal mestinya tidak boleh digunakan untuk permukiman, karena lokasi ini berbahaya,” tambahnya.

Menurutnya, Dinas ESDM Jateng sudah memetakan daerah rawan longsor pada tahun 2002 dan dievaluasi lagi tahun 2010. Peta kerentanan gerakan tanah ini merupakan gambaran sebaran tingkat kerentanan gerakan tanah suatu wilayah untuk acuan penanggulangan bencana. ”Kami juga telah memasang 45 alat pantau gerakan tanah di seluruh Jateng,” ujarnya.
Khusus untuk Kabupaten Banjarnegara, telah dipasang 3 unit alat pantau. Yaitu di Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu, Desa Wanayasa Kecamatan Pandansari, Desa Pingit Lor Kecamatan Pandansari.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengatakan, Pemprov Jateng sudah memetakan dan bersosialisasi kepada masyarakat. Untuk mengantisipasi bencana dan menyadarkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan. Tapi kendala di lapangan, karena masyarakat masih banyak yang enggan pindah dengan berbagai alasan. ”Mereka tidak mau pindah, karena sudah merasa tinggal lama dan memiliki mata pencaharian di sana,” kata Ganjar.

Ganjar berencana menggandeng tim geologi dari UGM dan universitas lain untuk membuat alat pendeteksi bencana. Ia pun meminta warga korban longsor atau yang tinggal di daerah rawan bisa transmigrasi lokal. ”Jadi mereka nanti tidak bermukim di sana, namun tetap bisa memanfaatkan lahannya untuk pertanian dan lain sebagainya,” tambahnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng telah menyiapkan dana bantuan bencana sebesar Rp 30 miliar. Dana itu diambilkan melalui dana tak terduga APBD Pemprov 2014.

“Saat ini, dana bantuan bencana baru digunakan Rp 6-7 milliar, sehingga masih ada dana sekitar Rp 23 miliar. Dana itu juga diberikan pada daerah rawan bencana lainnya,” kata Khalakar BPBD Provinsi Jateng, Sarwa Pramana, kepada Radar Semarang, Selasa, (16/12) kemarin.

Saat ini bantuan untuk bencana di Banjarnegara, masih menunggu surat dari Bupati Banjarnegara. Sementara, di lokasi longsor Banjarnegara masih dalam proses evakuasi korban dan membuka jalur yang terputus dengan menggunakan 15 alat berat untuk mendukung pembukaan jalur tersebut.

“Hal ini sesuai dengan perintah Presiden Jokowi yang datang ke lokasi bencana setelah kejadian yang pertama untuk terus melakukan evakuasi korban. Kedua, memerintahkan untuk membuka jalur Banjarnegara menuju Pekalongan yang sempat terputus. Kemarin sudah satu jalur terbuka. Mudah-mudahan hari ini jalur itu sudah semuanya terbuka,”tuturnya.

Sejauh ini, jumlah korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang Kecamatan Karangkobar Banjarnegara yang diperoleh dari BPBD hingga Selasa (16/12) siang pukul 11.20, sebanyak 63 orang. Diperkirakan, jumlah korban bencana masih terus bertambah.

“Ditemukan lagi 7 jenazah pada hari ini. Dampak longsor itu mengenai 308 warga. Yang 200 warga berhasil dievakuasi. Dan 108 warga diperkirakan hilang,” pungkasnya. (fth/ric/mha/ida/ce1)