Diduga Bayar ke Pemilik Lahan

806
HANYA KEDOK : Sebuah truk parkir di depan warung remang-remang yang berdiri diatas lahan persawahan di tepi jalan raya lingkar selatan (JLS) Kota Demak, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)
 HANYA KEDOK : Sebuah truk parkir di depan warung remang-remang yang berdiri diatas lahan persawahan di tepi jalan raya lingkar selatan (JLS) Kota Demak, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

HANYA KEDOK : Sebuah truk parkir di depan warung remang-remang yang berdiri diatas lahan persawahan di tepi jalan raya lingkar selatan (JLS) Kota Demak, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Makin banyaknya warung liar atau remang-remang yang berdiri di sepanjang tepi jalan Pantura Lingkar Selatan (JLS) Kota Demak mendapatkan sorotan tajam dari Bupati Dachirin Said dan DPRD Demak. Sebab, warung ilegal itu sudah kian meresahkan warga sekitar.

Pasalnya, dari deretan warung itu diduga sudah disalahgunakan untuk berbuat maksiat. Selain untuk pesta minuman keras (miras), juga menjadi tempat mangkal para pekerja seks komersial (PSK). Keberadaan PSK ini terbukti turut menyumbang menyebarnya penyakit HIV/AIDS sebagaimana temuan para aktivis peduli AIDS akhir-akhir ini. Kompleksnya masalah sosial yang melingkupi warung remang-remang ini makin menjadi karena kerap menjadi sumber tindak kriminalitas.

Camat Wonosalam, Agung Widodo mengungkapkan, setidaknya tercatat ada 17 warung remang-remang yang berjajar di tepi jalan raya. Dari jumlah itu, 4 warung diantaranya diketahui menjual miras lengkap dengan PSK. “Untuk PSK ini, kami melihat baru datang ke warung yang dimaksud setelah mereka diminta germo yang mendapatkan order atau pesanan dari pria hidung belang. Jadi, kalau pas ada petugas yang patroli, mereka tidak akan menampakkan aktivitas,” ujar Agung.

Para PSK tersebut rata-rata pasokan dari Jepara. “Kita menduga, PSK ini ada juga yang nyambi menjadi pemandu karaoke (PK),” jelasnya. Di sela rakor dengan SKPD di Bina Praja, kemarin, Bupati Dachirin Said juga merasa prihatin dengan kondisi jalan lingkar itu. Karena itu, bupati meminta aparat Satpol PP untuk menindak tegas penyakit masyarakat tersebut. Bupati juga mengintruksikan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Pertambangan dan Energi (DPUPPE) untuk membuat pagar penutup tepi jalan supaya tidak ada kendaraan truk yang parkir seenaknya di depan warung.

Sebelumnya, warung-warung itu berdiri di tepi jalan raya. Namun, sekarang warung yang berjualan minuman ini berdiri di atas sawah warga. Bahkan, informasi yang diperoleh, yang menempati warung membayar sewa sebesar Rp 7 juta kepada pemilik lahan tersebut. “Soal penyakit masyarakat di jalan lingkar ini sempat disampaikan di DPRD. Seolah pemkab tidak berbuat apa-apa. Karena itu, kita minta pihak kecamatan Demak Kota dan Wonosalam serta kepala desa terkait untuk memanggil yang punya gubuk-gubuk itu. Mereka kita tanyai tanggung jawabnya atau ditegasi saja,” ungkap bupati.

Terkait kondisi sosial di JLS ini sebelumnya mendapatkan kritik dari Fraksi PKS. Juru bicara Fraksi PKS, Mudhofar mengatakan, banyaknya warung remang-remang dan karaoke yang tumbuh subur tersebut perlu adanya ketegasan dari pemkab setempat. “Warung remang remang dan karaoke dengan izin studio musik ini harus disikapi dengan tegas oleh pemerintah,” katanya. (hib/ric)