Iqbal Wibisono Akhirnya Ditahan

345
PASRAH – Terdakwa Iqbal Wibisono saat mendengarkan penetapan majelis hakim pengadilan Tipikor Semarang yang menahannya untuk 30 hari ke depan. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
 PASRAH – Terdakwa Iqbal Wibisono saat mendengarkan penetapan majelis hakim pengadilan Tipikor Semarang yang menahannya untuk 30 hari ke depan. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

PASRAH – Terdakwa Iqbal Wibisono saat mendengarkan penetapan majelis hakim pengadilan Tipikor Semarang yang menahannya untuk 30 hari ke depan. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

SEMARANG –Sekretaris DPD I Partai Golkar Jawa Tengah Iqbal Wibisono akhirnya harus rela mendekam dalam jeruji besi. Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang memerintahkan agar terdakwa kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 untuk Pemerintah Kabupaten Wonosobo ini ditahan untuk memperlancar proses persidangan.

“Setelah membaca semua berkas atas nama terdakwa Iqbal Wibisono, memerintahkan jaksa penuntut umum untuk melakukan penahanan terhadap yang bersangkutan di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane Semarang,” ungkap Hakim Ketua Hastopo, Selasa (16/12).

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai penahanan tersebut penting untuk dilakukan. Hal ini telah sesuai sesuai dengan pasal 26 (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). “Terdakwa diperintahkan untuk ditahan selama 30 hari ke depan. Terhitung mulai 16 Desember 2014 hingga 14 Januari 2015,” imbuh majelis hakim membacakan surat penetapan bernomor 138/Pid.Sus/PN.Smg.

Mendengar putusan tersebut, terdakwa seperti tidak percaya. Pasalnya, dari awal menjalani persidangan hingga sebelum ditetapkan, ia merasa telah berlaku kooperatif dalam mengikuti persidangan. Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Yosep Parera mengaku sangat kecewa dengan putusan tersebut.

“Dalam perkara ini, masyarakat boleh saja marah. Namun majelis hakim tidak (boleh marah, red). Sebab kaitannya dengan perkara hukum harus diputuskan dengan fair. Yaitu dengan cara memberikan perimbangan sebagaimana simbol timbangan,” ungkapnya usai persidangan.

Ia sempat menyesalkan penolakan majelis hakim atas permintaan untuk menghadirkan kembali saksi-saksi pada persidangan sebelumnya. Sebab, ada indikasi saksi-saksi tersebut mendapat intervensi dari terpidana dalam perkara yang sama, Gatot Sumarlan. “Karena ini telah menjadi putusan hakim, mau tidak mau kami harus menghormatinya,” imbuhnya.

Disinggung apakah akan mengajukan upaya penangguhan penahanan, Yosep mengaku belum memikirkannya. Menurutnya, ia akan mengumpulkan bukti-bukti-bukti dan juga saksi yang meringankan. “Jika semuanya telah mencukupi, akan kami ajukan (penangguhan, Red),” terangnya.

Terpisah, JPU pada Kejaksaan Negeri Wonosobo Anto Widi Nugroho menyatakan akan langsung menjalankan putusan majelis hakim. Setelah melengkapi administrasi, pihaknya segera membawa terdakwa menuju Lapas Kedungpane Semarang. “Hari ini (kemarin, red) juga akan kami eksekusi,” terangnya.

Seperti diketahui, dalam perkara ini Iqbal didakwa telah menerima uang sejumlah Rp 60 juta atas dana bantuan sosial (bansos) program pengembangan dan peningkatan pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk Kabupaten Wonosobo tahun 2008. Uang tersebut diterima Iqbal dari mantan anggota DPRD Wonosobo Gatot Sumarlan yang telah menerima hukuman dalam kasus yang sama.

Sebagai anggota DPRD Jateng periode 2004-2009, terdakwa bersama-sama dengan Gatot menawarkan dana bantuan program pengembangan dan peningkatan pendidikan Provinsi Jawa Tengah tahun 2008. Dana itu kemudian diperuntukkan bagi empat lembaga di Kabupaten Wonosobo. Antara lain TPQ Nurul Huda, TPA Albarokah, TPA Al-Afiq, dan MTs Ma’arif Bakalan. Keempat lembaga itu diharuskan membuat proposal pembangunan lengkap dengan rincian keuangannya.

Setelah dana itu cair, terdakwa meminta imbalan 50 persen dari dana bantuan masing masing sebesar Rp 50 juta yang diproyeksikan untuk pembangunan gedung itu. Namun, penerima bantuan keberatan, hingga tercapai kesepakatan pada angka 40 persen atau Rp 20 juta. Dari empat lembaga, total uang yang hasil disunat berjumlah Rp 80 juta. Pada 11 Juli 2008 terdakwa Iqbal menerima uang sebesar Rp 50 juta yang ditransfer melalui Bank Jateng cabang pembantu Kertek Wonosobo oleh Gatot Sumarlan. Selain itu, terdakwa juga menerima uang sebesar Rp 10 juta secara langsung dari Gatot yang diberikan di kantor Fraksi Golkar DPRD Jateng. (fai/ton)