Napi Nusakambangan Segera Dieksekusi Mati

366

BUGANGAN – Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Kantor Wilayah Jateng Yuspahruddin menyatakan ada seorang terpidana mati di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, yang segera dieksekusi. Hal itu berdasarkan pemberitahuan dari Kejati Jateng yang sudah diterimanya belum lama lalu.

”Ada pemberitahuan dari Kejati Jateng eksekusi satu orang. Saya tidak berani sebut nama. Khawatirnya yang di dalam lapas nanti membaca, sehingga menimbulkan kepanikan,” kata Yuspahruddin saat ditemui di kantornya, Selasa (16/12).

Dia mengatakan, kalau pihaknya masih menerima permintaan eksekusi saja. Kapan dan di mananya lokasi eksekusi, belum ada pemberitahuan. ”Waktunya tidak dikasih tahu. Baru saja ada permintaan. Sudah kami teruskan ke Jakarta,” paparnya.

Dari data yang diperoleh koran ini, di Lapas Nusakambangan terdapat sebanyak 56 napi yang divonis mati. Rinciannya, napi narkoba 29 orang, teroris 2 orang, dan pidana umum 25 orang. ”Dari 56 itu ada orang asing. Tidak tahu jumlahnya berapa,” katanya.

Ditanya soal pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal penolakan permohonan grasi yang diajukan oleh 64 terpidana mati kasus narkoba, Yuprahruddin menjelaskan hal itu membuat gejolak di dalam Lapas Nusakambangan. Suasana di antara penghuni lapas berubah drastis.

”Suasana mulai mencekam. Pengawasan kami tingkatkan. Contohnya, orang yang awalnya senyum, jadi tidak senyum lagi. Awalnya sering main tenis meja, jadi tiba-tiba diam. Kami tetap antisipasi,” paparnya.

Ia berharap, kepastian untuk eksekusi mati tidak berlarut-larut. Jika hendak eksekusi, persetujuan dilakukan dengan cepat. Hal itu untuk antisipasi gejolak di dalam lapas. ”Kalau dihukum mati kita sendirikan. Tempat khusus yang selalu kita awasi. Saat ini kan masih belum ada kepastian,” terangnya.

Dijelaskannya, kondisi di Lapas Nusakambangan kekurangan petugas. Sehingga pihaknya perlu bekerja ekstra untuk mengatasi apabila ada gejolak. ”Masing-masing unit kurang,” ucapnya.

Soal rencana eksekusi lima terpidana mati kasus narkotika, pihaknya mengaku belum mengetahui pasti. Apakah terpidana termasuk penghuni Lapas Nusakambangan atau tidak. ”Saya belum tahu informasinya,” ujarnya.

Seperti diketahui, eksekusi mati para terpidana kasus narkotika saat ini tinggal menunggu surat dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Eksekusi mati para gembong narkotika ini merupakan bagian dari menuju Indonesia bebas narkotika pada 2015. (ris/jpnn/aro/ce1)