Pulang Kampung, 12 Anggota Keluarga Hilang

354
BERDUKA: Sutinem (tengah) berada di tempat pengungsian menunggu kabar tentang jenasah 12 anggota keluarganya yang tertimbun longsor. (RADAR BANYUMAS/JPNN)
 BERDUKA: Sutinem (tengah) berada di tempat pengungsian menunggu kabar tentang jenasah 12 anggota keluarganya yang tertimbun longsor. (RADAR BANYUMAS/JPNN)

BERDUKA: Sutinem (tengah) berada di tempat pengungsian menunggu kabar tentang jenasah 12 anggota keluarganya yang tertimbun longsor. (RADAR BANYUMAS/JPNN)

Air mata tak bisa terbendung dari mata Sutinem, 51, warga Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Ia tak menyangka kepulangannya ke kampung halamannya hanya untuk mendapati 12 anggota keluarganya hilang setelah dusunnya tertimpa tanah longsor.

Ditemui di posko pengungsian Dusun Ngaliyan, Desa Ambal, Selasa (16/12), Sutinem bercerita ia sudah lama tinggal bersama suaminya di Sukabumi, Jawa Barat. “Sebelumnya saya ikut suami dan satu anak saya. Hari Sabtu pagi saya pulang, setelah melihat berita di televisi, Jumat malam kampung saya kena longsor,” tuturnya.

Sebelum sampai rumahnya di Dusun Jemblung, perasaan Sutinem merasa tidak nyaman. “Saat itu jalan ke dusun saya sudah sangat ramai. Bahkan, harus memutar jalan agar sampai ke kampung,” lanjutnya.

Sampai di kampungnya, Sutinem terkejut melihat dusun orang tuanya. “Melihat kampung sudah rata, saya lemes nggak bisa ngomong apa apa,” katanya.

Seketika itu, ia langsung melesak ke kerumunan orang untuk mencari informasi keluarganya. “Wis koyo wong edan (sudah seperti orang gila) saya cari-cari keluarga saya. Setiap orang yang saya tanya juga sama-sama sedang mencari keluarganya,” paparnya.

Pada Minggu pagi, Sutinem melanjutkan berkeliling ke kampung sekitar. Ia sedikit lega saat bertemu dengan bapaknya.

“Saya ketemu Pak Tablani bapak saya. Waktu itu wajah dan tubuh bapak seperti dibaluri lumpur. Tapi setelah bertemu, kesedihan kami makin menjadi-jadi karena bapak bercerita ibu, kakak, adik, anak, dan keponakan saya semuanya hilang. Belum ditemukan hingga sekarang,” dengan berlinang air mata.

Tablani yang sekarang ini ada di satu pengungsian menyambung kisah saat bencana alam itu menimbun rumah berisi istri dan anak-anaknya. Saat itu ia baru pulang dari sawah. “Belum sempat cuci tangan dari sawah, ada suara Tahu-tahu ada suara seperti pesawat mendekat. Saya langsung berlari keluar tanpa sempat mengajak istri dan anak-anak,” ungkapnya.

Tablani mengaku sangat terpukul, ketika melihat halaman rumah dan tetangganya sudah terkubur lumpur. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berteriak meminta tolong. “Niatnya, sekarang ini, kepengin membantu evakuasi, namun tak diizinkan petugas. Selain karena saya sudah tua, juga tidak tahu bagaimana harus mencarinya,” ucapnya pasrah.

Sementara Sutinem akan bertahan di posko pengungsian itu, hingga keluarganya ditemukan atau upaya evakuasi dihentikan. “Yah, mau gimana lagi. Saya masih ingin melihat wujud ibu dan keluarga saya. Apa pun wujudnya,” jelasnya. (ali/jpnn/ton)