Dewan Nilai Pengelolaan BRT Belum Maksimal

340

SEMARANG – Pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dianggap masih belum maksimal jika dilihat dari okupansinya. Setiap hari tingkat isian penumpang hanya 18 ribu orang dari jumlah armada mencapai 75 unit bus. Karena itu pengelolaan dan manajemen perlu dievaluasi.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, pada diskusi bertema ’Trans Semarang, Menjangkau dan Terjangkau’ yang digelar oleh Sekretariat Dewan di Gedung Thomas Aquinas Unika Soegjapranata Semarang, kemarin (9/2). Melihat jumlah armada bus, idealnya okupansi per hari dapat mencapai 30 ribu orang. ”Perlu dievaluasi dan dibenahi pengelolaan BRT untuk peningkatan pelayanan. Meski jumlah bus sudah 75 unit di empat koridor tapi masyarakat masih suka menggunakan kendaraan pribadi,” katanya.

Dengan anggaran operasional Rp 53 miliar di tahun ini, seharusnya Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), selaku pengelola bisa memaksimalkan pelayanan. Anggaran itu untuk operasional, pembinanaan sumber daya manusia, dan infrastruktur yang dibutuhkan.

Sebelum Dishub berencana menambah dua koridor BRT di anggaran perubahan nanti, peningkatan pelayanan itu harus diwujudkan lebih dahulu. Dishub jangan hanya mengejar kuantitas tapi kualitas. Selama ini kualitas pelayanan masih banyak dikeluhkan masyarakat. ”Seperti shelter yang dinilai terlalu jauh dari tempat tinggal masyarakat. Kenyamanan dan kenikmatan menggunakan BRT yang dirasa masih kurang, karena kondisi bus maupun shelter mulai rusak dana tidak terawat,” katanya.

Pembicara lain pakar transportasi Fakultas Teknik Unika Soegijapranata, Teguh T Prasetyo mengatakan, pengelolaan BRT Trans Semarang oleh Pemkot Semarang masih dilaksanakan setengah hati. Pengelola yang selama ini serius hanyalah dari Dishubkominfo. ”Padahal masih banyak pihak lain, seperti Dinas PU untuk pengembangan infrastruktur, Dewan dan Organda. Kalau tidak bergerak beriringan, sesuai tupoksinya, maka akan terkesan parsial dalam pengelolaan BRT dan tidak maksimal,” terangnya.

Sementara Manager Operasional BRT Trans Semarang Dishubkominfo Kota Semarang, Joko Umboro Jati, dalam kesempatan yang sama membantah pelayanan masih kurang maksimal. Menurutnya, okupansi penumpang dari 75 unit bus yang tersdia di empat koridor per hari bukan cuman 18 ribu, tetapi sudah mencapai 22 ribu orang per hari. ”Dioperasikannya BRT Trans Semarang sejak 2009 lalu, ternyata mempunyai dampak positif. Terbukti sampai Januari 2015, pengguna BRT menembus angka 22 ribu setiap harinya,” tegasnya. (zal/ce1)