Sandarkan Kapal, Warga Keberatan

276
SANDARKAN KAPAL : Puluhan perahu nelayan disandarkan di Sungai Sambong, Batang, karena cuaca buruk ombak besar dan badai. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SANDARKAN KAPAL : Puluhan perahu nelayan disandarkan di Sungai Sambong, Batang, karena cuaca buruk ombak besar dan badai. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Banyak nelayan memilih melabuhkan kapalnya di sepanjang Sungai Sambong, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor, Batang, Minggu (3/4) siang kemarin. Lantaran cuaca buruk dan ombak besar yang menerjang laut pantai utara, membahayakan bagi ratusan kapal dan nelayan.

Tidak hanya ratusan nelayan dari Kabupaten Batang, yang tidak melaut. Nelayan dari Kabupaten Jepara dan Rembang, juga turut menambatkan kapalnya di Sungai Sambong Kabupaten Batang. Ratusan ratusan nelayan memanfaatkan waktunya dengan memperbaiki perahu dan jalanya, sambil menunggu cuaca membaik.

Jurumudi Kapal Baruna Jaya, Marzuki, 47, dari Kabupaten Rembang mengungkapkan bahwa sejak dua minggu terakhir, di perairan Laut Jawa sering terjadi ombak besar, hingga setinggi 4 meter. Menurutnya, hujan dan angin kencang juga sering terjadi, khususnya pada sore hari menjelang malam.

”Kami telah sepakat dengan para ABK (anak buah kapal) untuk istirahat di Batang selama 2 minggu. Daripada memaksakan pulang dengan kapal, sedangkan cuaca sangat membahayakan,” ungkap Marzuki.

Namun di sisi lain, Sungai Sambong yang digunakan untuk menambatkan perahu, kini kerap meluap setiap kali hujan turun seharian. Kelurahan Karangasem Utara, Kelurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang yang semula tidak banjir, kini kerap dilanda banjir.

Rahmadi, 41, warga Desa Klidang Lor RT 02 RW 01, Kecamatan Batang, mengaku keberatan dengan adanya ratusan kapal yang ditambatkan di Sungai Sambong. Menurutnya, dengan banyaknya kapal yang berada di sepanjang sungai, setiap hujan turun Kelurahan Karangasem dan sekitarnya kerap banjir.

“Peyebab banjir di Karangasem Utara, disamping adanya tanggul yang jebol dari Sungai Sambong, juga meluapnya air dari sungai tersebut karena arus air terhalang oleh ratusan kapal,” kata Rahmadi.

Sementara itu, pengurus Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Kabupaten Batang, Rasto, mengatakan bahwa memasuki musim darat yang jatuh pada Maret hingga Juni, banyak nelayan dengan kapal besar dan sedang tidak melakukan kegiatan berlayar. Karena kondisi alam pada musim darat, sangat berisiko terhadap nelayan. “Biasanya kalau musim darat, nelayan memperbaiki jala dan kapalnya, atau mencari pekerjaan lain,” kata Rasto.

Rasto juga mengakui masih banyak nelayan yang nekad berlayar, karena tuntutan profesi, sehingga tidak lagi memperhatikan risiko. Ini karena tidak mudah bagi nelayan untuk berganti profesi. ”Biasanya nelayan mencari ikannya, hanya di bibir pantai, tidak terlalu jauh. Karena mereka paham akan kondisi laut,” tandas Rasto. (thd/ida)