Hilangkan Gadget Holic, Orang Tua Harus Kreatif

307
KREATIFITAS: Para peserta Orangtualogy Class dipandu membuat mainan kreatif berupa wayang, juga di uji imajinasi dan kreatifitasnya dengan membuat mainan kreatif lainnya dengan materi yang disediakan panitia. (ist)
KREATIFITAS: Para peserta Orangtualogy Class dipandu membuat mainan kreatif berupa wayang, juga di uji imajinasi dan kreatifitasnya dengan membuat mainan kreatif lainnya dengan materi yang disediakan panitia. (ist)
KREATIFITAS: Para peserta Orangtualogy Class dipandu membuat mainan kreatif berupa wayang, juga di uji imajinasi dan kreatifitasnya dengan membuat mainan kreatif lainnya dengan materi yang disediakan panitia. (ist)

SEMARANG-Melihat semakin berkurangnya ruang gerak bermain bagi anak membuat orang tua memberikan gadget sebagai penggantinya. Namun efeknya makin banyak juga anak yang semakin kecanduan dengan gadget.

Menanggapi kondisi tersebut sejumlah aktivis yang peduli terhadap perkembangan dan pendidikan anak, berinisiasi menyelengarakan workshop parenting bertittle Orangtualogy Class, Sabtu (2/5) di Bebibyur Baby Kids Spa and Salon, Ruko Ngaliyan Square Nomor 66, Jalan Prof. DR. Hamka Nomor 17, Ngaliyan.

Dengan mengusung tema “Creative Playing at Home With Mom and Dad ” penyelenggara berharap makin dekat hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak sehingga memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan anak. Serta mengoptimalkan masa bermain bagi anak karena dapat menstimulasi tumbuh kembang secara menyeluruh.

Ketua panitia, Ratih Risqi Nirwana, menyebutkan bahwa masa anak-anak adalah masa tumbuh kembang yang perlu untuk dioptimalkan. “Namun kenyataannya tidak setiap orang tua mampu memanfaatkan masa keemasan sang buah hati agar lebih optimal. Diperlukan kreativitas dalam mengoptimalkan masa tumbuh kembang anak-anak. Salah satu hal yang bisa dilakukan bermain bersama mereka ketika dirumah,” ujarnya.

Dalam event parenting Orangtualogy Class juga diadakan workshop membuat mainan kreatif dan edukatif yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat disekitar. “Bahan-bahan tersebut akan dirangkai dan dimodifikasi sedemikian rupa menjadi mainan yang asyik dan edukatif. Dengan adanya mainan kreatif tersebut diharapkan mampu menjadi solusi dari problematika parenting yang dihadapi oleh orang tua,” tambah Kiki sapaan akrabnya.

Dalam workshop kali ini penyelenggara mengundang Dhany Widijanti, selaku Kepala Sekolah TPA & KB Mutiara Kasih dan Psikolog di salah satu RS besar di Semarang, serta Wulanasih Setyarini, praktisi Do It Your self mainan kreatif. Peserta yang hadir dari berbagai kalangan seperti ayah dan ibu muda, pendidik, dan masyarakat umum yang peduli terhadap pendidikan anak.

Wulan menyebutkan bahwa, awalnya putranya Al yang berumur tiga tahun juga terlalu tergantung dengan gadget, tapi karena ia intens membuat mainan dan bermain dengannya membuat anak tersebut lebih aktif bermain dan bahkan memahami berbagai konsep yang baru baginya. “Yang paling menarik berdasarkan pengalaman kami, setelah kami buatkan wayang dokter dan dijadikan bahan story telling, saat kami harus ke dokter gigi, dia jadi nggak takut lagi dengan dokter, justru dia jadi tahu profesi dokter,” sharingnya.

Menurut salah satu peserta Dian Afiana Purnama, Workshop dan seminar tersebut sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan orang tua akan pentingnya bermain apa lagi ada workshop membuat wayang. “Saya jadi dapat mempersiapkan mainan kreatif buat anak saya yang masih berusia satu tahun. Kadang karena sudah capek kita tanpa sadar melupakan fakta bahwa anak kita sedang bereksplorasi dalam waktu bermainnya. Melalui event ini saya jadi semakin paham bahwa bermain sangat berpengaruh untuk tumbuh kembang anak,” tambah Ana sapaannya. (*/zal)