Hindari Calo Masuk Polri

296
PAKTA INTEGRITAS :  Kapolres dengan Ketua DPRD menandatangani pakta integritas di Pendopo Polres Salatiga. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
PAKTA INTEGRITAS : Kapolres dengan Ketua DPRD menandatangani pakta integritas di Pendopo Polres Salatiga. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

SALATIGA—Menghindari pemungutan uang liar oleh calo saat penerimaan anggota Polri tahun 2015, Polres Salatiga melakukan penandatanganan pakta integritas dengan 80 calon anggota Polri di Polres Salatiga kemarin (4/5). Hadir juga perwakilan DPRD dan SKPD yang diminta mengawasi proses pelaksanaan ujian masuk anggota Polri.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Salatiga AKBP Ribut Hariwibowo menegaskan bahwa jika ada pihak yang tidak bertanggung jawab menawari masuk Polri dengan syarat memberikan sejumlah uang, itu akal-akalan. Atau orang yang sedang mencari untung.

Ditegaskan, tidak ada pungutan saat mengikuti ujian calon anggota Polri. Bisa saja, mereka yang melakukan aksi calo, menawari sepuluh orang. Kemudian dia melihat pengumuman pertama kali dan 2 di antaranya calon yang dia bawa lulus. Tentu untung bagi para calo. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa. “Ini yang perlu diperhatikan bagi orang tua murid agar tidak mudah tergoda dengan iming-iming sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Ditambahkan, ujian masuk Polri langsung dinilai di tempat. Tidak bisa kolusi atau nepotisme dalam pelaksanaan penerimaan anggota baru Polri. Juga soal diacak dan dibuat atas rekomendasi Kementrian Pendidikan yang berjumlah ribuan soal. Soal calon satu dengan yang lain berbeda.

Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistyo yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa anggota polisi sejak dini harus dibentuk mental komandan. Sehingga bisa mengatur dan memberikan inspirasi kepada anak buahnya. Melalui proses yang jujur akan menciptakan polisi yang jujur juga. “Ke depan, anggota polisi yang baru, jika diterima jangan sombong. Tapi harus tahu, bahwa pekerjaan sesungguhnya sudah datang,” tandasnya.

Polisi harus punya pola pikir bahwa posisinya sebagai babu-nya (pembantunya) rakyat. Jadi babu harusnya tidak perlu membayar. Selain itu harus tahu bahwa polisi tidak untuk gaya-gayaan. “Harus mengerti dan sadar bahwa Polisi menjadi pelayan masyarakat. Dengan begitu polisi pasti dihormati masyarakat,” katanya. (abd/ida)