Peracik Pupuk Ilegal Diringkus

309
TAK SESUAI SNI: Direskrimsus Kombes Pol Edhy Moestofa menunjukkan sejumlah barang bukti produksi pupuk ilegal, di markas Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
TAK SESUAI SNI: Direskrimsus Kombes Pol Edhy Moestofa menunjukkan sejumlah barang bukti produksi pupuk ilegal, di markas Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
TAK SESUAI SNI: Direskrimsus Kombes Pol Edhy Moestofa menunjukkan sejumlah barang bukti produksi pupuk ilegal, di markas Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

BANYUMANIK – Kreativitas mendirikan usaha produksi pupuk secara mandiri malah berbuntut permasalahan hukum. Itulah yang dialami seorang mantan karyawan pabrik pupuk, Ahmad Slamet Jayadi, warga Desa Krasak RT 2 RW 5 Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.

Ia terpaksa ditangkap dan ditetapkan tersangka karena memproduksi pupuk untuk pertanian tanpa memiliki dokumen perizinan usaha. Sehingga usaha pupuk miliknya itu dinilai ilegal.
Tidak tanggung-tanggung, omzet dari hasil produksi tersangka mencapai Rp 65 juta per-bulan. Keuntungan kotor kurang lebih Rp 20 juta per-bulan.

Usaha produksi pupuk ini menjadi masalah hukum setelah gudang CV Kwadran Jaya Mandiri Jepara, milik Slamet Jayadi digerebek oleh penyidik Subdit 1 Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, pada 28 April 2015 lalu.”Tersangka secara sengaja memproduksi dan mengedarkan pupuk Natrium Kalium Clorida (NKCL) merek Fortan tanpa memiliki perizinan usaha,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Kombes Pol Edhy Moestofa saat gelar perkara di Markas Ditreskrimsus Polda Jateng, Jalan Sukun Raya No 46 Banyumanik Semarang, Senin (4/5).

Selain itu, produk pupuk yang diproduksi oleh Slamet dinilai tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) atau spesifikasi. “Dia mengedarkan pupuk yang kompensasinya tidak sesuai dengan label. Sehingga tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan perundang-undangan,” terangnya.

Dijelaskan Edhy Moestofa, tersangka memproduksi pupuk NKCL bermerek Fortan. Usaha pupuk tersebut menggunakan bendara CV Kuadran Jaya Mandiri, yang didirikan tersangka.
“Tersangka meracik menggunakan bahan garam impor, garam lokal, kalium, pewarna makanan, dan dicampur air kencing kelinci,” bebernya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, lanjut Edhy, tersangka mampu mengeruk omzet besar. Per bulan untuk sekali produksi Rp 65 juta, dengan keuntungan kotor Rp 20 juta. “Harga pupuk NKCL merek Fortan per sak seberat 50 kg dijual seharga Rp 80.000. Kalau harga sesuai komposisi SNI Rp 300.000,” bebernya.

Pupuk hasil produksi tersangka diedarkan kepada sejumlah petani padi dan bawang. Wilayah pemasarannya di daerah Demak dan Sragen. “Tersangka paham seluk belum pupuk karena pernah bekerja di pabrik pupuk selama 5 tahun. Sedangkan 5 karyawan, kami periksa sebagai saksi,” imbuhnya.

Tersangka Ahmad Slamet Jayadi, mengaku ide awal memproduksi pupuk tersebut karena prihatin, bahwa harga pupuk kian mahal. Ia mengaku berusaha membuat alternatif, atau terobosan agar para petani bisa membeli pupuk dengan harga terjangkau.”Prihatin aja, kenapa harga pupuk mahal. Lalu muncul ide memproduksi pupuk.Saya menjual kepada para petani padi dan bawang, dengan harga terjangkau,” katanya. Dia mengaku, sebenarnya telah mengajukan perizinan terkait usaha pupuk secara mandiri tersebut. Namun sejauh ini, izin usaha tersebut belum keluar dan digerebek polisi. (amu/zal)