Wushu Jateng Masih Andalkan Sanda

305
HARAPAN MEDALI: Atlet Sanda putri Jateng Jaryati (hitam) saat bertanding di final PON2012 dan merebut medali emas. Wushu Sanda (tarung) lebih berkembang daripada taolu (jurus), dan akan kembali diandalkan di PON 2016 mendatang. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
HARAPAN MEDALI: Atlet Sanda putri Jateng Jaryati (hitam) saat bertanding di final PON2012 dan merebut medali emas. Wushu Sanda (tarung) lebih berkembang daripada taolu (jurus), dan akan kembali diandalkan di PON 2016 mendatang. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pengprov Wushu Indonesia (WI) Jateng tidak terlalu ambisius memburu kuota dalam gelaran Pra PON di Bandung, September mendatang. Pengprov WI Jateng akan lebih fokus untuk menghasilkan medali emas di ajang multievent empat tahunan tersebut, 2016 mendatang di Bandung.

Ketua Harian Pengprov WI Jateng Sudarsono mengatakan, berdasarkan pengalamannya, percuma jika dapat kuota banyak dari hasil pra PON tapi tidak bisa berbicara di PON. “Jangan hanya meloloskan di pra PON dengan banyak atlet, tapi nglokro di PON, mending sedikit tapi mentes,” ucapnya.

Saat ini tengah memetakan kekuatan baik kekuatan sendiri maupun kontestan lain di masing-masing nomor dan kelas. Diakui, dari 22 nomor yang diikuti, pertarungan bebas (sanda) yang menjadi andalan baik di pra PON maupun PON. Sudarsono menturkan, materi atlet kali ini terbilang lebih muda dari tim yang diturunkan pada PON 2012 lalu. Meski begitu, melihat jam terbang atlet, pihaknya berharap mampu menggaet prestasi lebih baik dari PON lalu yang hanya 1 medali emas. Saat itu, satu-satunya medali emas dipersembahkan atlet putri Jaryati di nomor sanda kelas 52 kg. Jaryati sukses menghentikan perlawanan Junita Malau (Sumut) dengan kemenangan 2-0. “Hampir semua atlet telah regenerasi. Tapi jam terbangnya relatif bagus. Bahkan ada yang sudah masuk PPLP sejak 2013 silam,” tambahnya.

Ketika ditanya atlet andalan, Sudarsono enggan membeberkan. Menurutnya, semua atlet mempunyai kans yang sama untuk mendapatkan emas. Apalagi, dalam waktu dekat ini, sekitar minggu ketiga Mei atau awal Juni, mereka mulai ditangani pelatih dari Tiongkok.

Bagi yang ingin mencicipi program pelatih internasional tersebut, atlet harus menjaga performa mereka. Pasalnya, di GOR Jatidiri, 29-31 Mei mendatang, akan digelar Kejurprov yang juga menjadi ajang promosi-degradasi. “Kompetisi itu akan mempertandingkan pra junior, junior, dan senior. Nah, yang kelas senior ini menjadi pemantapan pelatda Pra PON. Artinya, pintu masih terbuka bagi atlet-atlet lain yang dinilai bagus. Sebaliknya, atlet pelatda yang loyo, akan didegradasi,” pungkasnya. (amh/smu)