Daerah Penyangga Ditarget Pengembang

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Pengembang perumahan rakyat tidak mungkin membangun hunian bersubsidi di Kota Semarang. Tingginya harga tanah di Kota Lunpia tidak memungkinkan bagi pengembang menjual rumah Rp 118 juta per unit sesuai keputusan kementerian perumahan rakyat harga tentang rumah bersubsidi di Jawa Tengah.

Salah satu pengembang perumahan, Andi Kuriniawan mengatakan, harga tanah di Kota Semarang saat ini sudah di atas Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah per meter. Menurutnya, harga tanah untuk perumahan rakyat maksimal Rp 100 ribu per meter. Lebih dari itu pengembang tidak mungkin bisa membangun rumah dengan harga jual Rp 118 juta.

Melihat situasi ini, pihak mengembang saat ini tengah menyasar daerah pinggiran Kota Semarang atau daerah penyangga seperti Kendal, Ungaran, Demak, Boja ataupun Mangkang. “Harga tanah di daerah penyangga tersebut masih cukup terjangkau untuk dibuat perumahan rakyat,” ujarnya.

Terpisah, Team Leader Marketing Bank Artha Graha Cabang Pandanaran, Theodorus Sundah, mengatakan jika fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) banyak diminati oleh masyarakat. Sayangnya, ketersediaan perumahan yang diminati masih belum tersedia FLPP ini pun dirasa ringan lantaran memiliki bunga 7,25 persen selama jangka kredit dan dengan DP 5 persen. “Sejak program ini dijalankan, total ada 12 unit rumah dengan kredit mencapai Rp 1,5 miliar. Masalahnya ketersediaan rumah belum ada, kalaupun ada penyalurannya menyasar daerah pinggiran,” bebernya.

Dirinya menduga, tidak jarang ada rumah FLPP di Semarang lantaran para pengembang terkendala dengan harga tanah ataupun tidak sebanding dengan harga pokok produksi (HPP). Rumah dengan harga Rp 118 juta, dinilai tidak sebanding dengan harga tanah dan bangunan. “Itu yang bikin FLPP jarang ada, selain itu harga material dan bahan bangunan lain pun cukup tinggi,” jelasnya. (den/smu)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -