Dari Hobi Menggambar, Tembus Pasar Luar Negeri

341
KREATIF: Robert Ardy Susetyo menunjukkan art book karya-karya Mouseroom didampingi Deni Nugroho. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Robert Ardy Susetyo menunjukkan art book karya-karya Mouseroom didampingi Deni Nugroho. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Robert Ardy Susetyo menunjukkan art book karya-karya Mouseroom didampingi Deni Nugroho. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Enam mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini sama-sama memiliki hobi menggambar. Dari hobinya itu, mereka tergabung dalam Mouseroom yang menerima pesanan pembuatan game dua dimensi. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SEJUMLAH kartu bergambar tokoh-tokoh rekaan tampak menarik perhatian para pengunjung pameran teknologi industri di Gedung Wanita, kemarin (5/5). Ternyata, kartu-kartu tersebut, sebagian besar merupakan pesanan dari sejumlah produsen game di luar negeri.

“Pemesannya ada yang dari Italia, Amerika dan pesanan lokal Indonesia,”ujar Robert Ardy Susetyo, salah seorang desainer yang tergabung dalam Mouseroom kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mouseroom sendiri terdiri atas enam mahasiswa jurusan Seni Rupa konsentrasi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mereka adalah Robert Ardy Susetyo, Deni Nugroho, Fandi, Leo, Ilham dan Yosi Saputra.

Awalnya, enam mahasiswa yang hobi menggambar ini rajin mengunggah karya-karya dua dimensi mereka ke media sosial maupun situs-situs yang menyediakan tempat untuk memajang karya-karya digital.

“Dari situ ternyata ada produsen game dari luar negeri yang tertarik. Mereka menghubungi dan akhirnya mulai terbuka pasar luar negeri,”beber Robert, cowok kelahiran Jepara, 15 Januari 1992 ini.

Melihat peluang serta adanya kesamaan minat, enam mahasiswa ini lantas memutuskan untuk bergabung dan mendirikan Mouseroom. Dengan harapan, pengerjaan lebih ringan dan pasar terbuka lebih luas.

“Kalau hanya sendiri, kita dapat order sendiri, nyari ide sendiri, nggarap sendiri. Kalau ada kesulitan juga dipikir sendiri. Beda halnya kalau kita bergabung, kesulitan yang satu mungkin bisa dipecahkan oleh rekan yang lain. Pun sebaliknya,”timpal Deni.

Ya, apa yang diharapkan berjalan. Pembagian tugas diberlakukan. Sehingga masing-masing desainer dapat lebih fokus menggarap permintaan klien. Untuk satu desain, apabila tidak terlalu rumit dapat selesai dalam sehari. Namun bila cukup rumit dibutuhkan waktu antara tiga sampai tujuh hari.

“Sejauh ini berjalan dengan lancar. Hanya saja karena status kami masih mahasiswa, jadi terkadang harus pandai-pandai membagi waktu antara mengerjakan skripsi dan menyelesaikan pesanan,”ujar cowok kelahiran Solo ini.

Namun begitu, timpal Robert, profesi yang mulai mereka tekuni sejak setahun lalu ini dinilai cukup menarik. Selain dapat menjaring klien dari berbagai tempat melalui dunia maya, pengerjaan juga tidak terikat waktu.

“Kita nggak harus pakai seragam, nggak harus ngantor, fleksibel lah sebetulnya. Jadi ya masih bisa kuliah, sembari mengerjakan pesanan. Tapi ya juga bukan berarti kita main lepas target, kalau sudah janji bisa selesai dalam durasi waktu tertentu ya harus kami selesaikan,” kata mahasiswa asal Bangsri RT 02 RW 13, Jepara yang di Semarang kos di Gang Cempaka Sari Timur No 18 Gunungpati.

Robert mengakui, rasa jenuh sesekali menghampiri. Namun pengalaman-pengalaman menarik serta masih banyaknya hal yang dapat digali membuat ia dan lima temannya terus bersemangat.

“Awalnya karena memang kami suka nggambar, jadi ya hanya gambar terus diunggah ke media sosial, tapi setelah ada klien dari luar yang pesan, kali pertama dari Italia, itu sangat berkesan. Mungkin karya awal tersebut tidak sebaik karya-karya kami berikutnya, tapi karena kali pertama, itu sangat berkesan,”ujar alumnus SMK Negeri 02 Jepara ini.

Ke depan, mereka juga masih terus mengembangkan diri ke berbagai jenis desain. Tak hanya terpaku di dua dimensi, tapi juga mengembangkan ke tiga dimensi dan potensi-potensi lain yang bisa dirambah.

“Kalau sekarang memang kita masih fokus di dua dimensi, game kartu, kemudian untuk game android yang simpel. Ke depan tetap kami ingin terus kembangkan diri,”katanya. (*/aro)