629 Siswa SMAN 1 Deklarasi Kejujuran

379
AYO JUJUR: Nabila Vania dan siswa SMA Negeri 1 Semarang lainnya membubuhkan tanda tangan saat deklarasi semangat kejujuran kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AYO JUJUR: Nabila Vania dan siswa SMA Negeri 1 Semarang lainnya membubuhkan tanda tangan saat deklarasi semangat kejujuran kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Rasa percaya diri yang kurang bisa memicu ketidakjujuran para siswa. Padahal salah satu tujuan utama pendidikan adalah mengasah kejujuran. Karena itulah, sebanyak 629 siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Semarang mendeklarasikan semangat kejujuran yang secara simbolis dituangkan dalam bentuk tanda tangan masal di selembar MMT.

Nabila Vania, siswi kelas XI SMAN 1 Semarang mengakui, tingkat kejujuran siswa sekarang cukup memprihatinkan. Perilaku tidak jujur tersebut misalnya menyontek saat mengerjakan ulangan harian maupun ujian nasional (unas).

”Kejujuran itu sekarang sangat mahal harganya. Dalam ulangan harian saja, banyak siswa yang masih menyontek pekerjaan siswa yang lain. Itu contoh kecil. Kalau nilai kejujuran tidak dilaksanakan sejak dini, nanti kalau sudah menjadi pemimpin bangsa, bagaimana,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela deklarasi kejujuran, Rabu (6/5).

Siswi lain, Berlian Ayu, mengatakan, tingkat kejujuran di kalangan siswa saat ini perlu ditingkatkan. Sebab, kejujuran sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa. Ia mengaku prihatin ketika menyontek kini telah menjadi budaya yang membumi di kalangan pelajar.

”Yang rugi juga kita (pelajar) sendiri. Kalau sekarang dibiasakan menyontek, bagaimana nanti jika kita sudah lulus? Persaingan dunia kerja kini juga sangat ketat. Kalau sejak awal kita tidak menata kompetensi dengan kejujuran, ke depan kita sendiri yang rugi. Kejujuran itu wajib dan harus,” kata siswi kelas X ini.

Kepala SMAN 1 Semarang, Kastri Wahyuni, mengatakan, deklarasi kejujuran tersebut merupakan ide dari siswa dan guru. Hal itu dilakukan untuk lebih memperkokoh kepercayaan diri siswa terhadap kompetensi yang dimilikinya, sehingga semua permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan tertib.

”Ide (deklarasi kejujuran) dari siswa dan guru. Pada saat kita diskusi ada masukan dari OSIS bahwa kita perlu untuk membangkitkan semangat kejujuran ini, terutama pada diri siswa. Karena mereka sendiri merasakan ada penurunan kejujuran. Sehingga perlu dibuat semacam deklarasi untuk memberi semangat siswa agar berbuat jujur,” katanya.

Dikatakan, kejujuran siswa akan selalu diuji. Misalnya di setiap siswa mengikuti ulangan harian maupun ujian nasional, kekuatan kejujuran ini akan menjadi ujian yang sangat berat bagi siswa. ”Karenanya, sekolah mengadakan kegiatan ini. Sebab, dengan kejujuran, siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang ada,” ujarnya.

Deklarasi kejujuran kemarin diikuti seluruh siswa kelas X dan XII. Siswa dan guru sepakat jika ada siswa yang berlaku tidak jujur saat ujian dan ulangan harian, sekolah akan memberikan pembinaan serta surat peringatan, di mana orang tua akan didatangkan agar mengetahui kelakuan anaknya.

”Dengan kejujuran, kita ingin membangun dan mengembalikan kekuatan dari siswa untuk bisa melakukan segala sesuatunya didasarkan pada kompetensi diri,” katanya. (ewb/aro/ce1)