Pembatalan Investasi Bisa Berdampak Hukum

346
 MEDIASI : Pertemuan mediasi antara pedagang Rejosari dengan PT Patra Berkah Itqoni dengan fasilitator Disperindagkop di kantor Disperindagkop, Rabu (5/5) kemarin. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
MEDIASI : Pertemuan mediasi antara pedagang Rejosari dengan PT Patra Berkah Itqoni dengan fasilitator Disperindagkop di kantor Disperindagkop, Rabu (5/5) kemarin. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

SALATIGA—Pedagang yang sebelumnya mengalami ketakutan terhadap rencana pembangunan Pasar Rejosari oleh pihak investor, akhirnya mulai mencair. Setelah dilakukan pertemuan antara pedagang Pasar Rejosari dengan PT Patra Berkah Itqoni selaku investor dengan fasilitator Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) di kantor Disperindagkop, Rabu (5/5) kemarin.

Kini, para pedagang mulai mengerti tentang rencana pembangunan dengan konsep pembayaran kepada pedagang. Project Director PT Patra Berkah Itqoni, Ery Inryanto mengaku, semua keluhan pedagang sudah diakomodasi pihaknya. Bahkan sudah bermusyawarah beberapa kali dengan pedagang Pasar Rejosari.

“Semuanya bisa dimusyawarahkan. Jika selama ini, beberapa pedagang ketakutan masalah ploting tempat, sudah kami jelaskan. Dan semoga ada tanggapan positif setelah mediasi ini,” katanya.

Terkait proses pembangunan dengan deadline pengosongan Pasar Rejosari pada bulan Mei ini, Pengacara Pedagang Rejosari, Bonifasius N Ariwibowo berharap kepada pemerintah agar memberikan kelonggaran waktu.

“Meskipun deadline-nya bulan Mei ini, kami berharap pemerintah masih memberikan kelonggaran waktu untuk berdiskusi dengan pedagang,” katanya di hadapan forum mediasi tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Disperindagkop, Mutoin mengatakan bahwa pemberian kelonggaran waktu dinilainya sudah terlalu lama. Kasihan pedagang lain, tidak bisa berjualan. Hal itu menambah pengangguran warga sekitar. “Kami berharap semua pihak berpikir dengan kepala dingin. Jika pembangunan terus tersendat, anggaran yang dikeluarkan oleh pihak investor bertambah banyak. Imbasnya bisa membebani pedagang. Selain itu, jika pembangunan gagal, akan membuat kapok investor untuk datang ke Salatiga,” terangnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Salatiga, M Faturrahman menyatakan bahwa pihak DPRD dipastikan tidak bisa memenuhi tuntutan para pendemo dari kalangan mahasiswa yang meminta agar Pasar Rejosari tidak digarap investor. Sebab, apabila dibatalkan, akan berdampak hukum dan membuat investor yang lain ketakutan masuk Kota Salatiga untuk menanamkan modalnya.

“Dewan tidak mungkin mendorong pembatalan investasi, karena akan berdampak pada persoalan hukum. Jika tarik ulur revitalisasi Pasar Rejosari yang berlangsung beberapa tahun ini tak kunjung selesai, bisa berimbas investor tidak ada yang bersedia masuk ke Kota Salatiga,” katanya.

Karena itu, saat ini Komisi B yang berwenang dalam masalah ini, masih menindaklanjuti soal negosiasi harga dan siap mengupayakan agar tidak merugikan pedagang maupun investor. “Kami masih memfasilitasi harga agar terjangkau oleh pedagang. Semoga cepat selesai dan bisa dibangun,” tandas Faturrahman. (abd/ida)