Harini Titip Uang Rp 100 Juta di Kejari

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Sutrisno Margi Utomo. (DOK. JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sutrisno Margi Utomo. (DOK. JAWA POS RADAR SEMARANG)

KALIBANTENG – Setelah Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan penasihat hukumnya mengajukan permohonan penangguhan penahanan, tersangka dugaan korupsi program Semarang Pesona Asia (SPA) 2007, Harini Krisniati, kemarin menitipkan uang kerugian negara sebesar Rp 100 juta di Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang.

Kuasa hukum tersangka Harini, Soewidji, mengaku belum bisa menyampaikan secara detail informasi kliennya (Harini). Namun untuk upaya penangguhan penahanan Harini, tim kuasa hukum telah mengajukannya.

”Upaya penangguhan sudah diajukan, cuma masih menunggu balasan keputusan dari kejaksaan,” kata Soewidji kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (7/5).

Soewidji membenarkan, jika kliennya telah menitipkan uang kerugian negara sebesar Rp 100 juta ke Kejari Semarang. ”Penitipan Rp 100 juta itu inisiatif dari beliau (Harini). Itu untuk titipan saja,” tegas Soewidji.

Penasihat hukum Harini lainnya, Musyafak Kasto, mengatakan, dengan penitipan uang tersebut, kliennya dinilai sudah kooperatif sebagai warga negara yang baik, dan memiliki iktikad baik serta taat pada hukum.

”Karena itu, saya berharap permohonan penangguhan penahanan klien kami bisa dikabulkan. Tidak ada alasan bagi kejaksaan untuk tidak mengabulkan penangguhan penahanan,” katanya.

Kepala Kejari Semarang, Dr Asep Nana Mulyana melalui Kasi Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejari Semarang, Sutrisno Margi Utomo, membenarkan pihak panitia program SPA 2007 melakukan penitipan uang di Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang sebesar Rp 100 juta.

”Yang menyerahkan Efasene Martin mengatasnanamakan Bendahara I panitia pelaksana program SPA 2007. Dia datang ke kejari didampingi penasihat hukum Harini, Musyafak Kasto, Rabu (7/4) sekitar pukul 15.00. Penasihat hukum beliau berasal dari 3 kantor pengacara,” jelasnya.

Sutrisno menyebutkan, saat menitipkan uang tersebut, peran pengacara tersangka secara fisik cuma menyaksikan proses penitipan uang. Ia juga menegaskan, pihaknya memprioritaskan pengembalian kerugian negara. Ia mengaku perhitungan kerugian negara belum final.

”Perhitungan kerugian negara belum final, jadi dengan dana itu (yang dikembalikan Efasene) bisa nambah, bisa juga kurang. Jadi, ini titipan lho bukan pengembalian. Nanti uang penitipan tersebut, akan dimasukkan ke rekening penitipan kejaksaan,” ungkapnya.

Sutrisno juga mengaku, penitipan uang tersebut kalau lebih akan dikembalikan. Selain dikembalikan, bisa juga untuk pelengkapan atau penambahan uang pengganti (UP) bila ada kekurangan.

”Yang jelas kalau uang negara dikembalikan mulai penyidikan sampai persidangan itu bisa berpengaruh, berapa persen pun bisa memengaruhi. Dan itu bisa jadi pengaruh juga untuk pertimbangan upaya penangguhan. Sementara kalau masih penyelidikan bisa saja terjadi Surat Penghentian Penyidikan (SP3), namun kalau sudah penyidikan berpengaruh untuk bahan pertimbangan status penahanan,” jelasnya.

Mengenai upaya penangguhan, Sutrisno mengaku belum bisa menjawab. Menurutnya, saat ini tim penyidik masih mengkaji mengenai surat penangguhan itu.

”Surat permohonan penangguhan akan dikaji dulu, tapi tetap bisa jadi bahan pertimbangan. Sementara kerugian negara dari hitungan penyidik sekitar Rp 406 juta itu dari hitungan APBD, kalau dana sponsor belum diketahui temuan kerugian dengan melihat kuitansi-kuitansi yang ada. Untuk hasil perhitungan kerugian dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jawa Tengah masih menunggu Mas,” jelasnya.

Ketua tim penyidik kasus SPA 2007, Dadang Suryawan, menambahkan, pihaknya belum menemukan kerugian negara untuk perhitungan sponsor. Namun dimungkinkan perhitungan dari BPKP bisa menemukan.

”Penyidik belum menemukan penyimpangan dana sponsor, namun bisa jadi BPKP bisa menemukan setelah dihitung. Tapi dari keterangan ahli yang sudah diperiksa, seharunya dana sponsor masuk ke keuangan daerah,” ungkapnya.

Dadang mengatakan, yang diajukan BPKP berupa kuitansi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh panitia.

”Jadi, nanti menunggu hasil perhitungan kerugian negara dari BPKP. Untuk keterangan ahli, kita gunakan ahli praktisi dan ahli akademisi, jadi hasilnya lebih fair,” ujarnya. (bj/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -