Sepak Bola is Dead

287
TERHENTI: Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, berbicara kepada perwakilan 15 tim peserta Liga Nusantara tingkat Jateng, kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
TERHENTI: Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, berbicara kepada perwakilan 15 tim peserta Liga Nusantara tingkat Jateng, kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tim-tim sepak bola amatir asal Jateng harus menunda ambisi untuk promosi di kompetisi profesional musim depan, seiring dengan dihentikannya tiga tangga liga Indonesia yaitu Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama 2015 dan Liga Nusantara (Linus) 2015.

Tak hanya di tingkat nasional, Linus 2015 putaran Jateng yang sebenarnya pekan kemarin telah memasuki putaran kedua, juga harus dihentikan. Keputusan tersebut menjadi kesepakatan bersama 15 tim peserta Linus Jateng dalam rapat koordinasi yang digelar di kantor Asprov PSSI Jateng, komplek Stadion Citarum Semarang kemarin.

Ketua Asprov PSSI Jateng ditemui usai rapat mengatakan, keputusan itu diambil lantaran peserta kompetisi menganggap Linus Jateng 2015 bakal tidak ada muaranya jika memang dipaksa untuk terus digulirkan. “Kalau terus digulirkan nanti outputnya bagaimana? Karena yang putaran nasional pasti tidak digulirkan. Sebelumnya sempat muncul wacana Linus tetap digulirkan hanya sampai putaran Jateng saja, namun akhirnya tim-tim peserta memutuskan untuk dihentikan saja,” terang Johar Lin Eng.

Sedangkan untuk nasib satu kompetisi amatir lainnya yaitu Liga Soeratin 2015, Johar mengatakan, liga remaja tersebut tetap akan diteruskan pelaksanaanya hingga putaran Jateng dengan berganti nama menjadi Turnamen U-18 PSSI Jateng.

Mengenai pelaksanaannya sendiri, Liga Soeratin Jateng 2015 sendiri akan kembali dilanjutkan pada 17 Mei 2015 mendatang dengan melanjutkan sisa babak penyisihan grup terakhir yang kemarin sempat tertunda pelaksanaannya. “Untuk Piala Soeratin kami targetkan sebelum bulan Ramadan sudah harus selesai. Dan memang karena pertimbangan pembinaan maka peserta kompetisi memutuskan Soeratin terus berlanjut namun hanya berakhir pada tingkat Jateng saja dengan berubah nama menjadi Turnamen U-18 PSSI Jateng,” sambung Johar.

Lebih lanjut Johar yang juga anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI itu mengakui, langkah penghentian kompetisi ini sebenarnya cukup merugikan tim-tim yang ada di Jateng. ”Karena target mereka kan pasti ingin tampil di tingkat nasional kemudian promosi, makanya hal ini sebenarnya cukup merugikan juga,” lanjutnya.

Sementara di tempat yang sama, Panpel laga kandang Persikama Kabupaten Magelang, Subur mengakui penghentian ini cukup memberikan kerugian yang besar baik dari sisi teknis, non teknis maupun financial tim-tim peserta.

Apalagi, Subur mengatakan, Persikama saat ini menjadi salah satu tim peserta Linus Jateng 2015 yang tengah mencoba bangkit dari tidur panjangnya mengingat selama 20 tahun terakhir tim yang bermarkas di Stadion Gemilang, Bumirejo, Mungkid itu memutuskan untuk vakum. “Terus terang kami cukup kecewa dengan kondisi ini, karena saat ini Persikama sedang mulai bergairah, apalagi kami juga sudah mengeluarkan dana talangan kurang lebih Rp 300 juta. Tapi karena memang kondisi sepak bola Indonesia sedang tidak menentu ya apa boleh buat?,” beber Subur.

Namun dengan penghentian tersebut, mayoritas tim-tim peserta Linus Jateng 2015 masih enggan membubarkan tim mereka saat ini. Bahkan opsi untuk menggelar mini turnamen sempat mencuat dalam rapat koordinasi kemarin. “Saat ini persiapan terus berlanjut, dan kami memang sedang mematangkan rencana untuk menggelar mini turnamen, nanti operatornya bisa dari pihak Persikama. Yang jelas kalau dari kami inginnya tim bisa tetap eksis,” terang ofisial Persik Kendal, Sri Adi Widagdo. (bas/smu)