Pungli Jembatan Kalibeluk Dikeluhkan

335
JEMBATAN DARURAT : Jembatan darurat Kalibeluk yang menghubungkan Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan dikeluhkan warga karena banyaknya pungutan liar. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JEMBATAN DARURAT : Jembatan darurat Kalibeluk yang menghubungkan Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan dikeluhkan warga karena banyaknya pungutan liar. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Pungutan liar (Pungli) yang ditarik paksa oknum yang mengatur lalulintas di jembatan darurat Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, dikeluhkan oleh para pengguna jembatan. Pasalnya, jika para pengguna jembatan tak memberikan uang, langsung tidak diberi jalan untuk melintas.

Wahyu, 31, warga Kelurahan Duwet, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, merasa tak nyaman dengan penarikan pungutan yang dilakukan oleh warga sekitar secara paksa. Secara sepintas para pemuda itu membantu mengatur lalulintas, namun jika tidak diberi uang, jalan tidak dibuka.

“Keberadaan mereka memang membantu, untuk membuka tutup jalan yang melintas di jembatan darurat. Namun jika setiap melintas harus bayar seribu, bikin kepala pusing kalau sehari melintas sampai 3 kali,” tandas Wahyu.

Sebenarnya uang yang diminta hanya seribu rupiah, namun cara yang dilakukan oleh sejumlah pemuda tersebut, imbuhnya, cukup tak membuat nyaman para pengguna jembatan. Akibatnya jalur yang menghubungan Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan tersebut, sering mengalami kemacetan panjang.

Kendati begitu, Abdurrahman, 21, warga Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, beralasan dengan penarikan yang dilakukannya. “Jembatan darurat ini yang membuat warga. Maka kami berhak meminta imbalan, sebagai ganti rugi atas pembuatan jembatan tersebut,” katanya, Jum’at (8/5) siang kemarin.

Abdurahman juga mengatakan bahwa uang pungutan dari pengguna jembatan tersebut, tidak semua digunakan untuk operasional, tapi disisihkan untuk perbaikan. Menurutnya sejak jembatan darurat yang dibangun Pemkab Batang rusak, warga sekitar berinisiatif memperbaiki dengan dana swadaya. “Jembatan darurat yang dibangun Pemkab Batang hanya bertahan 5 bulan. Setelah itu rusak dan tak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat,” kata Abdurahman.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga Sumber Daya Air (DBMSDA), Kabupaten Batang, Ketut Mariadji, menegaskan bahwa jembatan tersebut segera diperbaiki Pemkab Batang. Saat ini, sudah masuk proses lelang proyek dengan anggaran Rp 2 miliar. Bahkan, sudah selesai dan dimenangkan penyedia jasa asal Kendal, yakni CV Indah Karya.

Saat ini, katanya, penandatanganan kontrak pekerjaan tersebut masih dalam proses. Kemungkinan, pertengahan Mei ini mulai dilaksanakan persiapan pekerjaan tersebut. Bulan Juni sudah mulai dilakukan perbaikan jembatan. “Kami mohon warga bersabar, karena saat ini masih persiapan perbaikan jembatan tersebut,” tegas Ketut Mariadji. (thd/ida)