Kejati Kesulitan Temukan Maya Aulia

277
DPO: Kepala Kejati, Hartadi didampingi Kasi Penkum, Eko Suwarni, Penyidik, Rinawati memberi keterangan terkait keberadaan Maya Aulia, tersangka kasus dugaan korupsi dana bansos 2011. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
DPO: Kepala Kejati, Hartadi didampingi Kasi Penkum, Eko Suwarni, Penyidik, Rinawati memberi keterangan terkait keberadaan Maya Aulia, tersangka kasus dugaan korupsi dana bansos 2011. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

PLEBURAN – Maya Aulia, tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) kemasyarakatan tahun anggaran 2011 belum diketahui keberadaannya. Rencana penahanan tersangka selalu tertunda karena tidak hadir dalam setiap pemeriksaan. Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng juga mengaku kesulitan mencari tahu keberadaan tersangka.

”Alamat tidak jelas. Kami minta wartawan maupun masyarakat yang menemukan (Maya) supaya melaporkannya ke kejaksaan,” kata Kepala Kejati, Hartadi didampingi Kasi Penkum, Eko Suwarni, Penyidik, Rinawati, Senin (11/5).

Hartadi menyebutkan, tersangka Maya selalu mangkir saat dipanggil penyidik untuk diperiksa. ”Saat dicari penyidik, alamat rumahnya tidak jelas sehingga belum ditemukan. Ia (Maya) juga selalu mangkir dari pemeriksaan,” ujarnya.

Dalam kasus tersebut ada tiga pejabat Pemprov Jateng yang juga belum ditahan. Ketiganya ialah mantan Kepala Biro Bina Sosial Sekretariat Daerah (Setda) Jateng Mohamad Yusuf, eks Kepala Biro Bina Sosial Joko Mardiyanto (kini staf ahli gubernur), dan mantan Ketua Tim Verifikasi Proposal Joko Suyanto.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Jateng Eko Suwarni mengakui pejabat Pemprov Jateng memang belum ditahan dengan korupsi ini. ”Menurut keterangan penyidik, tersangka (pejabat pemprov, Red) itu keterangannya masih dibutuhkan untuk pengembangan perkara. Lima tersangka yang ditahan itu juga hasil pengembangan perkara,” imbuhnya.

Sebelumnya, kejaksaan menindaklanjuti temuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jateng atas temuan penyimpangan dana bansos kemasyarakatan yang merugikan negara sekitar Rp 328 juta.

Hasil audit BPKP diperoleh bukti, pencairan dana bansos ke beberapa rekening tidak ditemukan orangnya, serta pencairannya lebih dari lima kali. Oleh BPKP, penerimaan itu dianggap dana bansos fiktif. Untuk lima tersangka lain yang sudah ditahan ialah Azka Najib, Musyafak, Farid Ihsanudin, Agus Khanif, dan Aji Hendra Gautama, kesemuanya adalah mantan aktivis mahasiswa UIN Semarang dan Universitas Semarang. (bj/zal/ce1)