Kredit Pedagang Berpotensi Macet

559

SEMARANG – Terbakarnya Pasar Johar dan Pasar Yaik Semarang Sabtu (9/5) cukup melumpuhkan aktivitas perdagangan, khususnya di Kota Semarang. Sebab Pasar Johar dan Pasai Yaik merupakan pusat grosir barang-barang kebutuhan pokok di kota Lunpia ini.

Pengajar Senior FEB Universitas Diponegoro, Wisnu Mawardi mengungkapkan, pemerintah harus segera memberikan tempat kepada para pedagang. “Relokasi secepatnya harus segera dilakukan, tujuannya untuk kembali menghidupkan perdagangan dan roda perekonomian,” ujarnya. Selain itu, menurut Wisnu, pembangunan harus cepat dilakukan. Karena relokasi hanya penyelesaian masalah sementara. Bila terlalu lama, akan menimbulkan masalah baru.

Sementara pengamat perbankan Universitas Katholik Soegijapranata, Budiarto mengkhawatirkan jika akan terjadi kredit macet akibat musibah tersebut. Walaupun begitu, menurutnya mekanisme sistem kredit perbankan bisa mengatasinya. “Potensi kredit macet sangat besar, sebab pasti banyak pedagang yang mengajukan kredit dalam skala kecil maupun besar. Jadi kebijakan bank berupa penjadwalan ulang kredit ataupun perpanjangan kredit dan peninjuan suku bunga harus dlakukan agar tidak memberatkan pedagang dan merugikan pedagang,” tambahnya.

Terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Katholik Soegijapranata, Andreas Lako mengungkapkan, jika kebakaran tidak akan terjadi jika pemerintah tanggap dengan memberikan sarana untuk mencegah terjadinya kebakaran. “Keamanan yang memadahi jelas harus ada. Saat ini konsekuensinya pemerintah harus bertanggung jawab dan memberikan kompensasi modal,” tandasnya. Berkaca dari musibah ini, Andreas meminta agar pasar-pasar lain segera memperbaiki instalasi listrik yang memungkinkan terjadinya korlesting, serta menyediakan alat pemadam kebakaran yang sederhana di setiap pasar.

Menurut Andreas, Pasar Johar merupakan salah satu sentra ekonomi di Semarang. Terbakarnya pasar ini, tentu akan berdampak besar pada roda perekonomian di Kota Semarang. “Kalau pedagang tidak berjualan, maka alur distribusi barang-barang juga akan tersendat serta produksi berkurang,” paparnya. (den/smu)