Pedagang Kapling Jalan Agus Salim

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MASIH KOKOH: Bagian dalam Pasar Johar pasca kebakaran Sabtu (9/5) lalu. Bangunan karya arsitek asal Belanda Thomas Karsten ini masih kokoh berdiri, sedangkan los dan kios pedagang ludes terbakar. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASIH KOKOH: Bagian dalam Pasar Johar pasca kebakaran Sabtu (9/5) lalu. Bangunan karya arsitek asal Belanda Thomas Karsten ini masih kokoh berdiri, sedangkan los dan kios pedagang ludes terbakar. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAUMAN – Pasca kebakaran Pasar Johar, Sabtu (9/5) lalu, relokasi pedagang menjadi prioritas Pemkot Semarang. Sejauh ini ada empat lokasi yang bakal menjadi tempat berjualan sementara sedikitnya 8 ribu pedagang (versi Dinas Pasar Kota Semarang sebanyak 4.719 pedagang, Red). Yakni, area sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Pasar Bulu, Pasar Sampangan dan Pasar Rejomulyo (Pasar Ikan Higienis) Jalan Pengapon.

Namun sejumlah pedagang menolak jika direlokasi ke area sekitar MAJT. Mereka memilih bertahan dan nekat hendak mendirikan lapak di sepanjang Jalan KH Agus Salim, kawasan Pasar Johar. Bahkan kemarin, para pedagang Johar mulai mengkapling Jalan KH Agus Salim. Para pedagang beralasan pemilihan lokasi di daerah MAJT dinilai tidak tepat.

”Saya tidak mau pindah di MAJT. Kami hanya mau direlokasi sementara di sekitar Pasar Johar,” tegas salah seorang pedagang, Titin Erick, 30, warga Jalan Tambra Dalam 4, Kelurahan Kuningan, Semarang Utara kepada Jawa Pos Radar Semarang di Pasar Johar, Senin (11/5).

Menurut Titin, pasar darurat yang akan dibangun di area MAJT tidak menguntungkan bagi para pedagang. ”Kalau di MAJT, pembeli tidak tahu lokasinya. Apalagi pembeli dari luar kota. Selain lokasinya jauh jauh, akses jalan menuju MAJT sulit. Apalagi sebentar lagi Lebaran. Pembeli akan cenderung mencari di wilayah sekitar Johar,” katanya.

Dia berharap pemerintah memikirkan pertimbangan lokasi tersebut. Untuk kebutuhan mendesak, relokasi seharusnya tetap berada tidak jauh dari kawasan Pasar Johar. ”Ini tadi sudah diizinkan oleh Menteri Perdagangan (Rahmat Gobel) saat berdialog bersama kami,” katanya.

Sejumlah pedagang langsung berbunga-bunga mendengar izin dari Menteri Perdagangan Rahmat Gobel yang meninjau langsung lokasi kebakaran di Pasar Johar, Senin (11/5) sekitar pukul 08.00. Bahkan sejumlah pedagang langsung mengapling lapak dengan memberi tanda nama menggunakan cat pilox di tepi aspal Jalan KH Agus Salim. ”Kami mau direlokasi asal di dekat kawasan Pasar Johar,” tegas Titin diiyakan pedagang lainnya.

Titin mengaku, menjadi korban kebakaran dahsyat yang terjadi pada Sabtu (9/5) malam. Sebanyak lima kios grosir pakaian miliknya di Pasar Yaik Permai ludes dilumat api. ”Kerugian satu kios grosir pakaian saja kurang lebih Rp 5 miliar,” katanya.

Titin sendiri sebelum kebakaran baru saja kulakan barang dari Jakarta. ”Itu dagangan stok untuk Lebaran ludes. Kulakan berbagai jenis pakaian habis Rp 500 juta, semuanya masih utang, belum dibayar,” kata ibu tiga anak ini dengan wajah tampak lelah.

Pedagang pakaian lainnya, Ny Sriyanto, 53, warga Dempel Muktiharjo sepakat bila relokasi darurat sementara ditempatkan di sekitar kawasan Pasar Johar. ”Kalau tidak secepatnya, kami para pedagang makan apa? Anak-anak saya masih kecil-kecil,” kata pedagang yang berjualan di Pasar Johar sejak 1981 ini.

Selain ingin membuat kios darurat di Jalan KH Agus Salim, para pedagang Pasar Johar dan Pasar Yaik tertarik menyewa kios di Johar Trade Mall (JTM), bekas Matahari Johar, yang terletak di depan Pasar Johar. Gayung pun bersambut, kesempatan itu pun langsung ditanggapi manajemen mal dengan membuka pendaftaran pedagang yang hendak menyewa.

Kios bisa disewa oleh para pedagang yang kehilangan tempat di Pasar Johar dan Pasar Yaik. Harga sewanya cukup tinggi, mencapai Rp 1,5 juta per bulan untuk pedagang kaki lima (PKL) di luar ruangan dengan ukuran 2 meter persegi. Sedangkan untuk kios di dalam ruangan, harga sewa mencapai Rp 7 juta per bulan untuk setiap petak.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, pendaftaran sewa kios itu telah dibuka sejak Senin (11/5) kemarin. Ratusan pedagang terlihat mendatangi manajemen mal tersebut untuk mendaftar. Sedikitnya telah terdaftar sebanyak 235 pedagang yang siap menempati kios di mal tersebut.

Salah satu pedagang, Aminah, 30, mengaku, tertarik mendaftar karena tidak mau direlokasi di kawasan MAJT. ”Daripada pindah jauh, mending daftar sewa di sini,” ujarnya.

Diakui, harga sewa tersebut termasuk mahal untuk pedagang Johar dan Yaik. ”Ini mahal sekali, harga Rp 1,5 juta per bulan itu sama artinya membayar Rp 50 ribu per hari. Tapi apa boleh buat,” katanya.

Dia terpaksa memilih lokasi tersebut daripada dipindah di kawasan MAJT. Sebab, kemungkinan pengunjung jauh lebih ramai di mal tersebut ketimbang di daerah MAJT.

Pihak manajemen Johar Trade Mall sendiri belum bisa dikonfirmasi atas hal ini. Menurut salah seorang petugas yang berjaga di loket pendaftaran, saat ini telah tercatat sebanyak 235 pedagang yang mendaftar. ”Maaf, pimpinan belum bisa ditemui,” kata petugas yang enggan menyebut namanya itu.

Pedagang Kebingungan
Ratusan pedagang Pasar Johar kemarin terlihat kebingungan terkait rencana relokasi. Beberapa pedagang masih terlihat mondar-mandir menunggu kepastian Dinas Pasar terkait rencana relokasi.

Suwaedah, salah satu pedagang bantal guling mengaku masih menunggu kepastian perihal relokasi tersebut. Ia bersama suaminya terlihat bingung, apa yang harus dilakukan. Pasalnya, semua barang dagangannya sudah ludes dilalap si jago merah.

”Saya mengetahui akan adanya relokasi dari running text di televisi. Tapi keterangan resmi dari Dinas Pasar terkait relokasi saya belum tahu. Hingga kini saya belum tahu nanti berjualan di mana,” kata Suwaedah, Senin (11/5).

Senada dengan Suwaedah. Abdul Muis, pedagang batu mulia di lantai 2 Pasar Johar mengatakan, jika hingga kini masih sebatas dilakukan pendataan oleh paguyuban pedagang. Soal akan pindah ke mana, ia bersama pedagang lainnya belum bisa memutuskan.

”Semua dagangan ludes terbakar. Kami tidak tahu akan gimana? Kemarin paguyuban pedagang batu mulia sudah mendata jumlah pedagang. Nantinya kita akan ke mana, saya belum tahu. Karena rencana relokasi itu belum jelas,” tutur Abdul Muis.

Menurut keterangan sejumlah pedagang, tempat yang akan digunakan untuk relokasi pedagang, yakni Pasar Rejomulyo, Pasar Bulu, dan lahan di dekat MAJT. Tak heran, jika kemarin ratusan pedagang mulai memadati halaman Pasar Rejomulyo di Jalan Pengapon.

Titin, salah satu pedagang pakaian Pasar Johar mengaku sudah sejak pagi duduk menunggu kejelasan di Pasar Rejomulyo. Ia bersama ratusan pedagang lainnya menunggu kedatangan petugas Dinas Pasar guna memberikan kejelasan tentang nasib mereka.

”Katanya mau direlokasi di sini. Makanya kami datang ke sini agar bisa mendaftar dan tidak kehabisan tempat. Sebenarnya kami juga bingung, karena seluruh barang dagangan sudah ludes. Terpaksa nanti harus pinjam bank sebagai modal awal berjualan lagi,” ujar Titin yang datang ditemani anaknya.

Bangunan pasar yang masih setengah jadi tersebut disebut-sebut akan digunakan untuk tempat relokasi. Letaknya bersebelahan dengan Pasar Ikan Higienis (PIH) yang terdiri atas dua lantai.

Menurut keterangan Kepala Pasar Rejomulyo, Paryono, pasar tersebut nantinya dapat menampung sebanyak 1.000 pedagang. ”Lantai 1 akan digunakan untuk pedagang konveksi. Untuk lantai 2 akan difungsikan untuk berjualan sembako, sayuran, dan kelontong. Kami masih menunggu pimpinan nanti pembagian pedagangnya seperti apa. Jadi pedagang Pasar Johar yang ingin berjualan di sini, harus mendaftar ke pengelola pasar dengan membawa Surat Izin Pemakaian Tempat Dasaran (SIPTD) yang sudah mereka miliki,” kata Paryono.

Dikatakan, hingga kini sudah ada 150 pedagang yang mendaftar di pasar tersebut. Paryono mengakui, kebingungan pedagang Johar lantaran tidak mendapatkan panduan dari pengelola Pasar Johar pasca kebakaran.

Sementara itu, ratusan pedagang Johar kemarin dikumpulkan di aula Kantor Dinas Pasar Kota Semarang. Mereka mendapat penjelasan soal pendataan pedagang dan proses relokasi.

“Tadi (kemarin) kami mendapat penjelasan dari pihak Dinas Pasar. Intinya, kami akan didata dulu. Nanti ada 4 alternatif tempat relokasi, yakni Pasar Bulu, Pasar Sampangan, Pasar Rejomulyo dan sekitar MAJT,” kata Asmiyah, salah satu pedagang di Pasar Johar Utara.

Kemarin, sejumlah anggota DPRD Kota Semarang sempat melakukan pantauan di lokasi kebakaran. Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengatakan, untuk sementara para pedagang akan dipindahkan ke Pasar Bulu, Pasar Rejomulyo, lahan sekitar MAJT, dan Pasar Sampangan. ”Untuk relokasi ini dibutuhkan biaya sekitar Rp 3,1 miliar. Paling tidak pedagang akan menempati pasar darurat sekitar 2 sampai 3 tahun,” katanya.

Pantauan juga dilakukan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel. Dia berkeliling memantau lokasi didampingi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Rombongan juga sesekali berdialog dengan pedagang yang masih berada di sekitar Pasar Johar.
Untuk jangka panjang, Rahmat berjanji akan berkoordinasi langsung dengan Presiden Jokowi begitu pulang ke Jakarta. Dia berharap bisa menemukan solusi yang menguntungkan bagi pedagang dan warga sekitar.

Mengenai renovasi, Rahmat berharap Pasar Johar dan Yaik tetap mengusung konstruksi desain asli yang bernuansa arsitektur Belanda. Pasalnya, pasar yang didesain seorang arsitek asal Belanda Thomas Karsten ini sudah tercatat dalam situs cagar budaya. ”Nilai sejarahnya luar biasa. Tentunya patut untuk dipertahankan originalitasnya,” ucapnya.

Sambil menunggu revitalisasi pihaknya meminta para pedagang bisa menempati lokasi sementara yang telah disediakan. Dengan begitu, transaksi ekonomi tetap berjalan meski apa adanya. Dia pun berjanji akan membangun pasar lebih baik dari sebelumnya. ”Tentu kita akan memberikan tempat yang baik dan murah yang biasa dijangkau oleh pedagang,” tuturnya.

Rahmat sendiri belum bisa memastikan berapa jumlah dana yang akan digelontorkan dari APBN. Hal itu dikarenakan Pemkot Semarang belum bisa memastikan perhitungan yang dibutuhkan untuk merevitalisasi pasar berpenghuni 8 ribu pedagang ini. ”Jumlahnya menunggu hasil perhitungan dari pemkot dulu. Setelah fix, baru bisa menganggarkan dari APBN,” tegasnya. (amu/ewb/amh/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -