Amankan Ratusan Liter Miras Oplosan

265
RAZIA: Kepala Satpol PP, Toni Ari Wibowo saat melakukan operasi Pekat penegekan Perda terhadap peredaran miras oplosan, Senin (12/5) malam. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAZIA: Kepala Satpol PP, Toni Ari Wibowo saat melakukan operasi Pekat penegekan Perda terhadap peredaran miras oplosan, Senin (12/5) malam. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Meski sudah dilakukan razia berulang kali, sepertinya para penjual minuman keras (miras) oplosan di Kendal, tidak juga jera. Peredaran miras oplosan masih marak terjadi di sejumlah wilayah di Kendal.

Buktinya, petugas Satpol PP Kendal berhasil menyita ratusan liter lebih barang haram itu dalam Operasi Pekat yang digelar, Senin (11/5) malam.

Modus pelaku masih sama, yakni menggunakan tameng warung makan atau warung kelontong sebagai tempat untuk menjual minuman berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian itu. Yakni miras disembunyikan atau di bungkus menggunakan botol bekas atau kantong plastik untuk mengelabui petugas yang melakukan razia.

Miras oplosan dijual per bungkus plastik. Harga per bungkus beragam yakni mulai Rp 7 ribu hingga Rp 20 ribu. Penjual juga menyimpan miras oplosan di bawah kios, untuk mengelabuhi petugas. Bahkan beberapa lokasi, miras disembunyikan di tempat sampah. “Operasi pekat dilakukan untuk memberantas miras. Sasaran operasi adalah lokasi-lokasi yang disniyalir menjadi tempat penjualan miras. Diantaranya, Pasar Pagi Kaliwungu, Jalan Soekarno-Hatta, Bekas Terminal Weleri, dan Pegandon,” kata Kepala Satpol PP Kabupaten Kendal, Toni Ari Wibowo, kemarin.

Ia menambahkan, para penjual miras oplosan sengaja mencoba mengelabuhi petugas. Mulai dari bungkusannya sampai cara menyimpannya. “Tapi dari upaya kami yang sudah melakukan penyelidikan sebelumnya, penjualan miras oplosan dan tak berizin dapat kami bongkar,” imbuhnya.
Menurut Toni, selain miras oplosan, pihaknya juga berhasil menyita miras bermerk yang dijual secara ilegal. Miras tersbeut disita untuk barang bukti, dan penjualnya kami beri surat peringatan dan pembinaan.

Sugiyanto, salah seorang penjual miras mengaku bahwa miras oplosan dia dapat dari distributor dalam yang tidak ia ketahui dalam jumlah kantong plastik dirijen. Namun sepengetahuannya, pemasok adalah warga Kendal yang mendapatkan miras oplosan dari luar kota. “Distok dari distributor, lalu saya bungkus dengan plastik ukuran satu kilogram. Atata kalau tidak kami bungkus dengan botol bekas minuman. Jualnya kepada pembeli biasanya dalam bentuk literan,” akunya.

Ia menambahkan, pembeli miras oplosan datang dari berbagai kalangan. Bahkan ia mengaku jika selama ini sudah ada langganan yang membeli barang haram tersebut. Namun, diakuinya, banyak yang berusia belia. “Rata-rata sudah langganan. Mereka dari usia 20-35 tahun, tapi banyak pula yang masih pelajar. Hal itu karena pembeli biasanya memilih harga murah,” tambahnya. (bud/fth)