Lapak Jalan Agus Salim Diundi

306
ANTRE LAPAK: Ratusan pedagang Pasar Johar berkerumun di depan Johar Trade Mall menunggu jatah tempat relokasi sementara di Jalan KH Agus Salim Semarang kemarin. (kiri) Para pedagang mencari sisa-sisa dagangan dan lapak yang lolos dari kebakaran. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTRE LAPAK: Ratusan pedagang Pasar Johar berkerumun di depan Johar Trade Mall menunggu jatah tempat relokasi sementara di Jalan KH Agus Salim Semarang kemarin. (kiri) Para pedagang mencari sisa-sisa dagangan dan lapak yang lolos dari kebakaran. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAUMAN – Pemkot yang dinilai lamban dalam memberikan keputusan soal tempat relokasi sementara, membuat para pedagang mengambil keputusan sendiri. Kemarin (12/5), para pedagang memutuskan akan menempati Jalan KH Agus Salim untuk berjualan sementara sebelum pasar darurat di lahan milik Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) siap ditempati.

Sejak pagi kemarin, ratusan pedagang tampak antre untuk mendapatkan undian lapak sementara di Jalan KH Agus Salim oleh koordinator pedagang. Para pedagang berkerumun di depan pintu masuk Johar Trade Mall atau eks Matahari Johar.

Menurut Mey, penjual tas, dirinya ikut antre lantaran khawatir tak mendapatkan tempat relokasi sementara di Jalan KH Agus Salim. ”Kios saya sudah ludes terbakar, dan ini saya antre untuk mendapatkan kios sementara di Jalan KH Agus Salim. Rencananya, akan dibuatkan lapak sementara selama dua-tiga bulan ke depan sambil menunggu relokasi ke kawasan MAJT,” jelasnya.

Asmiyah, pedagang pakaian kemarin juga ikut mengantre. Ia berharap bisa segera mendapatkan tempat untuk berjualan kembali. ”Dagangan saya memang sudah ludes. Tapi, kami ingin segera jualan lagi. Ya, dagangannya nanti bisa utang duluan. Kalau nggak jualan, kami makan apa? Apalagi sebentar lagi mau puasa dan Lebaran,” kata pedagang warga Puspanjolo Timur Semarang Barat ini.

Meski diikuti ratusan pedagang, namun suasana undian pembagian lapak kemarin berlangsung tertib. Setelah mendapatkan undian, para pedagang langsung mengapling lokasi lapak dengan menandai menggunakan cat pilox sesuai namanya. Setiap pedagang mendapat lapak ukuran 2 meter persegi.

”Kalau saya manut saja kalau memang direlokasi sementara di Jalan KH Agus Salim hingga tiga bulan ke depan. Ini malah menguntungkan karena masih dekat dengan Pasar Johar,” ucap Martin, penjual tas.

Tiga hari pasca kebakaran kemarin, suasana Pasar Johar berangsur tenang. Pengamanan pasar juga mulai longgar, tak seketat kemarin. Akibatnya, banyak pedagang yang mulai mengambil sisa dagangan maupun lapak yang bisa dimanfaatkan di dalam pasar.

Yang menarik, ada pula warga yang sibuk menyisir reruntuhan puing kebakaran untuk berburu batu akik di lantai 1 dan 2 yang dulunya menjadi pusat penjualan batu akik dan batu mulia.

Sisa-sisa api kemarin memang sudah dinyatakan padam total. Kendati demikian, hawa panas di dalam Pasar Johar masih cukup menyengat kulit. Namun para pemburu batu akik tersebut tetap saja nekat masuk ke areal pasar yang diberi police line.

”Dengar dari tetangga, katanya banyak batu akik di reruntuhan puing bekas kebakaran. Penasaran aja,” ungkap salah satu remaja, Candra, 16, warga Kaligawe Semarang ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dia berangkat bersama tiga kawannya dan sengaja ingin mencari sisa batu akik yang terbakar. ”Di sini sebelumnya memang digunakan berjualan batu akik,” katanya.

Candra ternyata tidak sia-sia datang. Ia berhasil menemukan tujuh buah batu akik berbagai macam jenis. Mulai dari jenis King Sulaiman, Zamrud, Batu Aswad dan Pancawarna. ”Lumayan lah, ini masih bisa dirawat. Meski bekas terbakar, tapi kondisinya masih cukup bagus,” ujar Candra.

Begitu pun Yanto, 24, warga Pekojan Semarang Tengah. Ia juga memperoleh barang-barang incarannya meski kondisinya sudah gosong. ”Ini ada ring-ring akik. Kondisinya gosong akibat terbakar. Tapi nanti bisa dibersihkan, dan bisa dijual lagi,” katanya.

Terpisah, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Semarang, Hermawan Sulis, mengatakan, kebakaran Pasar Johar Semarang mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perputaran ekonomi di Kota Semarang dan daerah sekitarnya. Tidak hanya para pedagang pasar yang mengalami kerugian sangat besar, yang ditaksir lebih dari Rp 3 triliun, tetapi juga masyarakat luas yang harus mengalami dampak kerugian akibat berhentinya roda perekonomian di Pasar Johar.

Menurutnya, selain pedagang, para petani yang menjual hasil buminya juga harus kehilangan pasar penjualan. Kemudian para tengkulak, serta pedagang kecil (pengecer) yang biasa kulakan di Pasar Johar harus kehilangan tempat kulakan. ”Fraksi Gerindra Kota Semarang, merasa prihatin dengan kejadian besar ini. Semoga bencana ini bisa menjadi tonggak kebangkitan perekonomian masyarakat Kota Semarang,” ujarnya.

Selain itu, Fraksi Gerindra juga mengusulkan Pemerintah Kota Semarang menyediakan tempat penjualan sementara, sebelum kesiapan tempat penampungan sementara di lahan MAJT. Menurut Sulis, tidak ada salahnya jika pedagang menempati sekitar Pasar Johar, yakni di Jalan Alun-alun Barat dan Jalan KH Agus Salim, untuk sementara waktu.

”Sehingga mempermudah para pedagang dalam menjalankan aktivitasnya. Hal ini juga senada dengan suara para pedagang di Pasar Johar yang meminta agar dalam masa tunggu kesiapan lahan MAJT, mereka diberi tempat berjualan dalam satu lokasi di sekitar Pasar Johar,” katanya.

Pemkot Semarang, kata dia, juga harus menjamin keamanan di area bekas kebakaran Pasar Johar. Dikhawatirkan masih akan ada lagi aksi penjarahan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, terhadap sisa-sisa kebakaran.

”Kami juga menyayangkan atas tidak berfungsinya hydran air di wilayah tersebut sebagaimana mestinya, sehingga saat kebakaran terjadi, tidak bisa dilakukan pencegahan agar api tidak terlalu besar merambat ke bangunan lain. Selain itu akses untuk pemadam kebakaran juga sangat kurang. Ke depan itu yang perlu dipikirkan oleh Pemkot Semarang, semoga ini bisa menjadi pembelajaran,” tandasnya.

Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Kadarlusman, menyatakan, saat ini yang paling utama ditangani adalah pembangunan tempat penampungan sementara bagi pedagang. Dan tempat yang dirasa paling representatif adalah lahan di MAJT. ”Lahan di sana (MAJT) sangat luas, cukup untuk menampung ribuan pedagang Johar yang menjadi korban kebakaran. Kalau yang lain saya rasa belum ada tempat yang luas dan representatif, mudah diakses seperti di lahan MAJT,” tandasnya.

Sekretaris DPC PDIP Kota Semarang ini menambahkan, revitalisasi Pasar Johar juga harus segera dipersiapkan. Jika melihat biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan, memang sangat besar, sekitar Rp 600 miliar, dan itu tidak bisa jika dipikul oleh pemerintah kota sendiri. Butuh bantuan dari pemerintah pusat dan provinsi. ”Dalam anggaran perubahan tahun ini yang memungkinkan untuk dianggarkan adalah pembuatan detail engineering design (DED)-nya dulu. Baru tahun 2016 memungkinkan untuk anggaran pembangunan fisiknya,” kata Pilus, sapaan akrabnya.

Proses penganggaran juga tidak bisa diselesaikan dalam satu tahun anggaran saja. Harus dibagi beberapa termin, mengingat kebutuhannya sangat besar. Apalagi kemampuan APBD Kota Semarang juga terbatas. ”Paling tidak kemampuan APBD kita untuk pembangunan Pasar Johar ada di angka sekitar Rp 200 miliar. Selebihnya kita minta bantuan provinsi dan pusat. Dan itu pun harus dibagi beberapa termin atau empat sampai lima mata anggaran,” tandas Pilus. (amu/zal/aro/ce1)