Lima Debt Collector Rampas 20 Motor

763

BARUSARIKomplotan debt collector (DC) eksternal yang dilibatkan oleh sejumlah perusahaan leasing perlu diwaspadai. Pasalnya, mereka kerap merampas motor kreditan milik nasabah di jalanan justru untuk kepentingan sendiri. Hal ini seperti dilakukan lima debt collector yang diringkus oleh aparat Resmob Polrestabes Semarang ini. Tidak tanggung-tanggung, komplotan debt collector ini sedikitnya sudah merampas sebanyak 20 motor di lokasi berbeda.

Mereka adalah Aji Setyono, 23, dan Fahrul Rozak, 32, keduanya warga Pucang Anom Timur, Pucang Gading, Demak; Ponco Aji, 21, warga Tlogosari Wetan, Semarang; Kuswantoro, 32, warga Tambak Mulyo, Tanjung Mas Semarang, serta Muh Romadhon, 25, warga Desa Krandon, Kudus. Selain menangkap kelima tersangka, polisi menyita barang bukti sebanyak 17 motor berikut Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), sejumlah KTP, serta empat ponsel yang digunakan sebagai alat komunikasi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, dalam aksinya, para tersangka memepet korbannya di perjalanan dengan modus mengaku sebagai debt collector perusahaan leasing. Mereka lalu menanyakan apakah korban terlambat membayar angsuran atau tidak. Korban yang memang terlambat membayar kredit, tak bisa berbuat banyak. Motor pun dirampas dan korban diminta mengambil di perusahaan leasing yang disebutkan.

Celakanya, setelah korban mendatangi kantor leasing, ternyata motor miliknya tidak ditemukan. Rupanya oleh para tersangka, motor hasil rampasan tersebut dijual ke sejumlah penadah. Tak terima dengan kejadian itu, para korban melaporkan ke polisi. Hasil penyelidikan polisi, akhirnya berhasil membekuk kelima tersangka berikut barang buktinya.

Tersangka Aji Setyono, 23, mengaku, ia bersama teman-temannya memang bekerja sebagai debt collector eksternal yang dilibatkan oleh perusahaan leasing. Beberapa motor hasil rampasan memang diserahkan ke pihak leasing. Namun ada juga yang dijual ke penadah. ”Kurang lebih 20 lokasi kejadian di Semarang,” kata Aji saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Kamis (14/5).

Dia mengaku, melakukan perampasan hanya jika saat bekerja sebagai debt collector tidak berhasil menemukan motor bermasalah. ”Kalau seharian sepi tidak menemukan motor tarikan, kami merampas motor di jalan secara acak. Biasanya saya berangkat kerja pukul 10.00. Kalau sampai pukul 16.00, sepi tarikan, maka kami cari sasaran,” kata pria yang sudah 2 tahun bekerja sebagai debt collector di Semarang ini.

Saat bekerja, Aji bersama teman-temannya berbekal buku tebal berisi daftar ratusan nomor polisi sepeda motor kredit macet dari berbagai leasing di Semarang. Mereka bekerja secara tim. Selain mangkal, juga berpindah-pindah lokasi untuk mencermati pelat nomor motor yang melintas.

”Kalau motor bermasalah tersebut berhasil kami bawa ke pihak leasing, kami mendapat bayaran Rp 500 ribu sampai Rp 1,3 juta,”” ujarnya.

Aji Setyono menjelaskan, inisiatif merampas motor secara acak tersebut diotaki oleh salah satu temannya berinisial S, yang sampai kini masih buron. Setelah berhasil merampas motor, dia bersama rekan-rekannya menjual motor hasil rampasan tersebut ke sejumlah tempat. Di antaranya, dijual di daerah Demak dan Mijen. ”Untuk motor jenis bebek, kami jual seharga Rp 2 juta-Rp 3 juta. Sedangkan untuk motor jenis Honda Mega Pro dan Yamaha Vixion seharga Rp 7 juta,” katanya.

Tersangka Fahrul Rozak mengaku, meski bekerja secara tim, namun setiap kali beraksi biasanya selalu bergonta-ganti pasangan. ”Kami biasanya mengikuti motor yang terindikasi terlambat bayar kredit. Setelah berada di tempat sepi, kami langsung merampas motor tersebut. Kami mengaku dari leasing,” ujarnya.

Sejumlah lokasi yang menjadi wilayah tersangka beraksi di antaranya Pedurungan, Ngaliyan, Tembalang, dan Banyumanik.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin mengatakan, pihaknya menangkap para tersangka pada Rabu (13/5) di Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang. Sebelumnya, pihaknya menerima laporan dari salah satu korban bernama Ajat, 32, warga Sukasari, Bungunsari Tasikmalaya Jawa Barat.

Saat itu, korban mengendarai motor Yamaha Vixion 2013 bernopol Z 4010 LI, melintas di Jalan Mulawarman, Tembalang, Semarang pada 7 April lalu. Korban dipaksa berhenti oleh para tersangka yang mengaku dari leasing.

Korban kemudian disuruh mengambil motornya di kantor leasing BAF kawasan Kampung Kali Semarang. Namun setelah dicari, ternyata motor korban tidak ada di leasing yang dimaksud. ”Berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka mengaku sudah beraksi di 20 lokasi terpisah di Semarang. Ini sangat meresahkan masyarakat,” katanya.

Burhanudin mengatakan, tidak menutup kemungkinan, kejahatan dengan modus seperti ini dilakukan pelaku lain dengan berdalih sebagai debt collector. ”Kami masih mengejar seorang pelaku berinisial S yang diduga sebagai otak dalam kejahatan ini,” kata Burhanudin didampingi Kasat Reskrim AKBP Sugiarto.

Burhanudin menyampaikan, bagi masyarakat yang merasa pernah menjadi korban perampasan serupa, bisa mengecek di Mapolrestabes Semarang dan mengambil motor secara gratis. ”Silakan menunjukkan surat bukti-bukti kepemilikan kendaraan dan identitas diri, jika sesuai, motor bisa diambil secara gratis,” ujarnya. (amu/aro/ce1)