Pasar Johar Dipertahankan, Pasar Yaik yang Dipugar

445

 

Konsep Pasar Johar menjadi pasar tradisional yang tertata rapi rancangan Bambang Supriyadi pernah menjuarai sayembara pembuatan desain Pasar Johar yang digelar Pemkot Semarang pada 2010 silam. Bagaimana nasibnya sekarang?

EKO WAHYU BUDIYANTO

KEBAKARAN hebat, Sabtu (9/5) malam lalu, membuat kondisi Pasar Johar luluh lantak. Bangunan cagar budaya tersebut kini dipenuhi arang dan abu sisa kebakaran. Pasar yang dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Kartsen tersebut kini harus dilakukan revitalisasi.

Pada 2010 silam, Bambang Supriyadi, dosen Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) pernah memenangkan sayembara pembuatan desain revitalisasi Pasar Johar. Saat ditemui di kediamannya kemarin, ia membeberkan soal konsep bangunan Pasar Johar yang dirancangnya tersebut.

”Ada yang menginginkan Pasar Johar lama diubah. Kalau saya tidak. Tentu dengan berbagai pertimbangan. Thomas Kartsen membuat Pasar Johar sangat teliti dan cermat. Umumnya arsitek Belanda pada saat itu memiliki kemampuan teknik yang lengkap. Bukan hanya soal arsitekturnya, tetapi bagaimana sisi penerangannya, ventilasi udara, dan suasananya, mereka sangat cermat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, arsitek kekinian sudah mulai melihat dan mempraktikkan kecermatan seperti apa yang dilakukan oleh Thomas Kartsen. Jika dilihat dari segi kemampuan, arsitek sekarang tidak jauh berbeda. Hanya karena mungkin terbentur oleh waktu. Kios-kios yang terdapat di pinggir bangunan Pasar Johar pada awalnya tidak ada.

”Pasar Johar itu asal-muasalnya di tepinya tidak diperuntukkan kios. Tapi, karena perkembangan kebutuhan dan perkembangan jumlah pedagang, akhirnya semua lahan dipenuhi kios. Akibatnya, ruang yang semestinya tidak boleh dibangun kios, semua digunakan. Termasuk jalan untuk pembeli sekarang menyempit. Padahal dulu lebar. Dampak dari hal itu besar sekali, ketika tertutup oleh kios. Ruangan menjadi gelap, komoditi yang disajikan menjadi tidak rapi dan berantakan,” bebernya.

Sayembara desain yang pernah ia menangkan saat itu berpijak kepada beberapa hal. Di antaranya, Pasar Johar harus dikembalikan ke arsitektur awalnya. Juga sebagai tempat yang menyenangkan bagi warga pergi ke pasar tradisional.

Menurutnya, bagaimanapun juga revitalisasi Pasar Johar harus berorientasi pada pedagang. Karena pedagang yang sudah berkembang sedemikian rupanya, kini tidak mungkin untuk dikurangi.

”Sehingga ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain bangunan utama Pasar Johar harus dipertahankan, jumlah pedagang juga harus dipikirkan. Dalam sayembara, saya usulkan pemugaran di Pasar Yaik Permai, karena itu bukan bangunan cagar budaya. Pasar Yaik Permai hanya bangunan fungsional yang berguna untuk menampung. Dan itu pun sebenarnya bagian dari Alun-Alun Semarang dulunya,” tuturnya.

Sehingga, lanjutnya, jika menggunakan lahan Pasar Yaik Permai, meskipun sedikit ada ruang terbuka yang menggantikan romantisme masa lalu. Hal itu dilakukan hanya untuk membawa masyarakat untuk mengingat kembali tentang tempo dulu.

”Pada sayembara itu saya juga mengusulkan ada klasifikasi. Jadi, yang menjadi ukuran di mana pedagang mendapatkan tempat kiosnya seberapa lama ia di situ. Itu yang digunakan untuk seleksi. Jika sudah menghuni lama ia mendapat prioritas. Jika baru setahun-dua tahun, ia harus menerima situasi urutan paling bawah,” ungkapnya.

Ketradisionalan Pasar Johar haruslah tetap menjadi prioritas, karena pada hakikatnya Pasar Johar itu bukan pasar modern. Revitalisasi Pasar Johar yang dapat menelan biaya sangat besar jika dibebankan kepada pemerintah sangatlah berat.

”Apalagi situasi sekarang. Kalau itu dibebankan bantuan ABPD ataupun APBN sangat berat. Kalau ada pihak ketiga yang mau dan punya dedikasi, bukan yang berorientasi pada keuntungan itu bisa dilakukan. Jadi, dia (pihak ketiga) punya niat baik untuk berperan di dalam membantu pemerintah membangun untuk fasilitas masyarakat banyak, baru bisa dilakukan,” tuturnya.

Dari sisi luas yang harus dibangun kemudian komoditi yang dijual, menurutnya, tidak akan menguntungkan investor. Oleh karenanya, pemerintah harus dengan cermat memilih investor yang benar-benar memiliki dedikasi.

”Dulu saya belum menghitung secara rinci, karena pada sayembara itu ada keterbatasan waktu. Kemudian saya mengusulkan untuk dibangun 4 sampai 5 lantai. Kemudian untuk komoditi yang atraktif, menarik. Membagi komoditi juga perlu dipertimbangkan betul. Jadi letak pedagang itu jelas,” katanya.

Dari survei bisa terlihat, komoditi apa yang tidak disukai dan disukai oleh masyarakat. Kemudian ia juga mengusulkan ada festival market. Saat tertentu ada di Pasar Johar ada jalur besar yang dapat dibuka lebar, harapannya pada hari-hari biasa dapat untuk lalu lintas dan sirkulasi.

Sebulan sekali bisa digelar festival kuliner maupun festival budaya, itu bisa menghidupkan Pasar Johar. Pembangunan Pasar Johar ke depan tidak hanya berorientasi pada bidang ekonomi, tetapi harus mempertimbangkan roh dari Pasar Johar itu sendiri, yakni aspek kultural dan sosial. Karena pasar tradisional lebih kepada kehidupan sosial masyarakat dan kultural.

Jadi di dalam pasar tersebut, manusia bisa merasakan kalau dia itu manusia ya kalau di dalam pasar tradisional. Di sana mereka dapat berinteraksi. Tidak seperti di pasar modern yang semua serbacepat dan serbamesin,” ujarnya.

Ia juga mengusulkan pembangunan Pasar Johar harus menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Baik dari sisi pengolahannya, dan sisi pembiayaannya. Jika Pasar Johar harus berubah menjadi pasar modern, ia juga sangat tidak setuju.

Dikatakan Bambang, setelah pasar yang menjadi ikon Kota Semarang itu terbakar, pihaknya hingga kini belum dihubungi oleh pihak pemkot terkait rencana revitalisasi.

”Belum pernah dihubungi oleh pihak pemkot. Dulu, setelah saya memenangi sayembara, banyak kepala dinas yang sering berdiskusi sama saya perihal pembangunan Johar ke depan. Namun kembali lagi terbentur masalah biaya,” tandasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan kalau desain Pasar Johar hasil sayembara tersebut sudah tidak bisa dipakai. Sebab, kondisi fisik pasar sudah berbeda. Artinya, saat desain itu dibuat, konstruksi cagar budayanya memungkinkan untuk dikembangkan lagi, namun sekarang semua konstruksi sudah terbakar.

”Dari hasil pembicaraan, kita harus realistis. Desain yang dulu kondisinya berbeda dengan sekarang. Saat itu cagar budaya harus dikembangkan untuk jadi lebih baik, konstruksi juga sudah siap dikembangkan. Tapi kalau yang sekarang ini, setelah terkena efek kebakaran kita tidak tahu kondisinya, apakah konstruksi yang lama kuat atau tidak jika dikembangkan. Sehingga perlu sebuah perhitungan ulang. Kita tidak boleh gegabah,” ujarnya. (*/aro/ce1)