Belajar Pembangunan Daerah Tentang Pariwisata, Pilkada, hingga Raperda Desa Adat

631
TERIMA CINDERAMATA: Wakil Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet (kiri) menerima cinderamata dari pimpinan DPRD Kabupaten Badung, Provinsi Bali usai kunker. (DOK DPRD DEMAK FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERIMA CINDERAMATA: Wakil Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet (kiri) menerima cinderamata dari pimpinan DPRD Kabupaten Badung, Provinsi Bali usai kunker. (DOK DPRD DEMAK FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Anggota DPRD Kabupaten Demak mengadakan kunjungan kerja (kunker) ke beberapa daerah di Provinsi Bali mulai 7 sampai 10 Maret 2015 lalu. Kunker gabungan Komisi A, B, C dan D dilakukan ke DPRD Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan ke DPRD Kota Denpasar.

WAHIB PRIBADI, Demak

KUNKER bertujuan untuk menambah wawasan, dan referensi terkait bidang infrastruktur jalan, sistem lelang kegiatan dan penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) dibidang Pariwisata. Kunker dipimpin Ketua DPRD Demak H Nurul Muttaqin, Wakil Ketua DPRD H Fahrudin Bisri Slamet dan Wakil Ketua DPRD H Budi Ahmadi. Selain itu, diikuti Ketua Komisi A Sunari, Ketua Komisi B H Muntohar, Ketua Komisi C H Sudarno dan Ketua Komisi D KH Nurullah Yasin.

Saat tiba di DPRD Kabupaten Badung, rombongan anggota DPRD Demak diterima Wakil Ketua II I Made Sunarta diruang rapat DPRD Kabupaten Badung. Di daerah ini, DPRD Demak ingin belajar banyak soal pengelolaan sektor ekonomi dan pariwisata. ”Kunker ini penting untuk referensi dalam mendorong pembangunan di Demak,” kata Wakil Ketua DPRD Demak, Fahrudin Bisri Slamet, kemarin.

Ia menambahkan, berdasarkan data yang diperoleh saat kunker, Kabupaten Badung sejak 2003-2007 selalu mengalami peningkatan PDRB setiap tahunnya. PDRB Badung pada 2007 sebesar Rp 9,7 miliar (harga berlaku), dan sebesar Rp 4,8 miliar (harga konstan). Karena itu, kinerja perekonomian Kabupaten Badung hingga 2007 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 16,92 persen (harga berlaku) dan sebesar 6,34 persen (harga konstan) untuk tiap tahun. ”Distribusi sektor paling menonjol disana adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 45,19 persen. Disusul kemudian angkutan dan komunikasi sebesar 25,17 persen dan sektor pertanian 9,01 persen,” imbuhnya.

Sementata endapatan perkapita penduduk pada 2007 sebesar Rp 21,56 juta (harga berlaku) dan Rp 11,91 juta (harga konstan). ”Angka ini adalah angka terbesar se Provinsi Bali,”katanya. Di Badung, obyek wisata sangat banyak sehingga menjadi andalan daerah tersebut. Diantaranya, Tanjung Benoa dan Pantai Kuta dan lainnya. Fahrudin Slamet menambahkan, di Badung, pemanfaatan potensi alam yang memiliki nilai keindahan untuk mengembangkan jasa pariwisata menjadi keunggulan dan bersifat jangka panjang. ”Pengelolannya memperhatikan aspek-aspek konservasi alam seperti misi di bidang Palemahan,” tambahnya.

Saat kunker ke DPRD Kabupaten Gianyar, anggota DPRD Demak juga banyak mendapatkan referensi pembangunan daerah. Seperti bidang pariwisata, pengelolaan pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Selain itu, ngangsu kaweruh terkait persiapan pilkada serentak.Untuk persiapan Pemilukada di Kabupaten Gianyar, masyarakat yang tergabung dalam Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (PERLUDEM) bekerjasama dengan KPU Provinsi Bali menyelenggarakan pelatihan data pemilu untuk penyelenggara pemilu dan LSM. Pelatihan data ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operator data di jajaran KPU Bali dalam hal pengolahan data pemilu hingga tingkat kabupaten/kota. Soal Perda tentang desa, DPRD Gianyar menunda putusan Raperda penetapan pilihan desa adat yang diajukan Bupati Gianyar. Pembahasan terkait pilihan masih memerlukan kajian yang lebih matang. Penundaan terkendala karena ada perbedaan jumlah desa.

Desa adat yang diajukan dalam Raperda belum sesuai dengan jumlah desa adat di Gianyar sekarang ini. Dalam Raperda yang diajukan Bupati Gianyar terdapat 70 desa adat yang akan didaftarkan ke UU Desa. Itu sesuai dengan jumlah desa dinas/kelurahan di Gianyar. Sedangkan di Gianyar terdapat 272 desa adat, maka sebanyak 202 desa adat akan terancam tidak terdaftar. “Sedangkan, untuk pariwisata di Gianyar ternyata tidak bisa dipisahkan dengan seni dan budaya. Sebab, pertanian, agama, budaya dan seni di Bali merupakan cikal bakal pariwisata,” kata Ketua DPRD Demak H Nurul Muttaqin.

Ia menambahkan, pemerintah Kabupaten Gianyar mengembangkan program pariwisata berbasis desa pekraman. Di mana desa pekraman merupakan benteng dalam pelestarian agama, budaya dan seni di Bali. Di DPRD Kota Denpasar, DPRD Demak belajar tentang pengembangan ekonomi, kebersihan dan pertamanan. Pemerintah setempat berani berinvestasi untuk mendapatkan keindahan wajah kota yang lebih baik. Misalnya, pembuatan trotoar dari bahan granit, membuat taman-taman kota baru yang lebih asri pada lapangan-lapangan yang ada dan masih tampak gersang serta kurang tertata.”Mereka juga telah membuat terobosan dan kelola menajemen sampah yang baik. Tidak lagi ada depo sampah yang isinya berserakan di jalan-jalan,” tambah Wakil Ketua DPRD Demak, Budi Ahmadi.

Di Kota Denpasar, pemerintah selalu mencari terobosan dan inovasi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang makin parah. Selain itu, ditegakkan aturan penggunaan jalan sesuai dengan peruntukan jalan dan aturan lainnya yang berlaku. Seperti penyewaan kendaraan dan show room kendaraan di tepi jalan. ”Pariwisata menjadi penyumbang PAD terbesar di Kota Denpasar sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Kita pun berharap, hasil kunker DPRD Demak ke Bali ini bisa menjadi rujukan untuk membangun Kabupaten Demak lebih baik lagi,” tambahnya. (*/adv/fth