Hak Dasar Anak Harus Terpenuhi

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KAJIAN MENDALAM: Suasana FGD membahas program Sekolah Lima Hari di Press Room, Gubernuran Jateng. Hadir para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan wacana tersebut. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KAJIAN MENDALAM: Suasana FGD membahas program Sekolah Lima Hari di Press Room, Gubernuran Jateng. Hadir para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan wacana tersebut. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pelaksanaaan sekolah lima hari yang diwacanakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu masih perlu dikaji secara mendalam. Pasalnya, program tersebut diharapkan memberikan banyak manfaat serta tidak memberatkan anak dalam mendapatkan pendidikan di sekolah.

Hal itu terungkap dalam focus group discussion (FGD) yang digelar Jaringan Jurnalis Perempuan (JJP) di Press Room Gubernuran, Senin (18/5). Hadir sebagai pembicara Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jateng Sri Kusuma Astuti, praktisi sekaligus pengamat pendidikan Sekolah Alam Ar-Ridho, Mia Inayati Rahmaniya, Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kurikulum Dinas Pendidikan Jateng Bambang Sutiyono. Turut hadir pula Wakil Ketua DPRD Jateng Ahmadi dan anggota Komisi E DPRD Jateng Muh Zen Adv.

Sri Kusuma Astuti menjelaskan, pelaksanaan sekolah lima hari harus mengarah pada sekolah ramah anak. Dalam hal ini empat hak dasar anak harus terpenuhi. Yaitu hak tumbuh kembang, partisipasi, hak hidup, dan hak mendapatkan perlindungan. Menurutnya, pendidikan yang diberikan harus tidak membebani waktu belajar siswa.

”Jangan sampai kalau sudah dipadatkan sampai sore, kemudian Sabtu libur malah dipakai buat les. Itu tidak benar. Orang tua juga harus siap mendukung kebijakan ini dengan tidak membiarkan atau malah memperbantukan anak untuk mencari nafkah,” ungkapnya.

Kusuma menegaskan, sebelum diberlakukannya kebijakan ini perlu dilakukan kajian langsung terkait perbedaan sekolah yang telah menerapkan lima hari dan belum menerapkannya. Sehingga dapat mengarahkan anak untuk kegiatan-kegiatan yang positif untuk perkembangan mereka. ”Kalau enggak ya sama saja. Hak-hak dasar mereka tidak terpenuhi,” imbuhnya.

Mia Inayati Rahmaniya menambahkan, untuk mendukung program lima hari sekolah, kualitas waktu pertemuan anak dengan orang tua perlu ditambah, agar pendidikan dalam keluarga dapat berjalan optimal. Jangan sampai orang tuanya justru sibuk saat sekolah lima hari diterapkan. ”Orang tua ketika di rumah harus intens menjaga anak dari hal-hal yang rawan. Jangan malah memberikan gadget yang bisa digunakan untuk akses internet ke mana-mana,” imbuhnya.

Di era sekarang ini, lanjut Mia, orang tua perlu memberikan pendekatan kekinian. Anak 12 tahun ke bawah minimal harus bertemu orang tua setengah jam tanpa disambi hal lain. Sedangkan 12 tahun ke atas perlu minimal 3 jam dalam seminggu untuk bersama. ”Ini yang perlu diperhatikan para stakeholder. Wali murid juga perlu tahu. Tidak hanya sekolah saja yang membuat kurikulum tapi juga keluarga,” tandasnya.

Sementara itu, Bambang Sutiyono mengatakan, wacana sekolah lima hari sebenarnya telah mencuat sejak era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh. Menurutnya, hal itu diperkenankan asal subtansinya tidak mengubah dari tujuan awal pendidikan. ”Maka dari itu, dalam piloting project nanti akan dikaji dan dievaluasi pelaksanaannya. Karena banyak masukan jika program lima hari sekolah hanya dirasakan manfaatnya untuk sekolah di kota besar saja,” ujarnya.

Bambang mengakui, pelaksanaan dua kurikulum yang berlaku saat ini memang telah membuat jadwal pembelajaran di sekolah padat. Dalam Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) saja, jam belajar anak SMA 38 jam, dan SMK 48 jam. Sementara, dalam Kurikulum 2013 (K13) jam belajar SMA menjadi 47 jam, dan SMK 51 jam.

”Kami telah membuat simulasi jadwal pelajaran untuk SMA dan SMK. Untuk hari Senin-Selasa dimulai pukul 07.00-16.15, Rabu-Kamis pukul 07.00-15.30 sedangkan Jumat pukul 07.00-11. Untuk SMK jam pulangnya ditambah satu jam untuk Senin-Kamis,” terang Bambang. (fai/ric/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -